Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Pertemuan Mark & Alden


__ADS_3

Keesokan harinya...


Aku mulai bersiap makan dengan cepat dan melihat ke arah jam. Aku akan terlambat jika aku menggunakan bus sekarang. Kepala bagian pasti akan membunuhku saat ini.


"Apa kau mau aku mengantarmu?" Ucap Alden.


"Tidak, kumohon aku akan berhutang budi jika kau melakukan hal itu. Tapi aku akan terlambat pergi ke bekerja sekarang." Ucapku kepadanya.


"Masuklah ke dalam mobil dan katakan kepadaku ke mana aku akan mengantarmu?" Ucapnya.


"Rumah Sakit Kota." Ucapku.


"Untuk apa?" Tanya Alden.


"Aku bekerja di sana bodoh. Aku merasa orang sakit di sana." Ucapku.


"Oh, jadi kau seorang dokter ya?" Ucapnya. "Aku tidak menyangka wanita seperti mu bisa berprofesi sebagai dokter." Lanjutnya.


"Kau tidak perlu ikut campur dengan urusanku. Kita tidak berteman." Ucapku.


Dia lalu tidak mengatakan apapun setelah itu. Mungkin aku melukainya karena mengatakan bahwa kami tidak berteman. Tapi aku yakin aku tidak mau dia menanyakan pertanyaan seperti itu lagi.


Dia pun mulai mengendarai mobilnya dan mengantarkan aku ke rumah sakit kemudian dia pergi.


Aku tak sengaja bertubrukan dengan Mark. Dia terlihat begitu tampan hari ini. Dia adalah motivasi bagiku untuk tetap semangat datang ke rumah sakit ini setiap hari.


"Hai cantik." Ucapnya menyapaku membuat wajahku menjadi merah seperti tomat.


"Hai Mark." Balasku.


"Kau akan terus bersamaku hari ini, oke. Aku akan bicara dengan kepala bagian." Ucap Mark.


Aku menganggukkan kepalaku. Kami kemudian pergi untuk memesan kopi dan bicara banyak hal.


Aku mengatakan kepadanya tentang Alden. Itu bukanlah suatu pertanyaan yang diajukan kepadaku dan itu juga bukan hal yang harus kami bicarakan sebenarnya. Tapi hanya itu yang bisa aku sampaikan kepadanya bahwa di rumah aku bersama dengan seorang pria.

__ADS_1


Awalnya Mark tampak terkejut, tapi kemudian dia menghela nafas saat aku mengatakan kepadanya bahwa Alden berada di lantai atas dan kamarku ada di lantai bawah dan kami berdua jarang sekali bicara.


Mark tidak memperlihatkan indikasi apapun yang membuatnya akan dekat denganku dan aku sendiri tidak mau terlalu berharap untuk menginginkan hal seperti itu, karena kami hanya teman baik.


Hari-hari berlalu seperti ini. Aku dan Mark semakin dekat. Sementara aku dan Alden begitu sulit berhubungan meski hanya sekedar untuk mengobrol saja.


Aku tetap menyiapkan makanan untuknya dan dia akan makan malam di kamarnya. Aku rasa dia marah kepadaku, tapi dia tidak menunjukkan hal itu.


Tugasku akan segera datang. Aku mengatakan kepada Mark bahwa aku menghadapi kesulitan untuk mengingat dan mengerti tentang beberapa hal Mark pun mengajukan dirinya untuk membantuku.


"Aku bisa pergi ke rumahmu dan mengajarimu." Ucap Mark.


"Itu akan sangat sempurna bagiku Mark. Apakah kau sungguh ingin melakukan itu untukku?" Ucapku padanya.


Aku memikirkan tentang Mark yang akan ada bersamaku di rumah.


"Tentu saja." Ucap Mark. "Jam 08.00 malam aku akan ada di sana." Lanjutnya.


...----------------...


Aku lalu membuat makan malam dan juga minuman untuk kami berdua.


