
Aku mematung. Ini semua benar-benar tidak aku duga akan terjadi.
"Mmmmm aku tidak tahu. Jika aku bisa libur besok, apa yang ingin kau makan?" Tanyaku.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa gugup. Pikiran tentang aku yang akan pergi berkencan dengan Alden, dengan pria yang lebih seksi dari pria manapun di planet ini yang begitu misterius dan juga menarik.
Aku begitu terkejut karena dia bisa menanyakan hal seperti itu padaku. Aku merasa bahwa aku begitu tidak cocok untuknya. Dia pasti sudah pernah bermain-main dengan banyak wanita lainnya. Itulah kemungkinan kenapa dia selalu keluar larut malam, bahkan dia jarang pulang ke rumah. Aku melihat ke arahnya seolah dia itu seorang playboy dari keluarga kaya yang akan selalu dikelilingi para wanita.
Saat aku menyajikan makanan untuknya, semua pikiran itu terus saja mengganggu aku.
"Apa yang kau pikirkan Beb? Apakah aku begitu buruk sehingga kau tidak mau menjawab pertanyaan ku dan bahkan tidak menghiraukan aku?" Ucapnya.
Aku merasa ingin melompat karena suaranya itu. Dia berada tepat di belakangku dan jaraknya begitu dekat denganku.
"Apa yang kau lakukan dengan turun dari atas tempat tidur Alden?" Ucapku.
"Aku baik-baik saja. Ini semua tidak ada apa-apanya jangan khawatir tentang hal itu." Ucapnya.
'Kenapa dia bisa mengatakan hal itu?'
Normalnya seseorang akan merasa ketakutan jika dia ditembak dengan senjata api. Tapi kenapa dia begitu tenang saja akan hal itu?
"Baiklah aku akan pergi denganmu." Ucapku padanya.
Aku harus mengambil kesempatan ini untuk mengetahui hal lebih banyak tentang dirinya.
...----------------...
Pagi berikutnya saat aku pergi ke dapur, aku melihat sebuah catatan di lemari pendingin.
'Jangan siapkan sarapan untukku Beb. Aku harus pergi pagi ini. Ada hal yang darurat untuk aku lakukan. Jadi aku tidak akan kembali untuk waktu 5 hari ke depan Jagalah dirimu.
^^^Alden'^^^
Dia baru saja mengajakku untuk berkencan dan sekarang dia pergi selama 5 hari. Itu bagus bukan, karena aku tidak harus pergi berkencan dengannya.
'Tapi kenapa aku malah merasa kecewa?'
Aku lalu pergi bekerja. Mark menanyakan aku tentang Alden, tapi dia tampak jelas merasa tidak nyaman tentang aku yang menjaga Alden dan tetap bersamanya sepanjang waktu.
Mark menanyakan aku tentang rutinitas ku lebih sering dibanding biasanya. Bahkan saat aku mengatakan kepadanya bahwa aku memberi makan Alden, memeriksa dirinya, aku melihat bahwa Mark tampak tidak suka. Aku tidak mengerti kenapa.
'Apakah dia merasa cemburu?'
__ADS_1
Maksudku, aku seharusnya bahagia.
'Bukankah begitu?'
Tapi ada yang berbeda antara suka dan cinta. Aku memang menyukai Mark karena kepribadiannya, bagaimana caranya memperlakukan aku. Tapi aku tidak memiliki perasaan cinta untuknya. Jadi aku tidak mau memberikan harapan palsu kepadanya.
Mungkin dengan berjalannya waktu, aku bisa merasakan cinta untuknya, tapi tidak sekarang. Jadi aku tetap bersamanya hanya sebagai seorang teman saja.
Kami memang sering keluar bersama dengan pergi makan kapanpun kami punya waktu dan aku suka pergi dengannya.
Jadi hari-hariku begitu menyenangkan karena bisa melewati beberapa pekerjaan yang cukup sulit dan aku bahkan sukses melakukan operasi terhadap pasien.
Waktunya bagiku untuk pergi saat Mark bertanya kepadaku.
"Apa kau mau pergi menonton film denganku besok, kumohon?" Ucapnya.
"Ya tentu aku sangat suka untuk pergi denganmu." Balas ku.
Ini sudah cukup lama kami hanya pergi untuk makan dan menonton film adalah hal yang pertama untuk kami lakukan.
