Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Mencari Rumah


__ADS_3

Daniel terus melanjutkan cerita tentang masa lalunya.


"Nana punya sebuah rumah kecil di mana dia tinggal sebelum pindah ke rumah kami. Dia membawaku ke sana., dan walaupun rumah itu kecil, aku menyukainya. Tapi aku tidak bisa makan dan tidur ataupun bermain. Aku mau belajar untuk menjadi sesuatu. Jadi aku pun mulai pergi ke sekolah yang berbeda dan mulai menjalankan hidup dengan sederhana.


Simon memasukkan aku ke kelas bela diri dan aku mencoba untuk belajar judo, karate, jejutsu, taekwondo dan yang lainnya.


Aku harus menjadi kuat. Aku harus menjadi lebih baik dibandingkan dengan Black Viper itu.


Nana mukai bekerja begitu keras untukku. Aku merasa tidak enak kepadanya. Dia mencoba untuk memberiku makan, tapi aku tetap tidak bisa makan. Dia terus mencoba untuk menyemangati aku, tapi tidak ada hal yang terlihat berhasil bagiku. Aku menangis karena merindukan orang tuaku.


Kemudian suatu hari sopir yang sudah bekerja pada keluarga kami meninggalkan pekerjaannya karena tidak ada pekerjaan lagi baginya di rumahku. Dia lantas datang ke rumah Nana dan terlihat begitu sedih. Dia mengatakan kepada kami bahwa Simon sudah dibunuh juga dan mungkin orang-orang jahat itu akan mendatangi dirinya dan juga Nana. Jadi dia akan meninggalkan kota ini, tapi itu semua tidak berhasil dia lakukan.


Orang-orang jahat itu tidak mau orang yang mengenal orang tuaku hidup dan orang itu pun mulai menciptakan kekacauan dan membuat aku dan Nana menjadi begitu trauma.


Nana kembali mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya dihadapanku dan mengatakan kepadaku bahwa kami akan baik-baik saja. Tapi aku bisa melihat dari dalam matanya bahwa dia tahu jika orang-orang jahat itu juga akan datang kepadanya dan mungkin dia akan dibunuh juga. Aku tidak bisa menahan semua ini lagi. Aku hanya berharap ini tidak akan terjadi lagi.


Sudah cukup yang aku punya. Kenapa semua orang yang dekat denganku harus meninggal?


Aku hanya memiliki Nana dan aku tidak bisa membiarkan apapun terjadi kepadanya.


'Nana ayo kita pindah.' ucapku saat itu memohon kepadanya.


'Itu semua tidak berguna Tuan, mereka akan menemukan aku.' balas Nana. 'jadi Tuan harus pergi.' lanjutnya.


'tidak, aku tidak bisa.' teriakku


'Mereka ingin membunuh semua orang dan mereka juga akan membunuhku.' ucap Nana.


Malam itu Nana mencoba untuk menyuapiku makan lagi. Saat itu dia mencoba dengan wajah yang begitu sedih dan hal itu pun membuat aku luluh.

__ADS_1


'Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku menyuapi mu Tuan. Apakah Tuan mau aku mati memikirkan karena aku tidak bisa menyuapi Tuan selama beberapa hari? Aku tidak akan pernah bisa tenang Tuan. Tolong jangan lakukan ini kepadaku.' ucap Nana.


'hentikan Nana, kau tidak akan pergi kemanapun.' teriakku dan langsung makan dengan benar dengan tangannya yang menyuapi aku setelah begitu lama.


Beberapa saat kemudian aku mulai merasa sangat pusing.


Apakah karena aku makan begitu lama hingga membuat aku merasa mengantuk atau Nana sudah menaruh sesuatu di dalam makananku.


'Nana, apa yang kau....'


Dan aku pun langsung tidak tersadar.


Hal berikutnya yang aku tahu adalah aku terbangun di tempat yang tidak familiar. Dan tak lama aku pun mengetahui bahwa aku berada di sebuah panti asuhan.


