
Mereka semua sudah mengatur diri mereka di dalam masing-masing kamar dan sisanya hanya ada satu kamar yang tertinggal bagi Noah dan diriku. Noah ada di dalam kamar tengah duduk di atas sofa tampak memainkan ponselnya. Saat dia melihatku, dia pun langsung meletakkan ponselnya.
" Hei." Ucap Noah dengan senyuman hangat yang membuat aku lupa dengan kecanggungan yang ada diantara kami berdua.
Kami adalah teman baik. Aku mungkin berpikir terlalu banyak. Aku tidak bisa mengatakan kepadanya tentang apa yang terjadi antara aku dan teman-temanku tadi di luar sana karena itu semua memang tentang pertengkaran kami dan tidak pantas bagiku menceritakan perdebatan ku dengan sahabatku padanya.
Untuk mulai mengobrol aku pun lantas bertanya kepadanya.
"Kemana kalian akan pergi selama 3 hari sebelum kalian nantinya kembali lagi?"
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik untuk mengetahui akan hal itu. Tapi aku hanya mencari-cari alasan agar ada topik yang bisa kami bicarakan. Tapi reaksi yang Noah berikan kepadaku sedikit aneh. Dia tidak bicara dan hanya terdiam sebentar lalu dia tampak menggaruk tangannya dan melihat ke bawah, lalu kemudian setelah itu dia baru mulai menjawab pertanyaan yang aku ajukan.
"Hmmmmm... tidak ada yang spesial. Hanya bertemu dengan beberapa teman lama. Kami sudah berjanji untuk bertemu dengan mereka saat kami akan datang kemari sebelum kami bertemu dengan kalian ada beberapa orang yang kami temui di sini." Ucap Noah.
'Kenapa dia terlihat gugup? Apakah sangat canggung baginya untuk tidur di kamar yang sama denganku? Oh ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?' pikirku daam hati.
"Apa tidak apa-apa jika aku berada di kamar sama denganmu?" Tanyaku kepadanya.
"Tentu saja aku sangat senang. Kita ini teman, kenapa kau harus bertanya hal seperti itu?" Ucapnya.
Dia tampak begitu percaya diri tidak seperti sebelumnya. Kegugupan yang ada padanya mendadak hilang begitu saja.
'Jadi rasa gugup yang dialaminya itu bukan karena kami berada di dalam satu kamar yang sama denganku bukan? Apakah itu karena pertanyaan yang aku ajukan tadi? Apakah dia berpikir bahwa akan terasa tidak enak bagi mereka untuk meninggalkan kami di sini?' pikirku lagi.
__ADS_1
"Kau harus pergi dan bertemu dengan teman-temanmu. Itu akan sangat tidak baik jika kau tidak pergi. Kami juga perlu waktu sendiri bagi para wanita. Jadi kau tidak perlu memikirkan untuk merasa tidak enak karena meninggalkan kami sendirian. Kami sudah dewasa dan kami ini bukan tanggung jawab kalian." Ucapku agar dia tidak merasa gugup seperti tadi.
Aku berpikir jika itu memang alasan yang membuatnya gugup, maka aku mencoba untuk menghilangkan rasa stresnya itu.
"Hmmm.... Terima kasih karena mengatakan hal itu." Ucap Noah lalu berdiri dan mendekat ke arahku.
"Berjanjilah kepadaku tidak peduli apapun yang terjadi nantinya, kau akan tetap menjadi temanku bahkan setelah kita berpisah nanti. Aku beruntung menemukan dirimu Starla dan aku tidak mau kehilangan dirimu." Ucapnya dengan mata yang menatap ke arah ku.
Ekspresi diwajahnya menunjukkan bahwa dia begitu tulus saat mengatakan hal itu seolah dia pun menunggu aku untuk membalas ucapannya dengan cepat.
