Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 20


__ADS_3

Chapter 20🌹


Vie kemudian terdiam, dia hanya larut dalam pikirannya sendiri.


" Apa mungkin itu adalah laki-laki yang pernah bertemu denganku? " Gumamnya dalam hati, kemudian dia dikejutkan suara Melva yang berpamitan hendak menemui Arga di ruangannya.


Vie dan Namira hanya menganggukkan kepalanya, Mereka berdua hanya menatap kepergian Melva dari ruangannya itu,Melva kemudian memasuki lift dan menuju ke lantai atas di mana ruangan Arga berada, sesampainya di lantai atas dia pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan kerja Arga, Melva mengetuk pintu ruangan tersebut, terdengar dari dalam suara menyuruh dia untuk masuk, pintu terbuka kemudian Melva melangkah mendekati Arga yang berada di meja kerjanya sembari menatap layar laptopnya tersebut.


" Ada apa?"


" Maaf Pak,ini adalah catatan dari dokter Vie dia ingin dibelikan obat yang ada di dalam kertas ini, karena obat yang ada di ruangan klinik banyak yang sudah lewat dari tanggalnya." ucap Melva menyerahkan kertas lembaran yang sudah banyak bertulisan tentang nama-nama obat yang diperlukan di klinik Vie.


Arga sejenak membacanya, namun sebenarnya dia kurang jelas karena tulisan itu adalah tulisan seorang dokter.


" Baiklah aku akan menemui dokter itu dan meminta dia menulis ulang lagi, karena aku tidak mengerti dengan tulisan dia ini." ucapnya sembari menatap ke arah Melva, dan dia hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia berpamitan dengan Arga.


Arga menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian Melva, Arga kembali melihat tulisan Vie.


" Kok bisa ya seorang dokter ini menulis seperti ini, aku saja tidak paham, pantesan aja seorang dokter itu sangat hebat dan kerjanya juga tangkas selalu menjadi Garda terdepan bagi sebuah rumah sakit, karena dia adalah tonggaknya rumah sakit." ucapnya kemudian dia pun berdiri sembari melangkah meninggalkan ruangannya membawa lembaran kertas yang sudah diberikan oleh Melva padanya, Dia kemudian turun ke lantai 2 di mana ruangan Vie berada.


" Kak, kakak tunggu sebentar di sini ya, Namira sakit perut banget." ucapnya sembari dianggukan oleh Vie dia pun kemudian menuju ke arah toilet yang sudah disediakan di dalam ruangan tersebut, Vie yang asik memasukkan obat yang sudah tidak terpakai ke dalam dus sampah tersebut terkejut mendengar ketukan di pintu ruangannya itu.


" Ya, sebentar..." ucapnya sembari menggerakkan roda kursinya tersebut menuju ke arah pintu.


Saat mereka berdua bertemu dan beradu pandang Vie terkejut, Begitu juga dengan Arga.

__ADS_1


Arga tidak berkedip melihat Vie, begitu juga dengan Vie yang tidak sama sekali mengedipkan matanya, seakan-akan mereka berdua berbicara melalui tatapan bola matanya.


Vie kemudian sadar, dia pun lalu tersenyum pada Arga.


" Maaf Pak Ada yang bisa saya bantu?"


Arga yang kali kedua bertemu dengan Vie itupun kemudian menyembunyikan kertas tersebut dan langsung memasukkannya ke saku celananya, dia pun langsung menuju ke arah ranjang periksa.


" Saya merasa dada Saya sakit, Saya mau minta tolong pada bu dokter untuk memeriksa saya." ucap Arga tersenyum.


Vie terlihat kaku, namun dia langsung menggerakkan kursi rodanya kembali menuju ke arah Arga yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang periksa, sebenarnya Arga berusaha menenangkan debaran jantungnya tersebut, Begitu juga dengan Vie, karena ini adalah kali kedua Vie bertemu Arga, dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Arga dan tebakannya pun tidak meleset, laki-laki yang ada di hadapannya ini yang dilihatnya saat di taman dan di dalam layar televisi saat dia menunggu di ruangan lobby.


Antara tegang dan gugup Vie pun langsung melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokterz memeriksa seseorang yang mengeluhkan rasa sakitnya tersebut.


Vie kemudian mengarahkan alat periksanya ke dada Arga, dan Dia pin tersentak mendengar tegyran Arga padanya.