Dua hari kemudian setelah itu, ada berita di koran tentang seorang asisten rumah tangga bernama Nana dari keluarga John Walkers ditemukan meninggal di rumahnya.


Aku merasa seolah mereka ingin aku mati, jadi aku pun kabur.


Sekarang, lihatlah jadi apa aku ini?


Aku bukanlah siapa-siapa, hanya seorang remaja laki-laki yang tidak mempunyai uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat untuk tinggal, tidak punya makanan.


Jadi di sinilah aku, di jalanan.


Bagaimana aku bisa melawan The Black Vipers jika seperti ini.


Tidak ada seorangpun yang membiarkan aku bekerja di manapun karena aku terlalu muda untuk bekerja.


Dengan meminta-minta sedikit uang dari orang-orang, itulah yang bisa membuatku membeli makanan untuk tetap bisa bertahan hidup.

__ADS_1


Akhirnya aku pun belajar tentang bagaimana dunia luar yang begitu brutal. Tidak ada yang memberikan kebaikan kepadaku. Mereka hanya ingin menekan ku. Orang-orang di jalanan itu mulai membully aku. Memintaku untuk menjual narkoba, juga mulai berkelahi denganku. Tapi aku memiliki kesempatan untuk menggunakan sedikit tentang apa yang pernah aku pelajari dari ilmu beladiri. Tapi mereka selalu begitu banyak. Kadang-kadang mereka itu orang dewasa dan juga para remaja, kadang-kadang juga mereka para pria yang berada di dunia narkoba.


Aku begitu takut, tapi aku tidak punya pilihan. Jadi aku harus tetap kuat. Aku harus membalaskan dendam orang tuaku.


Aku terus dipukuli, tapi aku tidak menyerah. Jadi itulah saatnya Kakak menemukan aku. Terima kasih karena sudah mendengarkan ku dengan begitu sabar Kakak." Ucap Daniel yang akhirnya menyelesaikan ceritanya.


Daniel lalu mengambil tisu dari atas meja dan mengusap air matanya. Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku juga ikut menangis. Sepertinya aku merasa bahwa hatiku terluka.


'Kenapa dia? Dia hanyalah seorang anak laki-laki kecil. Kenapa dia harus menghadapi semua situasi itu sendirian.' pikirku dalam hati.


Tidak ada yang bisa menggantikan rasa sakitnya dan semua hal yang pernah dilaluinya. Aku mencoba untuk memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membantunya, tepat saat dia mulai kembali bicara kepadaku.


"Jangan berpikir terlalu banyak dan jangan khawatirkan aku Kak, aku baik-baik saja. Aku merasa senang karena sudah bisa membagi semua kisah ku. Aku senang karena kakak mendengarkan aku. Mungkin ini semua hanyalah takdir untukku." Ucapnya.


"Jangan mengatakan hal itu Daniel. Kau punya banyak hal yang menunggu dirimu. Setelah begitu banyak badai yang datang pasti ada pelangi di balik semuanya. Jangan kehilangan harapan. Aku disini untukmu sekarang, kau tidak lagi sendirian. Kau memiliki seorang kakak." Ucapku kepadanya.


"Baiklah terima kasih. Sekarang ayo pergi untuk menemukan rumah untuk kakak, kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini."


Setelah mengatakan hal itu, Daniek memegang tanganku dan membawa aku keluar dari kedai es krim itu untuk melihat beberapa rumah yang disewakan.


Kami duduk di sebuah bangku merasa begitu kelelahan melihat sekeliling dan belum puas dengan kamar-kamar itu. Seorang wanita cantik berusia sekitar 25 sampai 30 tahun muncul di depan kami dan bertanya kepada kami.


"Nona, apakah anda mencari sebuah rumah untuk ditinggali?" Tanya wanita itu.


Aku merasa terkejut memikirkan entah dia datang dari mana dan entah siapa dirinya itu. Bagaimana dia tahu bahwa aku tengah mencari sebuah rumah?


"Iya, apakah terlihat sangat jelas? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tengah mencari sebuah rumah?" Tanyaku dengan bingung.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2