
Aku tidak bisa menghubungi Alden. Aku juga tidak bisa menghubungi Daniel. Jadi aku hanya akan menunggu para anggota geng Vipers itu untuk datang dan membunuhku.
'Ironis sekali ya!'
Aku bersumpah bahwa aku merasa begitu ketakutan sekarang. Kematian adalah hal yang paling aku takutkan dan membuat aku begitu panik.
Aku langsung berlari ke arah kamar Alden. Dia pasti punya sebuah senjata. Dia pasti memilikinya. Aku lalu memeriksa kamar Alden. Kamarnya begitu bersih dan semuanya diatur begitu rapi. Aku melihat dia memiliki sebuah catatan yang dia tinggalkan menempel di cermin.
'Hai kau kucing nakal. Apa yang kau lakukan di sini? Kau terlambat. Bagaimanapun semua ini milikmu kamar ini barang-barang ku semuanya milikmu.'
Aku sangat merindukanmu Alden. Air mata mulai turun ke pipiku. Aku mengusapnya dengan cepat dan melihat sekeliling kamarnya. Di dalam laci aku menemukan sebuah senjata. Aku langsung mengambil senjata itu yang ternyata masih berisi peluru. Beberapa saat setelah itu, aku mendengar beberapa suara yang bising.
Seseorang pasti sudah merusak sesuatu di area taman. Aku memegang senjataku dengan erat dan menaruhnya di dalam saku celanaku dan dengan semua kekuatanku aku keluar dari dalam kamar.
Aku harus menunjukkan semua keberanian ku hari ini. Aku lalu melihat ketiga orang pria yang aku lihat di dekat supermarket tengah di dalam rumahku berjalan seolah merekalah yang merupakan pemilik rumah ini. Aku pun memanggil mereka.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di rumahku?" Ucapku kepada mereka.
Aku tidak bisa menunjukkan kepada mereka bahwa aku mengenali mereka. Jadi aku harus berpura-pura seolah aku tidak mengenal siapapun.
"Nona Starla William?" Ucap salah seorang dari mereka.
"Iya, itu aku. Ada apa? Kenapa kau merusak rumahku? Tanyaku lagi.
"Apa kau mengenal Alden Smith?" Ucap salah seorang dari mereka.
'Apa? Alden! Bagaimana dia bisa terlibat sekarang dengan para anggota geng ini?'
Aku bersumpah aku akan menarik rambutnya saat dia pulang nanti. Para pria di depanku ini adalah anggota dari geng brutal Black Viper yang membunuh keluarga Daniel dan sekarang berada di rumahku untuk menanyakan tentang Alden.
"Jangan mencoba untuk bertingkah pintar Nona, karena kami tahu apa yang kau lakukan. Kami adalah musuhnya dan kami juga tahu dia tidak ada di sini." Ucap mereka lagi.
__ADS_1
Mereka lalu mengeluarkan senjatanya dan mengacungkannya ke arahku.
"Tapi kami membutuhkanmu. Jadi kau harus ikut dengan kami." Ucap mereka lagi.
Aku dengan cepat mengacungkan senjataku kepada mereka juga.
"Kau jangan berani untuk bergerak maju atau aku akan menembak mu." Ucapku dengan berteriak sangat keras.
Mereka mulai menertawakan aku. Tiba-tiba salah satu dari mereka membuat gerakan yang sangat cepat dan sebelum aku bisa menarik pelatuk, dia sudah menendang senjata itu dari tanganku. Senjata itu terjatuh ke lantai dan aku hanya bisa merasakan sakit di tanganku akibat dari tendangan itu.
"Kami adalah anggota dari sebuah geng yang berbahaya. Jangan pikir bahwa kami ini hanyalah pencuri bodoh. Jika kau bisa menutup mulutmu dab bekerjasama dengan kami maka nyawa mu bisa selamat." Ucap mereka.
Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada diriku. Aku malah meludahi wajah pria itu.
"Dasar kau wanita ******! Aku bisa saja membunuhmu di sini jika saja bukan bos ku yang memerintahkan aku untuk membawamu hidup-hidup." Ucapnya.
Dia memukuli aku dan membuat aku terjatuh ke lantai. Dua orang pria memegang tanganku dan mengikatnya juga dengan kakiku dengan gerakan yang cepat seolah mereka sudah terlatih melakukan hal itu sejak sangat lama. Aku seolah merasa bahwa semua ini seperti terasa dejavu bagiku.
