
Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku merasa, mungkin aku sudah salah mendengar ucapanya itu. Dia pasti mengatakan 4 hari, dan bukannya 4 bulan.
"Apa kau serius?" Tanyaku memastikan apa yang dia ucapkan tadi.
"Iya, aku tahu 4 bulan itu tentu sangat lama. Tapi itu adalah pekerjaan yang sangat penting. Ada grup ******* yang membuat masalah dan menyebabkan ada banyak nyawa yang melayang. Mereka bertindak begitu kejam dengan memisahkan banyak keluarga. Mereka memaksa anggota keluarga yang laki-laki untuk mengikuti pasukan mereka, membunuh orang-orang tak bersalah tanpa alasan, dan mencuri hampir semua yang orang-orang miliki. Sebenarnya pihak kepolisian sudah mencoba untuk menghentikan mereka beberapa kali. Tapi mereka tidak bisa dilawan dengan mudah. Mereka itu tidak menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang. Dan sekarang ini, ada berita bahwa mereka tengah merencanakan tiga ledakan di tiga negara yang berbeda. Jadi aku harus menghentikan mereka sebelum terpambat, dan untuk itulah aku harus pergi." Ujar Alden panjang lebar menjelaskan semuanya padaku.
Semua itu membuatku sangat terkejut. Aku membeku, hanya bisa mematung mencoba mencerna semuanya. Itu semua terlalu berbahaya untuknya. Aku takut terjadi sesuatu kepada dirinya saat melaksanakan tugasnya itu.
"Tapi itu sangat bahaya Alden, terlalu beresiko untuk keselamatanmu." Ucapku.
Aku benar-benar tidak rela jika dia harus pergi untuk melakukan misi berbahaya seperti itu. Apalagi setelah mendengar apa yang dia jelaskan tentang ******* itu yang sangat kejam membuatku berpikir bahwa misi yang akan dia laksanakan kali ini aangat berbahaya dan bahkan bisa dikatakan misi bunuh diri.
Bagaimana tidak, Alden sendiri sudah tahu jika para ******* itu sangat ganas dan tak kenal ampun. Bagaimana jika nantinya Alden tertangkap dan para ******* itu tidak akan mengampuni dirinya.
"Ini adalah pekerjaanku, jadi jangan khawatir tentang diriku. Katakan saja kepadaku apakah kau akan baik-baik saja di sini?" Tanya Alden.
"Iya, tentu saja aku akan baik-baik saja." Balas ku dengan sedih.
Aku begitu khawatir memikirkan dirinya, tapi dia malah sibuk memikirkan aku yang ada disini. Memangnya bahaya apa yang bisa mdngintaiku disini?
"Jujur saja, aku sangat membenci pria bermana Mark itu. Tapi aku tahu bahwa dia akan melindungi mu dengan baik. Aku minta padaku untuk jangan terlalu dekat dengannya saat aku tidak ada di sekitarmu atau aku akan membunuh pria itu saat aku kembali nanti." Ucap Alden dengan wajah yang tampak begitu serius.
"Hentikan!!! Dia itu pria yang gentlemen dan sangat baik." Ucapku tertawa kecil.
__ADS_1
Meski bibirku bisa tertawa, sejujurnya aku masih tidak bisa menghindari perasaan sedih yang ada dalam diriku karena Alden akan meninggalkan aku dengan begitu lama dan itu untuk misi yang sangat berbahaya.
Aku takut jika nantinya sesuatu terjadi padanya dan kami tidak akan bisa bertemu lagi. Mungkin semua perasaan gelisah yang aku rasakan terlihat sangat jelas di wajahku karena Alden langsung memegang daguku dengan tangannya dan membuatku melihat langsung ke matanya.
"Hei, aku berjanji bahwa aku akan kembali. Aku tidak akan meninggalkanmu selamanya." Ucap Alden yang membuat hatiku begitu bahagia.
"Baiklah, aku akan menunggumu kalau begitu." Balas ku dengan tersenyum tulus.
Daguku terasa terangkat hanya untuk melihat matanya yang indah. Dia mendekat ke arahku dan membuat jarak wajah kamu hanya tersisa beberapa cm saja. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang menghangat menerpa wajahku. Setelah hidung kami mulai bersentuhan, aku mulai menutup mataku.
