
Hana dan Riana tampak keluar bersama dan bergegas mendekat ke arahku.
"Aku benar-benar kacau kemarin. Jika saja Tio tidak menuang air dingin di perutku untuk membangunkan aku, aku bersumpah aku pikir bahwa aku sudah mati." Ucap Hana.
"Itu masih cara yang baik untuk membangunkan seseorang. Gio lebih parah. Dia mendorong ku dari tempat tidur yang membuat aku langsung terbangun dengan rasa kantukku dan saat aku bertanya kepadanya sudah jam berapa sekarang, dia malah meniup terompet di hadapanku yang membuat aku tidak bisa mendengar lagi." Ucap Riana.
Aku begitu bingung bagaimana mungkin seseorang mendorong orang lain dari atas tempat tidur untuk membangunkannya? Aku tidak mau bersikap tidak sopan tapi aku harus bertanya pada Riana.
"Tapi Riana, kenapa dia mendorongmu dari atas tempat tidur dan apakah kau kehilangan pendengaran mu? Bagaimana bisa kau tidak mendengar suara terompet yang begitu besar?" Ucapku.
Aku dan Hana tidak bisa berhenti tertawa membayangkan apa yang dilalui oleh Riana.
"Apapun yang aku lakukan kemarin adalah suatu langkah yang lebih jauh lagi bersamanya. Tapi percayalah kepadaku dan Gio itu... Aku tidak akan bicara kepadanya selamanya mulai sekarang. Dia benar-benar menertawakan aku setelah mendorongku dari atas tempat tidur. Bukankah itu sadis? Dia benar-benar jahat. Bisakah kita menendangnya saja? Kita tidak usah berteman dengannya." Ucap Riana.
Gio mungkin saja mendengar ucapan Riana, jadi dia mendekat ke arah kami dan mulai membela dirinya dengan mengatakan sesuatu.
"Hei... hei... Riana, apa yang kau katakan kepada teman-temanmu? Kau tahu bahwa kau terjatuh dari atas tempat tidur sendiri dan jika aku meniup terompet itu semua orang pasti sudah mendengarnya bukan? Aku hanya mengatur alarm jam 09.00 di ponselku dan menaruhnya di dekat telingamu karena tidak ada yang bisa membangunkan mu." Ucap Gio.
Aku dan Hana melihat satu sama lain kemudian kami tertawa dengan terbahak.
"Aku tahu bodoh! Bagaimanapun aku harus mengatakan kepada mereka sesuai dengan versi yang aku inginkan. Aku hanya tidak mau terlihat buruk di depan mereka, dan kau memang benar-benar sadis dengan mengatur sembilan kali alarm dalam waktu 2 menit yang berbunyi secara terus-menerus dan menaruhnya di samping telingaku." Ucap Riana protes pada Gio.
"Tapi kau hanya mendengar suara alarm terakhir." Ucap Gio.
Kami tidak bisa berhenti tertawa. Riana benar-benar pasti sudah kehilangan pendengarannya. Bagaimana mungkin dia tidak bisa mendengarkan suara alarm yang diatur Gio selama sembilan kali, apalagi ponselnya ada disamping telinganya.
Beberapa saat kemudian Eli dan Vera keluar juga dan kami pun pergi dan memulai petualangan kami dengan tracking dan juga menyusuri gua. Semua itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Kami mengobrol dan tertawa sepanjang perjalanan.
Eli dan Hana mengangkat pakaian mereka setengah dan memperlihatkan perut mereka. Keringat tampak mengucur deras dari kening mereka. Bahkan perut mereka pun tampak berkilau karena keringat.
__ADS_1
"Sial! Apa yang sudah kita pikirkan saat kita setuju melakukan hal ini. Aku tidak bisa berjalan lebih jauh lagi." Ucap mereka berdua.
Para pria mereka pun langsung menggendong mereka di punggung mereka sampai mereka tiba di sebuah gua yang kami tuju dan mereka benar-benar merasa terbebas dengan perjalanan itu.
Noah seringkali menanyakan kepadaku apakah aku merasa kelelahan juga dan aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Bahkan jika aku memang kelelahan, aku tidak akan membiarkan dia menggendong aku.
Gua yang kami kunjungi itu sangat indah. Kami lalu duduk di dalamnya melakukan piknik di dalam sana, memakan bekal yang kami bawa dari hotel. Setelah itu kami membicarakan tentang satu sama lain dan mereka berkomentar tentang Noah dan aku yang mengatakan suatu hal yang menggoda kami, seperti...
