Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Pesan Dari Alden


__ADS_3

Di tengah malam ada sebuah notifikasi pesan di ponsel ku yang terdengar masuk. Aku sangat berharap jika itu adalah pesan dari Alden, karena aku sangat merindukan dirinya lebih dari apapun. Aku membuka pesan itu dengan secepat yang aku bisa seolah pesan itu akan menghilang begitu saja atau pesan itu hanyalah sebuah mimpi. Namun pesan itu ternyata berasal dari sebuah nomor yang tidak diketahui dan pesannya sangat singkat.


(Hai beb, apakah kau merindukanku? Alden.)


Wajahku berubah menjadi cerah setelah membaca pesan itu.


Jika orang bertanya kenapa aku bisa begitu sabar untuk tidak menghubungi Alden? Kenapa aku tidak menelpon atau mengirimkan pesan kepadanya?


Sebenarnya aku tidak bisa melakukan hal itu dengan sembarangan. Orang-orang jahat bisa melacak ponsel nya dan mengetahui di mana keberadaannya dan hal itu bisa menjadi hal yang bahaya untuknya atau bahkan bisa membunuh dirinya.


Jadi aku tidak bisa membuat satu kesalahan pun.


Ponselnya mungkin saja bersama anak buahnya yang mungkin saja mencoba untuk membuat bingung para ******* itu.


Aku kembali melihat kearah pesan itu dan berpikir apakah ini memang pesan dari nya atau tidak.


'Bagaimana jika ini adalah sebuah trik yang digunakan oleh beberapa orang ******* untuk menyerang ku?' pikirku.


Jadi aku pun harus berhati-hati membalas pesan dari nya itu.


(Password?) tulis ku membalas pesan dari nya itu.


(Apa?) balas Alden.


(Jika kau Alden, kirimkan password.) tulis ku lagi.


Aku hanya ingin berjaga-jaga apa benar pesan ini berasal dari Alden atau tidak.

__ADS_1


(11.02.11 cinta dan cahaya.) balas Alden.


Aku langsung tersenyum membaca pesan balasan itu. Itu adalah hari dimana dia mempersiapkan kejutan untukku di taman belakang rumah dan hari dimana kami berhubungan.


Oh ya tuhan aku masih tidak bisa percaya bahwa aku sudah berhubungan dengan orang yang aku cintai. Orang yang merupakan teman aku tinggal bersama sudah sejak lama, yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang begitu indah. Pria yang paling tampan di seluruh dunia ini.


Aku begitu merona mengingat kejadian malam itu memikirkan tentang semua momen spesial yang mengisi hatiku dengan penuh cinta dan kebahagiaan yang aku bahkan tidak bisa mengekspresikan nya dalam kata-kata.


Perasaan yang aku rasakan saat itu adalah perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dan hal itu merupakan hari terbaik di dalam hidupku.


(Apakah kau sudah selesai memikirkan tentang apa yang kita lakukan hari itu?) tulis Alden dalam pesan berikutnya.


Wajahku langsung memerah.


'Bagaimana dia bisa mengetahuinya?'


(Kau keterlaluan, dan tidak. Aku tidak merindukanmu sama sekali dasar bodoh.) balas ku.


(Oh benarkah? Itu melukai perasaanku.) Balas Alden.


(Terserah kau saja, faktanya aku sangat menikmati kedamaian ini.) Balas ku lagi.


(Sekarang berikan aku jawaban dengan pertanyaan ku ini. Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kau sudah makan? Apakah tidurmu nyenyak? Apakah pelayan datang tepat waktu ke rumah? Apakah seseorang membuat masalah denganmu? Apakah kau merasa kesepian di rumah tanpa aku? Apakah Mark sialan itu mencoba untuk menggoda mu?) Tulisnya dengan begitu panjang.


Aku kembali tersenyum membaca pesan balasan darinya itu. Dia memang pria yang begitu perhatian padaku. Dia selalu mengkhawatirkan aku dengan berbagai hal-hal kecil saja. Aku lalu menulis pesan balasan untuknya.