Tepat saat aku dan Mark hendak pindah untuk belajar, Alden pun pulang ke rumah. Kemudian kedua pria itu melihat satu sama lain dan mereka berdua tampak memperlihatkan rahang mereka yang mengeras. Aku bisa merasakan situasi di dalam ruangan ini memanas.


'Jangan bicara Alden, ku mohon jangan.' ucapku berdoa dalam hatiku.


"Jadi sekarang kau sudah berani membawa laki-laki ke dalam rumahku. Aku seharusnya mengatakan kepada Tiara untuk menyiapkan kamarmu dan membawa alat pelindung untukmu berhubungan kecuali jika kau memang mau hamil." Ucap Alden.


'Dan inilah dia.... duarrrrr...'


Aku sangat berharap bahwa Mark bisa tuli dan tidak bisa mendengar apa yang Alden ucapkan untuk beberapa saat.


Aku berharap bahwa Mark tidak mendengarkan apapun. Aku melihat ke arah Alden dan menatap wajahnya yang merah karena marah.


'Sial!'

__ADS_1


Ini semua sangat salah.


"Diam lah Alden apa masalahmu?" Ucapku.


Aku lalu memegang tangan Mark dan membawanya ke kamarku dengan maksud untuk menghentikan pertengkaran mereka. Tapi aku melihat ke arah belakang dan menyadari bahwa aku hanya semakin membuat Alden menjadi lebih marah dibandingkan sebelumnya.


Aku mengunci pintu kamarku dan membuat Mark duduk di tempat tidurku. Aku menaruh tanganku di pundaknya dan meminta maaf atas sikap yang ditunjukkan oleh Alden. Alden benar-benar pria badjingan dan aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu.


Mark terlihat tenang karena sentuhan dariku dan kami pun mulai untuk belajar. Mark membuat semuanya menjadi begitu sederhana untukku. Belajar tidak pernah terasa begitu menyenangkan sejak adanya dirinya. Itu semua membuat kepalaku begitu mudah menerima semuanya dan seolah dia itu memiliki sebuah kekuatan yang ajaib.


Beberapa jam berlalu...


Kami bahkan tidak menyadari bahwa sudah jam 01.00 dini hari. Mark mengatakan bahwa ini sudah waktunya dia untuk pergi. Tapi dia tidak mau pergi juga. Saat dia akhirnya hendak pergi, dia berbisik di telingaku.


"Aku suka menemanimu Starla dan aku tidak menyukai laki-laki itu sama sekali."


'Oh Tuhan, aku merasa merah lagi.'


Aku lalu menutup pintu dan melihat ke arah belakang di mana ada Alden berdiri di sana yang langsung melihat ke arahku, seolah dia mau membunuhku tanpa berpikir apapun lagi.


Aku mencoba untuk menghindari pertanyaan yang nantinya akan dia ajukan dan aku hanya langsung berjalan ke arah kamarku.


Dia berdiri di depanku dan berkata, "aku minta maaf. Sebenarnya bukan tempatku untuk ikut campur akan semuanya. Aku tidak tahu apa yang sudah merasuki diriku."


'Tunggu dulu? Apa? Dia tidak berteriak? Tidak marah?Dia tidak mematahkan tulang ku? Tapi dia malah meminta maaf?'


Aku butuh waktu lebih untuk memproses semuanya saat aku menerima permintaan maaf darinya. Setelah itu aku menanyakan apakah dia sudah makan malam atau tidak. Dia mengatakan bahwa dia belum makan. Jadi aku pun menyajikan beberapa menu makan malam untuknya dan pergi ke kamarku untuk belajar beberapa saat, sampai aku akhirnya tidur.


...----------------...


Pagi berikutnya aku bangun terlambat. Ini memang hari liburku dan Mark ada di rumah kemarin, jadi aku benar-benar tengah merasa senang saat ini.


Tiara mengatakan kepadaku bahwa Alden sudah pergi pagi sekali dan aku merasa semakin senang karena ini adalah waktunya bagiku untuk bisa Me Time.


Sudah cukup lama aku tidak memiliki waktu pribadi. Hari ini aku bebas melakukan apapun. Hal itu semakin membuatku merasa bersemangat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2