
Selesai mandi dan berpakaian Karen keluar dari kamar mandi kemudian menyisir rambutnya tanpa memperdulikan kehadiran suaminya.
" Bersiaplah hari ini kita pulang ke kota xxxx." ucap David sambil berdiri dengan melipatkan tangannya ke dadanya.
" Aku ingin tinggal di sini pulanglah sendiri." ucap Karen
" Tidak kamu harus ikut aku pulang." ucap David dengan nada dingin.
Karen membalikkan badannya dan berdiri menatap tajam ke arah suaminya.
" Kenapa aku mesti ikut denganmu?" tanya Karen
" Karena aku masih belum puas untuk menyiksamu." ucap David tanpa dosa.
" Aku tidak yakin honey akan menyiksaku." ucap Karen meremehkan David
plak
David yang melihat wajah Karen yang meremehkan dirinya membuat David menampar pipi kanan Karen hingga sudut bibirnya berdarah membuat tubuh Karen mundur ke belakang. Karen tahu kalau saat ini tempramen suaminya sedang tinggi membuat Karen ingin memancing kemarahan David karena dirinya sudah sangat lelah.
" Aku tidak mau pulang, kalau honey mau pulang, pulanglah sendiri." ucap Karen dengan nada kesal
Plak
David menampar pipi kiri Karen dan Karen hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit di pipinya.
" Jangan pernah memancing kemarahan ku kalau kamu tidak ingin pisau tajam ini menembus kulit putih mu yang mulus." ancam David sambil mengeluarkan pisau lipatnya di balik saku celana panjangnya.
Karen perlahan mendekati suaminya setelah dekat Karen memeluk suaminya membuat suaminya terkejut
jleb
Pisau itupun menusuk di perut Karen dan Karen hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit di perutnya.
" Lakukanlah sesukamu honey jika itu bisa membuatmu puas." bisik Karen sambil tangannya menggengam tangan David yang memegang pisau dan menekannya hingga masuk ke dalam.
Darah segar keluar dari perut Karen membuat mulut Karen mengeluarkan darah tanpa sepengetahuan David karena Karen memeluknya sangat erat.
" Mungkin dengan kematianku bisa membuatmu puas. Jaga dirimu honey semoga honey selalu bahagia." ucap Karen lirih sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit.
Perlahan Karen melepaskan pelukannya dan terjatuh tapi tangan David menahannya. David mendorong tubuh Karen secara perlahan agar David dapat melihat Karen, matanya membulat sempurna karena David melihat mulut Karen mengeluarkan darah segar.
" Apa maksudmu Karen!!" bentak David
" Aku lelah honey aku ingin tidur." ucap Karen berusaha tersenyum dengan nada lirih.
Setelah mengucapkan kalimat terakhir Karen tidak sadarkan diri.
" Hei bangun... bangun.." ucap David sambil mengguncang - guncangkan ke dua bahu Karen dengan menggunakan ke dua tangan David.
Hening
Hening
Tubuh David merasakan basah dan bau darah tercium olehnya membuat mata David diarahkan ke perut Karen yang sudah basah karena darah segar yang tidak berhenti keluar.
David langsung menggendong Karen ala bridal style dan membuka pintu kamarnya untuk keluar bersamaan Ronald keluar dari pintu mobil.
__ADS_1
" Kita ke rumah sakit." ucap David
" Baik tuan." jawab Ronald sambil membuka pintu mobil untuk keluar dan memutar tubuhnya kemudian membuka pintu mobil agar David duduk di kursi belakang pengemudi kemudian menutupnya kembali. Ronald kembali memutar tubuhnya dan membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi kemudian menutup pintu mobilnya kembali.
David mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai di rumah sakit terdekat. Hingga 20 menit perjalanan mereka sudah sampai di rumah sakit. David langsung membuka pintu mobilnya dan keluar sambil menggendong Karen ala bridal style.
" Suster.. suster!!! " teriak David
Para suster membawa brankar kemudian David menurunkan tubuh Karen yang mulai dingin. Dua suster mendorong brankar menuju ke ruang UGD.
"Maaf tuan sampai di sini." ucap suster dengan ramah.
David diam hanya melihat brankar yang dimana Karen sedang berbaring di dorong di ruangan ugd sampai masuk ke dalam bertepatan kedatangan Ronald.
" Tuan kenapa tidak membiarkan nona Karen mati saja." tanya Ronald
" Apa maksudmu Ronald!" bentak David
" Bukankah nona Karen terluka karena ulah tuan David?" tanya Ronald
" Bukan, dia memelukku ketika aku menggenggam pisau lipat." ucap David tanpa dosa.
" Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ronald penasaran
David pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi tentang kejadian hari ini sedangkan kejadian semalam David tidak menceritakan nya. Ronald hanya diam tanpa berkomentar.
" Tuan sepertinya nona Karen sangat lelah karena itulah nona Karen melakukan seperti itu. Tuan apakah tuan terus menyiksanya?" tanya Ronald
" Mungkin iya mungkin juga tidak." jawab David
" Dia harus hidup bagaimanapun caranya. Ronald ambilkan pakaian gantiku." ucap David
" Baik tuan." jawab Ronald
Kini tinggallah David sendiri menunggu Karen di ruangan UGD.
xxxxxxx
Di Tempat Berbeda Federick berada di rumah sakit untuk menemui dokter Sandra karena dua hari dihubungi tidak aktif. Federick bertemu dengan dokter Clarisa dan Federick pun berjalan ke arah dokter Clarissa.
" Dokter Clarissa kemana sahabatmu?" tanya Federick sambil menatap tajam
" Aku tidak tahu." ucap dokter Clarissa dengan nada acuh sambil berjalan meninggalkan Federick.
" Aku ada berita penting mengenai sahabatmu Karen. Beritahukan di mana Sandra berada?" tanya Federick
" Aku tidak tertarik." ucap dokter Clarissa tetap berjalan meninggalkan Federick.
" Ini mengenai hidup mati sahabatmu." ucap Federick dengan nada serius.
deg
Jantung dokter Clarissa berdetak kencang, langkahnya yang tadi menjauh dari Federick membuatnya menghentikan langkahnya. Dokter Clarissa langsung membalikkan badannya dan berjalan ke arah Federick.
" Apa maksudmu hidup dan mati sahabatku?" tanya dokter Clarissa penasaran.
" Jika sahabatmu Karen hamil bisa membuatnya pendarahan dan jika melahirkan maka Karen akan meninggal." ucap Federick
__ADS_1
" Bagaimana mungkin kamu bohong bukan?" tanya dokter Clarissa tidak percaya.
" Buat apa saya berbohong, sekarang katakan di mana sahabatmu Sandra?" tanya Federick.
" Untuk apa menemui sahabatku?"tanya dokter Clarissa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
" Ada yang ingin aku katakan padanya." ucap Federick
" Sahabat ku berada di luar kota dan tidak ingin terganggu dengan kehadiranmu." ucap dokter Clarissa.
" Kenapa Sandra tidak ingin menemuiku?" tanya Federick.
" Ingatlah apa yang dulu kamu katakan pada sahabatku."ucap dokter Clarissa.
" Mengenai sahabatku Karen, adakah obat penawarnya?" tanya dokter Clarissa
xxxxx
Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :
Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.
Cinta Satu malam Bersama Mafia
Cinta Satu Malam Bersama Mafia Sension 2
Cinta Pertama Psychopath
Cinta Pertama Mafia.
Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Perjalanan Cinta 3 Pria Psychopath
Dan
Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
xxxxxx
__ADS_1