
" Masukkan ke dalam mobil dan bakar mobilnya." perintah pria paruh baya itu dengan muka bengisnya.
" Baik tuan." jawab mereka serempak.
Baru saja menyentuh tubuh dokter Sandra terdengar suara menggelegar.
" Jangan menyentuh tubuh istriku!!!!" bentak Federick dengan tatapan iblisnya yang sudah lama tidak keluar. Matanya yang awalnya berwarna biru berubah menjadi merah.
Federick berjalan seorang diri sambil tangan kanannya membawa pisau lipat yang sangat tajam. Federick berjalan ke arah mereka dan langsung memotong leher mereka seperti memotong ayam secara membabi buta dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarik rambut mereka.
sretttt
Akhhhh
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
Satu persatu mati mengenaskan dengan kepala dan badannya terpisah. Federick melempar kepala orang yang sudah terputus tersebut ke arah mereka dan mengenai badan mereka. Mereka yang memegang kepala temannya berteriak ketakutan dan melemparnya di jalan.
sretttt
Akhhhh
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
Teriakan kesakitan dan berujung kematian mereka menggema membuat teman - temannya merinding ketakutan. Federick berjalan dengan santai sambil memotong leher mereka hingga tersisa 4 orang dan satu pemimpinnya.
" Dasar psycophath gila." teriak pria paruh baya.
Federick tidak memperdulikan ucapan pria paruh baya itu pandangan nya ke arah dokter Sandra yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar masih keluar dari mulut, hidung, kepala dan sela - sela pahanya. Federick menatap tajam ke arah paruh baya dan mendekatinya tapi di hadang oleh ke 4 anak buahnya yang sudah mulai gemetar karena semua temannya mati dengan cara mengenaskan.
sretttt
akhhhh
__ADS_1
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
Kini tinggallah pria paruh baya yang tersisa, pria paruh baya tersebut sangat terkejut semua anak buahnya mati semua dengan cara mengenaskan.
" Maafkan aku, aku berjanji tidak akan menyakiti istrimu." mohon pria paruh baya itu.
"Tidak akan aku maafkan, aku tidak tahu apa istriku masih hidup atau tidak yang pasti siapapun yang menyentuh untuk menyakiti orang yang kusayangi harus mati." ucap Federick dengan tersenyum devil.
sretttt
akhhhh
Pria paruh baya itupun mati mengenaskan dengan kepala dan badan terpisah. Federick berjalan ke arah istrinya dan menggendongnya untuk di bawa ke rumah sakit. Federick mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga hanya membutuhkan kurang dari 15 menit mobil itupun sudah sampai di rumah sakit.
Federick memarkirkan mobil secara asal dan menggendong ke lobby rumah sakit. Dua perawat yang melihatnya langsung membawa brankar dan meminta Federick untuk membaringkan di brangkar. Federick pun perlahan-lahan menaruh tubuh dokter Sandra yang sudah mulai dingin.
Federick menunggu di pintu UGD dengan perasaan tidak menentu. Federick menghubungi asistennya untuk mengurus mayat-mayat yang tergeletak di jalan akibat ulah dirinya yang membunuhnya secara sadis. Selesai menghubungi Federick duduk menunggu di pintu UGD hingga 3 jam lamanya akhirnya dokternya keluar. Federick pun langsung berdiri mendekati dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Federick dengan perasaan kuatir.
" Janin?" tanya Federick ulang.
" Iya, istri tuan sedang hamil untuk mengetahui berapa usia kehamilan tunggu istri tuan tersadar dari komanya." ucap dokter tersebut.
" Baik dokter." jawab Federick
" Apakah saya boleh menengok istri saya?" sambung Federick.
" Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU tapi maaf tuan harus ganti pakaian karena pakaian tuan banyak noda darah." ucap dokter tersebut.
" Baik dok." jawab Federick
Dokter itupun pergi meninggalkan Federick sendirian. Federick menghubungi asistennya untuk membawa pakaian ganti. Selesai menghubungi Federick memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
" Jika istri dan anakku ada apa - apa maka keluarga mu akan aku bunuh semua tidak perduli masih anak - anak ataupun masih bayi." ucap Federick dengan seringai iblisnya.
Federick mengusap wajahnya, bau anyir darah di pakaian Federick merupakan aroma kesukaan Federick. Sebenarnya Federick ingin menyiksanya secara perlahan tapi mengingat kondisi istrinya membuat dirinya mempercepat membunuh mereka satu persatu tanpa memberikan kesempatan untuk bernafas.
Tidak berapa lama datanglah salah satu anak buahnya dan membawakan paper bag, Federick berjalan ke ruang pribadinya karena rumah sakit itu miliknya. Federick melepaskan seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari bau darah yang menempel di tubuhnya.
Kini Federick sudah mandi dan memakai pakaian santai. Federick berjalan ke ruang ICU dan duduk di kursi samping ranjang. Federick menggengam tangan dokter Sandra.
" Maaf gara - gara aku kamu terluka, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu dan mengirim orang - orang untuk menjagamu dari jarak jauh agar kejadian ini tidak akan terulang lagi." ucap Federick lirih.
Tidak terasa air mata Federick keluar hatinya sangat sakit melihat istrinya terluka. Federick membelai lembut perut dokter Sandra kemudian mengecup perut dokter Sandra yang masih rata.
__ADS_1
" Anak daddy harus kuat, Daddy tidak sabar menunggu kelahiranmu." ucap Federick sambil tersenyum.
Karena lelah Federick tertidur di samping ranjang istrinya hingga menjelang sore Federick baru terbangun dari tidurnya.
" Sayang sadarlah aku sangat merindukan suaramu, senyumanmu dan semuanya." ucap Federick lirih sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat dan wajahnya masih ada bekas memar di wajah dan tubuh dokter Sandra.
Dokter Sandra masih terbaring lemah dan koma hingga empat belas hari kemudian Federick masih dengan setia menunggu istrinya dan semua pekerjaan kantornya diurus oleh asistennya. Federick selalu mengajak mengobrol istrinya tanpa mengenal lelah karena dirinya merasa yakin suatu saat nanti dokter Sandra akan tersadar dari komanya.
Dokter Sandra perlahan membuka matanya dan merasakan tangannya terasa berat dan sulit digerakkan. Dokter Sandra melihat suaminya sedang tertidur pulas dengan menggenggam tangan dokter Sandra.
Dokter Sandra melihat suaminya rahangnya sudah dipenuhi bulu - bulu kasar. Dokter Sandra meraba wajah Federick dari mata, hidung, bibir dan terakhir rahangnya. Federick yang sedang tertidur pulas langsung membuka matanya kemudian tersenyum menatap wajah istri yang sangat dirindukannya.
" Sayang sudah sadar? mana yang sakit?" tanya Federick
xxxxx
Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :
Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.
Cinta Satu malam Bersama Mafia
Cinta Satu Malam Bersama Mafia Sension 2
Cinta Pertama Psychopath
Cinta Pertama Mafia.
Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Perjalanan Cinta 3 Pria Psychopath
Dan
Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
xxxxxx
__ADS_1