(Baiklah, pertanyaan mu itu terlalu banyak. Pertama, aku baik-baik saja jangan khawatir kan tentang aku. Aku tidur dengan nyenyak. Pelayan memasak makanan yang lezat untukku dan menjagaku dengan baik di rumah ini. Aku baik-baik saja oke. Kadang kadang aku memang merasa kesepian di rumah. Dan satu hal lagi, Mark adalah teman yang baik.) Balas ku.

__ADS_1


Dan seperti itulah selanjutnya. Kami saling mengirimkan pesan selama beberapa saat. Aku bahkan sampai lupa waktu untuk bisa tidur lagi. Sekedar berbalas pesan dengannya sudah membuat aku merasa begitu bahagia. Kami membicarakan banyak hal, mulai dengan apa saja yang aku lakukan hari ini sampai dia yang mengatakan kepadaku bagaimana rencananya akan berjalan.


Misi utamanya yaitu menghentikan ledakan pertama yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 hari. Tidak seperti dirinya, aku merasa begitu gugup. Aku begitu ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Siapa yang bisa mengetahui bahwa pria yang tinggal bersamaku yang terlihat tidak melakukan apapun dan terlihat seperti anak laki-laki dari sebuah keluarga kaya raya, tapi dia malah menjadi seorang petugas militer yang berurusan dengan bahaya, mengejar para iblis yang tinggal di planet kita ini.


Aku berdoa untuk keselamatan nya, berdoa untuk agar dia bisa kembali secepatnya. Karena waktu 4 bulan itu cukup lama bagiku.


Selain pesanku dengan Alden, ada muncul sebuah notifikasi lainnya dari group chat ku bersama teman-temanku.


(Apakah ada yang mau reunian dengan melakukan sebuah perjalanan liburan? Sudah sangat lama kita tidak melakukannya.) Tulis salah seorang teman kampus ku.


Aku punya lima teman dari kampus ku dulu yang sangat dekat denganku. Mereka sudah seperti menjadi sebuah keluarga bagiku. Dari berbagai tawa menjadi air mata, makan bersama, tidur siang bersama, bertengkar, menari, menonton film, berbagi gosip dan banyak hal lainnya.


Tentu saja kami tetap tidak bisa bersama selamanya. Aku tidak bisa mengingat bagaimana hidup berjalan tanpa adanya mereka di tempat aku menghabiskan waktuku untuk menempuh pendidikan ku.


Sejujurnya saja, aku benar-benar ingin bertemu dengan mereka, tapi bagaimana aku bisa melakukannya disaat yang seperti ini?


Orang yang aku cintai tengah melakukan pekerjaan untuk menghentikan para penjahat, ******* dan juga berkutat dengan bom yang bisa saja merenggut nyawanya. Beberapa orang jahat itu juga bersiap untuk membunuhnya. Tapi dia akan berkelahi dengan mereka dan dengan resiko akan kehilangan nyawanya.


Jadi, bagaimana aku bisa pergi dan menikmati liburan dengan kondisi seperti ini? Jadi aku pun membalas chat mereka dengan mengatakan bahwa aku tengah sibuk dan setelah itu mereka pun mulai tidak mau berhenti menelpon dan mengirim pesan untuk mendorong ku agar bisa pergi dengan mereka tanpa alasan apapun.


Aku belum siap mengatakan kepada mereka apapun tentang Alden dalam chat atau panggilan telepon yang coba mereka lakukan untukku. Jadi aku hanya mengatakan bahwa aku punya beberapa alasan yaitu ada banyak pekerjaan di rumah sakit yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja.


Aku benar-benar tidak bisa menghentikan mereka. Tapi aku tidak mau berada di bawah tekanan seperti ini. Jadi aku hanya menonaktifkan ponsel ku dan berusaha untuk kembali tertidur.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2