" Bajunya nggak dibuka dok? seharusnya kan kalau diperiksa itu bajunya dibuka.?" ucap Arga tersenyum sembari menyentuh tangan Vie, dan Vie reflek langsung menarik tangannya,Vie hanya tersenyum, terlihat rona merah di wajahnya, karena kegugupan melandanya, padahal dia sudah bertemu dengan Arga waktu di taman dan saat bertemu pertama kali, tapi dia tidak merasakan kegugupan sedahsyat ini.


" Kalung itu?"


Sontak membuat Arga terkejut, dia pun kemudian menatap ke arah Vie dan menghentikan aktivitasnya.


Arga kemudian meraba kalung yang ada di lehernya tersebut dia kemudian menatap kearah Vie.


" Bu dokter mengenali kalung ini.?"


Vie tertunduk sembari bergumam dalam hatinya.

__ADS_1


" Kalung itu sangat mirip sekali dengan kalung yang diberikan oleh Ayah dan Bunda waktu itu, sebagai hadiah ulang tahunku, karena aku sempat melihat kalung itu dan belum sempat aku memakainya."


" Bu dokter..." panggil Arga sembari arga bangun dari tidurnya tersebut dan duduk di bibir ranjang periksa sambil menatap ke arah Vie yang masih menundukkan kepalanya.


" Bu dokter..." panggil Arga untuk yang kedua kalinya, Vie pun kemudian menghapus air matanyaz karena dia tidak merasa kalau buliran bening itu mengalir begitu saja di pipi mulusnya.


" Oh iya pak maaf."


" Apakah bu dokter mengenali kalung ini ?" tatap lekat Arga pada Vie, karena dia melihat air mata yang masih tersisa di kedua bening bola matanya itu.


" Oh, enggak... nggak Pak, mari kita lanjutkan untuk memeriksanya, katanya tadi Bapak merasa sakit dibagian dada."


" Tidak ada apa-apa, sepertinya dada Saya sudah tidak sakit lagi dok, karena sudah saya ajak rebahan tadi." ucapnya, kemudian dia turun dari tempat tidur periksa itu, sembari merogoh saku celananya dan mengeluarkan catatan dari Vie.


" Maaf bu dokter, karena profesi saya tidak sebagai seorang dokter, jadi saya tidak terlalu paham dengan tulisan bu dokter ini, bisa tidak kalau saya meminta bu dokter untuk menulisnya agar saya bisa membacanya dan mengetahui obat apa saja yang diperlukan." ucap Arga.


Vie lalu mengambil kertas yang ada di tangan Arga, dia pun menganggukkan kepalanya.


" Saat kita bertemu kemarin saya tidak lupa memperkenalkan diri saya."


" Saya sudah tahu Pak."


" Tahu dari mana bu dokter?"


" Dari Melva, karena Bapak adalah pimpinan di perusahaan ini, maafkan saya kemarin ya Pak, karena saya bapak jadi memungut benda yang sudah jatuh ke tanah."


" Tidak apa-apa, Masa iya sih saya tidak bisa memungut benda yang jatuh ke tanah, memangnya saya terbuat dari apa, sehingga saya tidak boleh membantu orang lain." ucapnya sembari tersenyum beberapa saat Vie mencatat semua yang diperlukannya di dalam klinik tersebut, kemudian dia menyerahkan kembali selembar kertas yang sudah terlihat jelas tulisannya dan mampu dibaca oleh Arga, Arga melihat sesaat obat-obat yang sudah dituliskan oleh Vie di dalam lembar kertas tersebut, dia hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia tersenyum.

__ADS_1


Arga kemudian menatap lekat ke arah Vie, Vie yang merasa di tatap oleh Arga pun terlihat sangat salah tingkah, dia membuat agar dirinya terlihat sibuk, tapi sayangnya dia tidak bisa menyembunyikan rasa salah tingkahnya itu Arga pun tersenyum.


" Kamu pasti ada hubungannya dengan kalung yang aku pakai ini, tapi kamu tidak mau menceritakannya padaku, tapi aku akan sabar menunggu kamu mengakui kalau kalung ini adalah milikmu." ucapnya sembari tersenyum lebar ke arah Vie yang hanya menundukkan kepalanya itu.


__ADS_2