Perjalanan Cinta 3 Pria Psycophat

Perjalanan Cinta 3 Pria Psycophat
Pertemuan Ronald Dengan dokter Clarisa


__ADS_3

Dua perawat mendorong brankar dimana Karen sedang berbaring. David mengikuti dari arah belakang sedangkan Federick berjalan mengikuti dokter Sandra di ruang prakteknya.


Kini David duduk di ranjang sambil menggenggam tangan Karen.


" Aku tidak tahu ketika aku mendengar detak jantungmu berhenti hatiku sangat ketakutan. Takut kamu pergi meninggalkanku selamanya. Apakah aku sudah mulai mencintaimu?" ucap David lirih


" Aku merasa yakin kamulah yang membantuku kemarin malam dan juga ke dua sahabatmu. Tapi untuk apa membantuku padahal aku sering melukaimu." sambung David


" Di satu sisi kuakui hatiku terasa sakit ketika melukaimu tapi di sisi lainnya dendam ku pada orangtuamu sangat besar sehingga menutup hatiku untuk melukaimu." sambung David kembali.


ceklek


Pintu ruangan terbuka tampak asisten setianya berjalan ke arah David.


" Bagaimana sudah menemukannya?" tanya David tanpa basa basi


" Maaf tuan rekaman cctv nya rusak dan satu perawat yang membawa makanan dan minuman yang mengandung racun meninggal di dalam lorong yang tidak ada rekaman cctv." ucap Ronald menjelaskan


" Sial, ternyata ada niat orang itu ingin membunuhku. Selidiki lagi siapa orangnya akan aku siksa dengan cara mengelupas kulitnya sampai habis hingga dia merasakan sakit di seluruh tubuh nya dan akhirnya mati." ucap David


" Baik tuan, saya akan menyelidiki kembali." ucap Ronald.


tok tok tok


Pintu terbuka tampak dua dokter cantik dan seksi masuk ke dalam bersama seorang pria siapa lagi kalau bukan dokter Sandra, dokter Clarisa dan Federick sambil mendorong troli yang berisi makanan.


" Kenapa bawa makanan di sini?" tanya David bingung begitu pula dengan Ronald.


" Aku dan Clarisa membuat masakan buat sahabatku Karen dan juga buat tuan - tuan kalau tuan bersedia." ucap dokter Sandra


" Tenang saja kami tidak mungkin kasih racun karena sahabat tuan kak Federick melihat kami berdua memasak." sambung dokter Sandra


" Tidak aku percaya kebetulan memang kami sudah lapar." ucap Ronald


" Kalian makanlah, aku menunggu istriku sadar." ucap David


" Sebentar lagi Karen sadar tuan karena efek obat biusnya akan hilang." ucap dokter Clarisa.


" Jangan panggil aku tuan, panggil namaku David." ucap David


" Tidak sopan bagaimana kalau kak David." tanya dokter Sandra


" Terserah." ucap David


" Ok. Boleh kenalan tuan? saya Sandra sahabat Karen" tanya dokter Sandra sambil memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan kanannya.


" Panggil saja Ronald." ucap Ronald tanpa membalas uluran tangannya.


Dokter Sandra tersenyum dan menurunkan tangannya.

__ADS_1


" Kalau saya Clarisa sahabatnya Karen." ucap dokter Clarisa memperkenalkan dirinya sambil mengangkat tangan kanannya.


" Ronald." jawab Ronald dengan nada dingin.


Ronald juga sama tidak menanggapi uluran tangan dokter Clarisa. Clarisa hanya tersenyum dan menurunkan tangannya kembali.


" Ayo kita makan sayang." ajak Federick sambil menarik tangan dokter Sandra.


" Sayang?" tanya ulang mereka serempak yang berada di ruang perawatan Karen.


Dokter Sandra hanya tersenyum malu.


" Oh iya maaf aku lupa memberitahukan kalau dokter Sandra dan aku adalah pasangan kekasih." ucap Federick memperkenalkan diri ke sahabatnya dan juga sahabat dokter Sandra.


" Sejak kapan?" tanya dokter Clarisa


" Tadi pagi." jawab Federick


" Temanmu kak Ronald masih jomblo tidak?" bisik dokter Sandra


" Kamu sudah jadi kekasihku, apakah kamu ingin mencari cadangan?" bisik Federick sambil menatap tajam ke arah dokter Sandra.


cup


Dokter Sandra mengecup singkat bibir Federick.


