
" Kak David, bubur buat Karen bagaimana? karena Karen belum sadar juga sampai sekarang." tanya dokter Sandra
" Taruh di meja." jawab David tanpa menoleh ke belakang karena wajahnya masih setia menatap wajah Karen yang masih setia memejamkan matanya.
" Kalau makanan untuk kak David?" tanya dokter Clarisa
" Sama taruh saja di meja." ucap David
" Kenapa istriku belum sadar?" tanya David
" Tunggulah sebentar lagi sadar. Maaf aku pergi mau mengecek pasien." ucap Clarisa
" Pergilah." usir Ronald
" Lain kali kalau kak Ronald makan kita tambahin bumbu." ucap Clarisa ke sahabatnya.
" Bumbu apa?" tanya dokter Sandra bingung
" Pencuci perut." ucap dokter Clarisa.
" Lain kali aku tidak akan mau makan." ucap Ronald
" Syukurlah, aku pergi dulu." pamit dokter Clarisa
" Tunggu dulu." ucap David tiba - tiba
Dokter Clarisa membalikkan badannya dan menatap David begitupula orang yang berada di ruangan itu semua menatap David.
" Ada apa?" tanda dokter Clarisa
David berdiri dan membalikkan badannya dan menatap dokter Sandra dan dokter Clarisa bergantian.
Kalian berdua bertemu istriku sejak kapan? hari ini atau semalam?" tanya David
" Semalam." jawab mereka serempak
" Kalian pergi kemana?" tanya David
Dokter Sandra dan dokter Clarisa saling memandang sambil memberi kode, tanpa sepengetahuan mereka David, Ronald dan Federick tahu arti dari kode tersebut.
" Ke rumah sakit karena Karen ingin bertemu dengan kami." ucap dokter Sandra bohong.
" Iya benar, kami tidak bisa datang karena kami ada pekerjaan." ucap dokter Clarisa juga ikut berbohong.
Ketiga pria tampan tahu kalau dokter Sandra dan dokter Clarisa berbohong.
" Aku sudah menghubungi penghuni mansion katanya istriku tidak ada dan di cek cctv istriku pergi secara diam - diam. Katakan sejujurnya atau semua penghuni mansion aku akan bunuh semua termasuk istriku. Yang pertama aku tembak adalah istriku baru semua penghuni mansion" ucap David dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.
" Federick ambil kan obat yang sangat beracun dan suntikan ke tubuh istriku." ucap David dengan nada dingin
__ADS_1
" Baiklah." jawab Federick
Federick mengambil obat yang sangat beracun dan bersiap menyuntikkan ke tubuh Karen. Dokter Sandra dan dokter Clarisa saling memandang kemudian dokter Sandra dan dokter Clarisa menatap Federick.
bruk
Dokter Sandra berlutut di depan Federick dan David dan diikuti oleh dokter Clarisa.
" Honey, aku mohon jangan lakukan itu, dia sahabat baik ku." mohon dokter Sandra.
Dokter Sandra dan dokter Clarisa menangis memohon agar obat itu jangan sampai masuk ke tubuh Karen.
" Maaf aku tidak bisa memenuhi permintaan mu." ucap Federick dengan nada dingin
" Kalau begitu kita bukan pasangan kekasih lagi." ancam dokter Sandra
" Aku tidak perduli masih banyak wanita lain." jawab Federick santai.
Dokter Sandra dan dokter Clarisa terkejut mendengarnya terlebih dokter Sandra mendengar ucapan Federick sangat santai. Sedangkan Federick paling benci yang namanya pembohong.
" Apalagi kamu juga ada 2 janji yang harus kamu lakukan. Sekarang aku minta janji pertama mu yaitu kamu akan tetap menjadi kekasihku, kamu selamanya milikku sampai aku merasa bosan dan membuangmu barulah kamu bebas dan untuk janji ke dua nanti aku pikirkan lagi." ucap Federick sambil menatap dokter Sandra tanpa rasa bersalah kalau itu sangat melukai hatinya.
Dokter Sandra berdiri menatap Federick, perasaan yang teramat kecewa dan kesedihan yang mendalam. Dokter Sandra berdiri dan diikuti oleh dokter Clarisa.
