
Mark tertawa kecil melihat kegugupan dariku dan bertanya, "apakah kita bisa pergi sekarang?"
Dia membuka pintu mobilnya untukku dan mulai mengendarai mobilnya langsung menuju ke sebuah restoran mewah. Kami lalu memesan makanan dan mulai mengobrol banyak hal.
'Aku adalah pria lajang.'
Itulah yang diinginkan oleh telingaku untuk mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
Dia ternyata tinggal di kota ini bersama dengan adik perempuannya dan jarak rumahnya hanya beberapa menit jauhnya dari rumah tempat aku tinggal.
Mark hanya semakin membuatku menyukai dia dan semakin sangat menyukai dia. Dia adalah pria yang begitu manis, pintar, tampan dan aku sangat suka saat aku berada di sekitarnya.
Setelah selesai makan malam dengan sajian makanan yang lezat dan waktu yang berjalan begitu indah, dia pun kembali mengantar aku pulang ke rumah.
Aku masih terus memikirkan tentang semua yang terjadi malam ini dan tersenyum saat aku masuk ke dalam rumah. Aku lalu melihat Alden duduk di sofa ruang tamu. Dia langsung melihat ke arah mataku dengan tatapan matanya yang begitu tajam.
Dia lalu melihat ke arahku dari ujung kepala sampai ke ujung kakiku yang membuat aku bertanya-tanya ada apa dengannya. Tapi aku tidak tahu kenapa, dia seolah tampak marah dan suaranya juga tampak terdengar kecewa.
"Ke mana saja kau sejak tadi dan dengan siapa kau pergi? Kau pulang dengan cukup larut. Aku khawatir padamu." Ucapnya.
"Memangnya siapa kau itu harus menanyakan semua itu padaku? Apa kau Papa ku? Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Aku tidak perlu menginformasikan kepadamu ke mana aku pergi dan menjauhlah dari semua urusanku." Teriakku kepadanya dan langsung melangkahkan kakiku ke kamarku dan menutup pintu kamarku dengan keras.
Aku benar-benar mencoba melupakan tentang dirinya dan aku tidak mau merusak kebahagiaan yang baru saja aku alami hanya karena dirinya.
Aku lalu mengganti pakaianku dengan piyama tidur dan tak lama setelah itu aku langsung tertidur dengan nyenyak.
"Selamat pagi Nyonya, saya Tiara. Saya adalah asisten rumah tangga baru dan saya sudah mulai bekerja di rumah ini sejak kemarin pagi. Tapi saya tidak sempat bertemu dengan Anda. Saya harap anda menyukai pekerjaan saya dan saya tidak akan memberikan kesempatan kepada anda untuk komplain akan pekerjaan saya." Ucap seorang wanita dan dia menganggukkan kepalanya kepadaku sebagai tanda hormat.
__ADS_1
Aku tersenyum kepadanya dan menyambut keberadaannya di rumah ini. Dia juga terlihat baik. Aku lantas bertanya kepadanya, apakah dia mau sarapan atau tidak. Dia tidak menolak karena dia sendiri sudah memiliki makanan yang dia bawa dari rumahnya. Aku mulai menyiapkan sarapan saat dia datang kepadaku.
"Nyonya saya ada di sini semalam untuk membersihkan bagian rumah yang lainnya saat anda kembali semalam. Saya tahu bahwa seharusnya saya tidak ikut campur dalam masalah anda. Tuan sudah memesan makanan untuk Anda semalam, tapi Anda tidak ada di rumah. Jadi Tuan menunggu Anda. Tuan terus melihat ke arah jam dan saat saya sertanya kepadanya, apakah saya harus menyajikan makan malam untuknya, Tuan bilang bahwa dia akan menunggu seseorang. Tuan tidak makan apapun sejak tadi malam." Ucap Tiara.
Mendengar ucapan Tiara, aku langsung merasa bersalah. Apalagi aku berteriak kepadanya kemarin.
'Tapi kenapa dia melakukan hal itu? Apa mungkin dia mau kami untuk berteman?'