"Hei Noah, kau belum mengatakan kepadanya."
"Oh Noah, wajahmu merona."
"Noah bagaimana tadi malam?"
Mereka terus menggoda Noah dengan namaku. Tapi tidak ada apapun yang terjadi diantara kami dan mereka pun tentu tahu akab hal itu. Aku lantas mencoba untuk mengganti topik pembicaraan kami dan setelah itu, kami pun mulai membicarakan hal yang lainnya juga dengan baik.
Waktu sudah menjelang sore hari dan waktunya bagi kami untuk kembali ke penginapan.
...****************...
Keesokan harinya...
Kami mulai duduk di kursi kami melihat para banteng yang sudah dilepaskan. Stadion itu sangat ramai dengan suara teriakan orang-orang dan suara riuh tepuk tangan yang terdengar di seluruh area. Ada tiga orang pria pemberani di bawah sana mulai melawan banteng sudah dilepaskan.
Benar-benar pemandangan yang menakjubkan saat melihat para manusia yang dihadirkan mencoba menaklukkan banteng yang membuat semua orang bersorak saat mata para pria itu melihat ke arah banteng yang marah.
Para pria mulai bersorak dan diikuti para wanita. Aku sendiri ketakutan melihat pria yang ada di bawah sana tampak melawan banteng. Tapi aku tahu mereka itu benar-benar sudah terlatih dan mereka tidak akan mungkin turun ke sana jika mereka tidak percaya diri untuk melakukan hal itu.
Acara itu berakhir beberapa saat kemudian. Kami berteriak dan bertepuk tangan untuk para peserta setiap kali mereka bisa memenangkan perlawanan terhadap banteng itu.
__ADS_1
Calvin mengatakan kepada kami bahwa akan ada satu peserta lagi dan setelah itu kami bisa pergi untuk makan.
Ada sebuah pengumuman yang mengatakan seorang yang bukan merupakan peserta dan hanya menjadi volunteer pemberani yang mau mengambil bagian dalam permainan itu. Orang-orang mulai berteriak.
Aku pun berpikir siapa pria gila itu. Maksudku semua peserta yang ikut dalam acara di sini sudah terlatih tapi mereka tetap membuat jantung dan mulut kami tidak berhenti bergetar dan volunteer ini adalah salah seorang dari kami yang ada dalam kerumunan penonton ini.
Semua ini sangat berbahaya.
'Apakah dia mau mati?' pikirku.
Aku hanya duduk di sana melihat teman-temanku melompat untuk seseorang yang membahayakan nyawanya sendiri dan mungkin saja dia akan terluka hari ini.
Seorang pria muncul dengan fisik dan rupa yang sepertinya aku sangat mengenalnya. Pria itu memegang sebuah mic di tangannya dan mulai bicara dengan sopan meminta para penonton untuk terdiam saat dia akan mengatakan sebuah pengumuman.
Wajahnya terlihat sangat jelas di layar besar dan jantungku langsung berdetak sangat kencang saat aku melihat wajahnya itu.
"Apa yang Noah lakukan di sana?" Teriakku panik.
Aku melihat ke arah teman-temannya dan menatap mereka yang bersorak dan mendukung Noah.
"Dia bisa melakukannya Starla." Ucap Tio.
'Apa? Teman seperti apa dirinya itu?' pikirku.
Semua ini terlalu beresiko. Noah bisa saja terluka dan mungkin saja kehilangan nyawanya. Apakah semua ini termasuk ke dalam sebuah permainan? Ini sangat berbahaya.
Mataku semakin membelalak saat Noah menyebut namaku.
"Starla, aku tahu kau panik. Tenanglah, aku tahu apa yang aku lakukan di sini. Aku tahu bahaya yang aku ambil. Tapi jangan khawatir, aku bisa menanganinya. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa aku akan jujur kepadamu. Tapi aku selalu menyembunyikan perasaanku kepadamu. Aku terlalu takut jika aku kehilangan pertemanan ku denganmu. Tapi hari ini dengan berdiri di sini, aku menyadari bahwa tidak akan ada yang hilang dariku karena kematian sudah dekat denganku dibandingkan dirimu. Jadi kenapa aku tidak mengakui semuanya." Ucapnya mulai bicara.
__ADS_1
Bersambung....