" Aku hitung sampai 3 kalau tidak obat itu akan masuk ke dalam tubuh istriku kemudian istriku akan mati. Kalian memilih jujur atau sahabat baik kalian hidup?" tanya David.
" Iya benar memang kami yang bertiga menolongmu." ucap dokter Sandra akhirnya berkata jujur.
" Ceritakan yang lengkap." ucap David
Dokter Sandra menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ke tiga pria itu menatap mata dokter Sandra apakah berbohong atau tidak. Ke tiga pria tampan itu bisa membaca ekspresi seseorang bohong atau jujur.
" Itulah yang sebenarnya terjadi." ucap dokter Sandra mengakhiri ceritanya.
" Kenapa kalian membantu istriku?" tanya David
" Karena kita bertiga bersahabat dan kita saling tolong menolong." ucap dokter Clarisa.
" Apakah kalian tahu kenapa istriku membantuku? dan bagaimana istriku tahu aku berada di mana?" tanya David penasaran.
" Tanyalah pada istri kak David ketika sadar. Maaf aku ada pasien." pamit dokter Sandra sambil membalikkan badannya tanpa menatap Federick.
" Aku juga pamit." jawab dokter Clarisa sambil membalikkan badannya.
" Jangan pergi ada yang ingin ku tanyakan lagi." ucap David.
" Jika kak David banyak pertanyaan tunggulah sahabatku Karen sadar." ucap dokter Sandra sambil berlalu meninggalkan ketiga pria tampan itu diikuti oleh sahabatnya dokter Claris.
" Berhenti lah jika tidak..." ucapan David terpotong oleh dokter Clarisa menuju ke pintu keluar.
__ADS_1
" Lakukanlah jika memang kak David menginginkan kematian sahabat ku dengan menyuntikkan racun ke tubuh istri kak David karena itu permintaan terakhir sahabatku." ucap Sandra sambil menutup pintu.
" Bagaimana David, aku suntik atau tidak?" tanya Federick
" Tidak simpan saja. Kalian berdua keluarlah." perintah David.
" Baik." jawab Federick singkat
" Baik tuan." jawab Ronald bersamaan.
David kembali membalikkan badannya dan duduk di kursi samping ranjang istrinya sambil memegang tangan istrinya.
" Kenapa kamu membantuku? padahal aku sering menyiksamu tapi kamu sama sekali tidak membalasnya, kenapa? bagaimana kamu tahu aku di mana?" tanya David beruntun.
Karena lelah David tertidur dengan memegang tangan Karen sebagai bantalannya.
Karen merasakan tangan kanannya yang tidak terkena infus merasakan tangannya pegel dan keram serta berat. Karen menengok ke arah samping tampak suaminya sedang tertidur pulas sambil menggenggam tangannya.
Karen perlahan mengangkat tangan kirinya yang ada infusnya membelai wajah suaminya. David yang sedang tertidur menjadi terganggu dan perlahan membuka matanya. Karen langsung menarik tangannya tapi di tahan oleh tangan David.
" Ssshhh.." desis Karen
David terkejut langsung melepaskan tangannya dan langsung duduk dengan tegak.
" Maaf apakah sakit?" tanya David sambil memegang perlahan tangan Karen kemudian meniupnya.
" Lumayan perih." ucap Karen dalam hatinya sangat senang diperhatikan oleh suaminya.
" Aku akan panggilkan dokter." ucap David
David menekan tombol sampai dua kali dan muncullah dokter Clarisa dan seorang perawat.
" Kamu sudah sadar? ada masalah?" tanya dokter Clarisa
" Infus nya tolong diperbaiki." pinta David
Karen dan dokter Sandra terkejut karena baru kali ini mendengar ucapan David dengan kata tolong.
Dokter Sandra pun memperbaiki infus nya karena darah Karen masuk ke dalam jarum infus nya.
" Sudah selesai, apa ada yang sakit?" tanya dokter Sandra
" Sudah tidak ada lagi." jawab Karen
" Ok. Kalau ada apa - apa kabarin aku ya." pinta dokter Sandra.
" Ok. Terima kasih banyak ya." ucap Karen sambil tersenyum.
Dokter Sandra membalas senyuman Karen dan pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1