"Baiklah, sekarang kau bisa bebas lebih awal besok dan pulang ke rumahmu. Setelah itu kita akan pergi. Jadi jam 06.00 waktunya aku akan ada di depan pintu rumahmu." Ucapnya dengan mata yang tampak berbinar.
"Siap bos." Balas ku.
"Mark ada apa?" Ucapku padanya.
"Apa?" Ucapnya bertanya balik kepadaku.
"Kenapa kau tidak menonton filmnya? Apakah filmnya tidak menarik atau ada suatu hal yang aneh di wajahku?" Tanyaku kepadanya.
"Hanya saja aku tidak menemukan hal lain yang lebih menarik dibandingkan dirimu. Jadi kenapa aku harus menonton film saat aku bisa melihat sesuatu yang sangat cantik di hadapanku." Ucapnya.
Aku seharusnya tidak menaruh blush on di wajahku karena pipiku sekarang terasa 10 kali jauh lebih merah.
'Apakah Mark tengah menggodaku atau Aku tengah bermimpi?'
Tidakkah dia membuat semuanya tampak nyata. Dia mau mengambil sebuah langkah, tapi dia tidak langsung mengatakannya secara jelas.
"Diam lah dan tonton filmnya Mark. Filmnya sangat menarik." Ucapku.
"Tidak." Ucapnya merengek seperti seorang bayi.
"Mark lihatlah ke depan atau aku akan memukuli mu sampai kau tidak menginginkannya." Ucapku.
__ADS_1
Aku mendengar dia menghela nafas yang aku pikir itu terdengar menggemaskan.
Setelah film itu kami lalu makan dan dia tampak menggemaskan. Hal itu membuat aku ingin memeluknya sampai dia kehilangan nafasnya. Aku pernah melihat Mark begitu peduli, intelektual dan juga menggemaskan. Tapi hari ini dia tampak berbeda. Dia terlihat benar-benar terbuka padaku. Dia tidak lagi menutupi jati dirinya.
Setelah itu, dia pun mengantar aku pulang.
Aku mengajaknya masuk ke dalam rumah dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan mulai melihat-lihat sekeliling. Aku tahu siapa yang sedang dia cari.
"Dia tidak ada di rumah Mark." Ucapku.
"Oh Kemana dia pergi?" Tanya Mark.
"Aku tidak tahu. Dia hanya sudah membaik dan kemudian pergi dengan menaruh catatan di lemari pendingin yang mengatakan bahwa dia akan pergi selama 5 hari." Ucapku.
Mata Mark berbinar seperti berlian. Dia menyeringai seolah dia sudah memenangkan sebuah balapan. Dia benar-benar seperti anak kecil.
"Ini sudah larut Mark. Kau harus pulang." Ucapku.
"Oh iya baiklah." Balas Mark seolah aku sudah mengacaukan momen kemenangannya.
Kami lalu berpelukan sebentar tanda perpisahan dan dia pun keluar rumah. Aku menutup pintu dan hendak masuk ke dalam kamarku tapi sesaat kemudian, aku mendengar suara bel pintu berbunyi. Aku lantas kembali membuka dan melihat Mark berdiri disana. Dia pun mengatakan bahwa mobilnya rusak dan mobil itu tidak bisa hidup lagi dan tidak ada taksi di waktu seperti ini.
"Oh tidak masalah, kau bisa menginap di sini malam ini." Ucapku padanya.
"Iya terima kasih Starla." Balasnya.
Dia langsung masuk ke dalam rumah dan aku menunjukkan kamar tamu kepadanya.
"Tidak bisakah aku tidur bersamamu di kamarmu?" Ucapnya.
"Tidak Mark. Apa masalahnya dengan kamar ini?" Tanyaku kepadanya.
"Ah tidak ada, hanya saja aku merasa senang berada di dekatmu." Ucapnya.
"Kita sebenarnya berada di rumah yang sama Mark, tetaplah di sini. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya kepadaku, oke." Ucapku.
"Baiklah." Balasnya.
Tentu saja dia mengharapkan sesuatu yang lebih.
Aku lalu mengganti pakaianku dan hendak tidur, namun aku kembali mendengar suara ketukan di pintu kamarku.
'Apa lagi sekarang?' ucapku dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....