Saat anggota geng yang dulu itu menculik ku, itu sama seperti hari ini. Perbedaannya hanyalah Alden menyelamatkan aku, tapi sekarang aku pasti akan mati.
"Kami akan membawamu ke bos kami. Kau harus tetap diam." Ucap pria itu.
Mereka selalu saja membawaku pergi ke bos mereka seperti aku ini hanyalah kantung sampah. Aku menangis atas takdir yang terjadi kepadaku ini. Kenapa hal ini terjadi lagi?
Mereka lalu mendorong ku masuk ke kursi belakang dari mobil hitam yang aku lihat di supermarket tadi.
Entah kenapa para pria itu belum juga masuk ke dalam mobil dan aku perlahan mencoba untuk membuka pintu mobil dan detik berikutnya aku melihat ketiga pria itu sudah terbaring tak bernyawa dan di sana ada seorang pemuda yang terlihat masih memukuli para pria yang sudah mati itu.
Aku melihat mendekat dan mendapati seorang pemuda yang aku panggil sebagai adikku yang entah dari mana datangnya dan dia tampak berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya.
"Daniel...." Ucapku dengan suaraku yang penuh dengan perasaan.
__ADS_1
Aku diselamatkan lagi dan di depanku ada pemuda yang begitu kuat yang tampangnya begitu terluka penuh amarah dan terus saja memukuli tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Dia berbalik setelah mendengar suaraku dan menatapku dan air matanya mulai kembali turun dengan deras.
"Mereka membunuh orang tuaku dan sekarang mereka akan membawamu, satu-satunya orang yang aku punya." Ucapnya dengan menangis.
Suaranya membuat air mataku mulai terjatuh juga.
Dia meninggalkan tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu dan berlari mendekat ke arahku dan membuka ikatan tali di tanganku dan kakiku dengan cepat. Lalu dia memelukku dengan sangat erat seolah dia takut akan kehilangan diriku.
"Aku baik-baik saja Daniel. Kau sudah menyelamatkan aku." Ucapku dengan isak tangisanku memeluknya erat.
"Bagaimana... bagaimana mereka bisa mengenal Kakak? Mereka bahkan tidak mengenal diriku." Ucap Daniel dengan menelan ludah dan bertanya kepadaku.
"Ayo kita masuk ke dalam lebih dulu, kita harus mendiskusikan banyak hal." Ucapku kepada Daniel.
Setelah mengusap air mataku dan juga air matanya, kami masuk ke dalam rumah. Para penjahat itu membobol rumah dengan cara melakukannya dengan begitu berhati-hati. Tidak ada hal yang rusak di dalam rumah, kecuali kaca dari sebuah jendela kecil saja.
Daniel duduk di ruang tamu, dan aku membawakan segelas air untuknya. Dia menelan air itu dengan cepat dan mengambil nafas dalam. Aku mengambil tempat duduk di depan dirinya. Kami berdua merasa begitu syok dan duduk memikirkan apa yang baru saja terjadi sekarang.
"Aku membunuh orang untuk pertama kalinya." Ucap Daniel.
Sebelum aku bisa bicara, dia melanjutkan ucapannya.
"Mereka mau membawa Kakak pergi. Oh ya Tuhan. Masalah apa yang mereka punya denganku? Kenapa mereka membawa orang-orang yang aku cintai? Bagaimana mereka bisa mengetahui tentang Kakak?"
"Mereka menanyakan kepada ku tentang Alden. Mereka bilang bahwa mereka adalah musuh dari Alden." Ucapku.
"Mereka mengenal kekasih Kakak juga? Dia pasti akan membunuh mereka semua. Dia adalah petarung yang hebat. Mereka mungkin tidak tahu dengan siapa mereka berurusan sekarang." Ucap Daniel.
Aku tidak bisa menahan diriku tapi langsung merona setelah mendengarkan ucapannya itu yang menyebut Alden sebagai kekasihku.
"Ke mana saja kau pergi selama ini? Kau membuat kami semua khawatir dan bagaimana kau tahu tentang apa yang akan menimpa diriku?" Tanyaku kepada Daniel.
__ADS_1
Dia tampak terdiam dan kemudian menghela nafasnya. Dia seperti tengah mencoba menyiapkan dirinya untuk menceritakan semuanya.
Bersambung...