" Kalau jomblo mau aku jodohin sama sahabatku kebetulan sahabatku juga jomblo." bisik dokter Sandra kembali.


" Makanya cari pacar." ucap Ronald ketus.


" Memangnya kak Ronald sudah punya pacar? tapi aku tidak yakin." ucap dokter Clarisa.


" Kenapa ngga yakin?" tanya Ronald bingung


" Karena kak Ronald dingin kayak es batu mana mau orang dekat sama kak Ronald." ucap dokter Clarisa


Ronald menatap tajam ke arah dokter Clarisa dan dokter Clarisa tidak takut malah membalas dengan tatapan tajam juga.


" Hati - hati nanti matanya copot." ledek dokter Sandra.


" Pffttttt.." Federick menahan tawa karena mengingat dirinya berada di rumah sakit.


" Kita makan saja yuk." ajak dokter Clarisa sambil memalingkan wajahnya.


Mereka setuju kecuali David karena masih menunggu Karen tersandar. Mereka berempat duduk saling berhadapan. Dokter Sandra duduk di sofa bersebelahan dengan Federick sedangkan Ronald duduk bersebelahan dengan Clarisa.


Dokter Sandra mengambilkan makanan dan diberikan oleh kekasihnya kemudian baru dirinya.


" Mau aku ambilkan?" tanya dokter Clarisa menawarkan diri.

__ADS_1


" Tidak usah, aku mempunyai tangan sendiri." ucap Ronald dengan nada ketus.


Dokter Clarisa hanya mengangkat ke dua tangannya sambil ke 10 jarinya di tekuk.


" Mau apa kamu?" tanya Ronald sambil menatap tajam ke dokter Clarisa


" Tidak ada apa." ucap dokter Clarisa.


Ronald tidak menanggapinya seakan tidak perduli. Ronald mengambil makanan begitu pula dengan dokter Clarisa. Mereka makan dalam diam, tanpa sadar Federick dan Ronald makannya nambah membuat ke dua gadis itu tersenyum melihatnya.


" Kenapa kalian berdua tersenyum?" tanya Ronald dan Federick bersamaan ketika makanan dalam mulutnya sudah habis.


" Kami senang pada nambah." ucap dokter Sandra dan dokter Clarisa.


" Makanannya enak, kalau aku kerja bawakan aku makan siang ya?" pinta Federick


" Ok nanti aku antar ke kantormu atau aku akan meminta seseorang jika aku sedang ada operasi." ucap dokter Sandra.


" Terima kasih sayang." ucap Federick sambil mengacak rambut dokter Sandra.


Dokter Sandra hanya tersenyum begitu pula dengan Federick membalas senyuman kekasihnya.


" Kalau menurutku makanan ini biasa saja." ucap Ronald santai


" Kalau biasa saja kok nambah." ledek dokter Clarisa.


" Terpaksa dari pada tidak di makan." ucap Ronald dengan nada santai.


" Ingin rasanya sambal itu aku masukkan ke mulutnya." gumam dokter Clarisa


Walau pelan ucapan dokter Clarisa tapi masih bisa di dengan oleh Ronald. Ronald menatap tajam ke arah dokter Clarisa.


" Semoga ke selek." umpat dokter Clarisa sambil membalas menatap tajam.


uhuk uhuk uhuk uhuk


Ronald yang mendengar umpatan dokter Clarisa langsung terbatuk - batuk dan tanpa sadar langsung mengambil minuman milik dokter Clarisa.


" Akhirnya doaku dikabulkan." ucap dokter Clarisa sambil tersenyum


" Kamu mengumpat ku ya? sampai aku ke selek begini." omel Ronald


" Iya memang, habis kak Ronald jadi laki - laki sangat menyebalkan dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi." ucap dokter Clarisa.


" Idih siapa yang mau bertemu denganmu lagi." ucap Ronald.


" Kalian berdua bisa diam tidak sich kalau makan. Apa perlu kalian aku nikahin." omel David


" Idih amit - amit." jawab mereka serempak

__ADS_1


Federick dan dokter Sandra hanya tertawa melihat kelucuan mereka sedangkan David menatap tajam ke arah mereka. Akhirnya merekapun diam sambil menghabiskan makanan yang berada di piring hingga tandas tidak tersisa.


__ADS_2