Mungkin dia hanya mencoba bersikap baik karena aku sudah memasak sarapan untuknya kemarin. Mungkin dia hanya mencoba untuk membalas kebaikanku. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi aku hanya merasa bersalah sekarang.
Aku berterima kasih kepada Tiara karena sudah menginformasikan kepadaku tentang hal itu dan setelah berpikir beberapa saat, aku pun memutuskan untuk membawa sarapan ke dalam kamarnya dan meminta maaf atas sikapku kemarin kepadanya.
Aku sudah menyiapkan beberapa potong sandwich dan smoothies untuknya. Kemudian aku membawa makanan dan minuman itu ke kamarnya.
Pintu kamarnya tampak terbuka. Jadi aku masuk dan memanggilnya, karena aku memegang nampan dan tidak bisa mengetuk pintu. Tapi tidak ada orang di sana. Aku pikir mungkin dia sudah pergi. Aku memang tidak tahu kapan dia ada di rumah dan kapan dia tidak ada di rumah.
"Starla...! Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku berbalik untuk menjelaskan kepadanya apa tujuanku datang ke kamarnya dan sekaligus meminta maaf padanya. Tapi mataku begitu membelalak dan aku pun menelan ludah. Aku bahkan hampir saja menjatuhkan nampan yang ada di tanganku.
Dia mendekat ke arahku membuat aku berjalan mundur. Aku lalu menaruh nampan itu di atas meja dan dengan cepat membelakanginya.
"Kau.... kau.... Apa yang.... Aku.... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk lancang masuk ke kamarmu." Ucapku gugup.
Aku malah mendengar dia tertawa pelan dan aku lantas berbalik untuk menatap ke arahnya.
"Kenapa kau berpikir ini lucu? Cepat kenakan pakaianmu!" Ucapku kesal.
__ADS_1
"Aku tidak sepenuhnya bugil. Aku memakai handuk yang menutup pinggangku dan aku baru saja keluar dari kamar mandi. Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau ada di sini." Ucapnya memberi alasan padaku.
"Aku tahu ini salahku. Aku minta maaf karena aku seharusnya tidak ada di kamarmu tanpa izin darimu." Ucapku tak enak hati.
'Kenapa aku masih bicara dengannya?'
Mungkin karena aku hanya mau ada di sini untuk memandang tubuhnya yang keren itu.
Aku mencoba untuk menunjukkan bahwa aku bisa tenang dan meminta maaf kepadanya karena sudah ada di dalam kamarnya. Tapi di dalam kepalaku, aku benar-benar tengah mengagumi tubuhnya itu.
'Ya Tuhan apa-apaan aku ini! Apa yang tengah aku lihat?'
Rahang ku terasa inggin jatuh. Aku bahkan tidak bisa menahannya.
'Oh ya Tuhan, dia begitu seksi.' ucapku dalam hati.
Aku tidak bisa mengabaikan perut six pack yang dia miliki itu. Tubuhnya benar-benar sempurna. Air tampak terjatuh di sela dada dan perutnya seolah itu mencoba untuk menggoda aku.
Aku sangat menyukai itu. Tapi tubuhku tidak siap untuk melihat semua ini. Aku benar-benar kehilangan kontrol akan diriku dan merasakan lutut ku yang lemas dan aku sama sekali tidak bereaksi berlebihan. Tapi aku yakin gadis manapun yang melihat hal ini pasti juga akan merasakan hal yang sama seperti diriku.
Aku mencoba untuk tidak terlihat jelas bahwa aku benar-benar mengagumi penampilannya itu. Jujur dia benar-benar begitu seksi. Dia sepertinya tahu bahwa aku menyukai apa yang tengah aku lihat saat ini.
"Kau tahu kau bisa tetap di sini." Ucapnya.
"Diam lah aku datang kemari untuk meminta maaf atas sikapku padamu kemarin. Aku akan pergi, cepat gunakan pakaianmu." Ucapku dan langsung turun ke lantai bawah.
Bersambung....
__ADS_1