Detik berikutnya, aku merasakan bahwa bibirnya sudah mulai menyentuh bibirku. Aku merasa begitu nyaman dengannya setiap kali dia menciumku, ciumannya itu terasa membuat hatiku menghangat dan begitu berarti bagiku.
Tiba-tiba udara dingin membuatku gemetar. Alden menutup tubuhku dengan sebuah selimut dan dia kemudian berdiri. Aku melihat ke arahnya dan dia langsung menarik ku dalam pelukannya. Setelah itu dia lalu mengangkat tubuhku untuk menggendongku dan lenganku pun melingkar di lehernya.
"Alden, aku bisa berjalan. Turunkan aku." Ucapku dengan pipiku yang terasa menghangat.
"Aku tidak mau melakukannya." Balas Alden tersenyum yang membuat hatimu semakin meleleh dengan senyuman di wajah tampannya itu.
Dia lalu membawaku masuk ke dalam kamar dan kemudian menurunkanku di atas tempat tidur.
"Kapan kau akan pergi?" Tanyaku.
"Besok pagi." Balasnya.
__ADS_1
Aku tidak mau dia pergi. Aku tahu bahwa aku pasti akan sangat merindukannya. Aku sudah tinggal bersamanya begitu lama. Sekarang aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku tidak bisa memikirkan bagaimana kesepiannya aku tanpa dirinya nanti. Di momen yang seperti itu, aku pun mulai yakin bahwa aku memang mencintai Alden.
Tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu kepadanya sekarang. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku karena dia akan pergi besok. Mungkin aku akan mengatakannya setelah dia kembali nanti.
Memikirkan dia yang akan pergi besok dan tak kembali selama 4 bulan, membuatku berpikir untuk menghabiskan waktuku dengannya malam ini. Entah dari mana datangnya pikiranku itu, aku ingin dia berada disisiku saat aku tertidur sepanjang malam ini.
"Bisakah kau tidur bersamaku malam ini?" Tanyaku dengan malu.
Jujur saja, aku sangat malu untuk meminta hal itu padanya. Aku takut jika dia berpikir bahwa aku ini perempuan yang agresif atau lebih parahnya murahan. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk memintanya agar bisa tetap bersamaku malam ini.
"Apakah kau yakin kau mau aku menemanimu?" Tanya Alden tidak percaya.
Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. Aku benar-benar mau dia bersamaku malam ini. Aku tidak mau dia pergi, tidak hari ini.
Dia lalu mendekat ke arahku dan mencium keningku. Aku pun melingkarkan lenganku di lehernya. Dia lalu semakin menunduk dan setelah itu, dia menekan bibirnya ke arah bibirku dan mulai menciumku dengan sangat lembut. Aku pun membalas ciumannya dengan hasrat yang sama. Aku menutup mataku dan membuat ciuman kami jadi lebih baik. Dia menciumku dengan begitu dalam dan perlahan kami mulai berciuman dengan begitu penuh hasrat.
Lambat laun, hasrat itu berubah menjadi lebih panas dan semakin liar. Kami terus berciuman sampai aku bahkan mengeluarkan suara rintihan yang keluar dari mulutku. Tangannya perlahan mulai menjelajah tubuhku, membuat aku kehilangan pikiranku dan kendali atas tubuhku sendiri. Aku menghentikan ciuman kami dan mulai menggodanya dengan ciuman lembut yang aku tempatkan di lehernya.
Setelah itu kami berdua mulai mengeksplor tubuh kami masing-masing dengan ciuman dan setelah itu aku tidak menyangka bahwa aku dan Alden malah melakukan hubungan terlarang itu. Jujur saja, itu adalah pengalaman terbaik yang pernah aku lakukan dan kami pun akhirnya berbaring dengan memeluk satu sama lain dengan tubuh tang penuh keringat dan merasa kelelahan, juga lega di saat yang bersaman.
Dengan senyuman di wajah kami, kami berdua pun tertidur dalam pelukan satu sama lain.
Bersambung....
__ADS_1