"Tentu saja kita akan berteman selamanya Noah. Siapa yang mau kehilangan dirimu. Aku tidak bisa melakukan hal itu." Ucapku tertawa tapi juga tetap menunjukkan ketulusanku.
Aku benar-benar berpikir bahwa Noah adalah orang yang sangat baik. Dia terus berada di sisiku bahkan walau dia orang asing. Dia jauh lebih sering menemani aku dibandingkan dengan menemani teman-teman nya sendiri. Aku merasa senang bertemu dengannya. Dia adalah pria yang terbaik dibandingkan semua temannya yang lain.
"Mmmm Noah, ayo tidur. Kita perlu bangun lebih pagi untuk melanjutkan perjalanan kita." Ucapku saat aku merasa sedikit tidak nyaman dengan pelukannya itu.
Dia pun melepaskan pelukannya dan melihat kembali ke arahku. Aku tahu jika aku akan bertanya kepadanya, dia pasti akan mengatakan tidak. Jadi aku langsung mengambil selimut dan berbaring di sofa.
"Tempat tidur itu adalah milikmu." Ucapku dan menutup mataku mengindikasikan padanya untuk tidak mengganggu aku karena aku sudah mengantuk.
Tiba-tiba aku merasakan lengannya memelukku dari belakang dan satu lengannya lagi di lutut ku kemudian mengangkat tubuhku. Aku begitu terkejut dan membuka mataku melihat Noah yang tersenyum kepadaku.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur di sofa sementara aku tidur di atas ranjang? Yang benar saja!" Ucapnya seraya menaruh tubuhku dengan perlahan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Maaf jika aku melewati batas karena menggendong mu tanpa meminta izin darimu. Tapi kau harus tetap tidur di sini dan aku tidak mau berdebat. Jadi selamat malam cantik." Ucapnya.
"Oke baiklah, aku menerima semua kebaikanmu ini. Selamat malam Noah." Balas ku.
Aku lalu berbaring dan menatap ke arah langit-langit kamar beberapa saat. Aku tengah memikirkan tentang Alden. Bagaimana keadaannya sekarang? Aku tidak bisa menghubunginya. Bagaimana dengan misinya, apakah berjalan dengan lancar? Dan mengenai teman-temanku, apakah mereka marah kepadaku tentang apa yang terjadi di sana tadi? Apakah aku menyakiti mereka?
Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan cepat. Aku merasa waktu berjalan dengan begitu cepat, sepertinya tidak lebih dari satu jam saat aku mendengar suara Alex berteriak membangunkan semua orang dan mengatakan bahwa waktunya bagi kami semua untuk pergi.
Aku lalu duduk dan melihat bahwa Noah sudah tidak ada di dalam kamar. Dia mungkin sudah keluar dengan para pria lainnya.
Aku lantas berpikir apakah mereka semua akan berpikir tentang aku dan Noah yang juga melakukan sesuatu yang aneh karena berada dalam satu kamar.
'Oh aku harap tidak.'
Aku yakin Noah pasti sudah menjelaskan semuanya kepada semua teman-temannya. Aku lalu menggosok gigiku dan mengganti pakaianku dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih dipadukan dengan celana pendek dan juga sepatu olahraga. Aku lalu dengan cepat berlari keluar kamar karena memikirkan bahwa akulah yang paling terlambat keluar dari dalam kamar.
"Oh terima kasih Tuhan, seseorang sudah siap." Ucap Alex saat dia melihat ke arahku.
Aku berpikir kenapa mereka semua perlu waktu yang lama untuk bersiap-siap padahal kami hanya akan pergi tracking.
Aku begitu takut untuk pergi ke kamar mereka setelah kejadian kemarin malam dimana kami berdebat. Jadi aku tetap memilih untuk bersama dengan Noah yang terlihat begitu senang seolah dia sudah mendapatkan malam yang membuat tidurnya terasa paling hebat di sofa itu.
Bersambung...
__ADS_1