
Alden mencium leherku yang membuat tubuhku terasa begitu gemetar.
"Alden lepaskan aku. Mark sudah menunggu." Ucapku berusaha melepaskan diriku dari cengkraman Alden.
"Oh Mark sialan itu... Aku akan menggila." Ucap Alden.
Jika Alden tidak menghentikan semua ini sekarang juga, aku kemungkinan akan kehilangan kendali akan diriku sendiri dan aku tidak mau hal itu terjadi.
"Starla, aku ada di dalam mobil. Keluarlah secepatnya." Ucap Mark di seberang kamarku.
Aku dengan cepat mendorong Alden yang tampak kecewa keluar dari kamar dan memperingatkan dirinya untuk tidak mengulangi hal itu lagi di mana dia tampak begitu kesal.
Aku mengenakan sebuah sweater oversize dan jeans. Setelah itu lalu keluar dan pergi menemui Mark yang sudah bersabar menunggu diriku yang cukup lama. Kami pun pergi ke sebuah tempat yang nyaman untuk hangout dan memesan makanan favoritku.
"Starla, bisakah aku menanyakan sesuatu yang mengganggu diriku?" Ucap Mark.
"Tentu saja." Balas ku.
"Apakah kau menyukai dirinya?" Tanya Mark lagi.
"Apa? Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?" Tanyaku gugup padanya.
"Kau tidak mengatakan tidak." Balas Mark dengan suara yang terdengar sedih.
"Mark semuanya bukan seperti itu. Aku tidak tahu tentang perasaanku sendiri Aku tidak bisa berbohong. Entah kenapa aku memang semakin dekat dengannya lebih dari sebelumnya." Ucapku jujur.
"Katakan saja kepadaku bahwa aku masih punya kesempatan untuk memenangkan dirimu. Tolong jangan menyerah padaku. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya untuk orang lain. Aku akan melakukan apapun untukmu, hanya biarkan aku untuk tetap mencobanya." Ucap Mark.
Aku hanya bisa diam.
"Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkanmu menjauh dari hidupku. Kau adalah sahabat baikku, orang yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak mau kehilangan dirimu, jadi berjanjilah kepadaku bahwa kau akan selalu bersamaku selamanya." Ucap Mark kepada ku lagi.
"Tentu saja aku akan melakukannya." Balas ku.
"Apakah kau sudah memikirkan untuk pindah dari rumah itu Tanya Mark.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Mark. Aku tinggal di sebuah tempat yang paling nyaman di kota ini. Aku punya Tia, pelayan kami di rumah. Rumah itu sangat indah dan aku tidak punya alasan untuk bisa meninggalkan rumah itu. Kau mengerti kan? Aku minta maaf Mark. Aku tahu Alden sangat kasar kepadamu. Tapi aku bersumpah bahwa dia itu tidaklah buruk. Dia membantuku beberapa kali dan aku berhutang budi kepadanya." Ucapku mencoba menjelaskan semuanya kepada Mark.
"Iya, aku mengerti. Baiklah, tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksa apapun terhadap dirimu. Aku memang membencinya, tapi tidak berarti kau harus pindah. Aku minta maaf." Ucap Mark.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah aku benar-benar berpikir. Aku memikirkan bagaimana aku bisa mengatakan kepada Mark bahwa aku tidak mau mengacaukan pertemanan ku dengan dirinya dan aku merasa setidaknya untuk sekarang aku lebih tertarik kepada Alden dibandingkan dirinya. Aku tidak mencoba untuk membodohi dirinya atau apapun itu. Aku hanya ingin memberikan diriku beberapa waktu sebelum membuat semuanya terasa pasti.
"Kita sampai. Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini Starla." Ucap Mark.
Seperti seorang pria gentleman yang begitu sempurna, Mark membuka pintu mobil untukku. Saat aku berjalan keluar, dia memegang tanganku dan memelukku.
Aku hendak pergi saat Mark menghentikan aku dan memegang tanganku. Dia lalu mencium keningku.
"Bye Mark, sampai bertemu besok." Ucapku melambaikan tangan kepadanya.
Setelah Mark sudah pergi, aku kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat Alden yang tampak begitu marah menatapku.
"Apa?" Tanyaku bingung.
"Beraninya dia mencium mu!" Ucap Alden tampak begitu kesal.
"Sama seperti yang kau lakukan." Ucapku tertawa.
"Alden, apa yang kau lakukan?" Ucapku.
"Membersihkan kuman dari dirimu." Balasnya.
"Oh ayolah Alden, kenapa kau begitu posesif padaku." Ucapku.
"Karena kau adalah milikku." Balas Alden yang akhirnya mengatakan hal itu.
"APA??" Ucapku.
"Kau adalah milikku Starla. Hanya milikku. Aku tidak mau membiarkan pria lain menyentuh wanitaku." Balasnya.
'Wanitaku? Sial!'
__ADS_1
Aku tiba-tiba langsung merasa gugup dan tidak tahu bagaimana untuk bereaksi setelah mendengarkan ucapannya itu.
"Oh diam lah!" Ucapku dan berlari masuk ke dalam kamarku tanpa melihat ke belakang lagi.
Aku menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan merasa ada yang mengguncang di dalam perutku.
'Apakah ini yang disebut orang-orang dengan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut?'
Aku menutup wajahku yang terasa memanas dengan bantal. Aku tersenyum seperti orang gila.
'Kenapa ini membuatku begitu bahagia? Apakah dia juga menyukai aku atau hanya mau mempermainkan aku?'
Dia itu terlihat seperti seorang pria playboy. Aku harus tidak boleh kehilangan pikiranku hanya karena hal kecil itu.
Aku tengah berbaring di dalam kamarku dengan posisi yang sama dan aku tidak tahu sudah berapa lama aku melakukannya. Entah dari mana aku mendengar suara dari sebuah kertas yang dirobek. Aku bangun dari atas tempat tidur dan melihat ada sebuah kertas yang berada di bawah pintu kamarku. Aku pun bangun dan mengambil kertas itu lalu membuka kertas itu dan membacanya.
'Datanglah ke taman dengan cepat...'
Aku lalu menggunakan sandalku dan bergerak dengan cepat menuju area taman, di mana bagian itu adalah tempat yang paling indah di rumah ini.
Tiba di sana, aku begitu terkejut melihat pemandangan yang disajikan di depan mataku.
Ada sebuah tempat duduk yang empuk di tanah dengan kanopi menggemaskan yang ditutupi dengan kain berwarna putih. Apa yang membuat mataku berbinar adalah seluruh area itu di penuhi dengan cahaya yang indah dan juga beberapa lentera.
Di sana juga tertata dengan begitu indah diatas meja, ada makanan manis dan minuman. Semuanya disiapkan oleh Alden dengan musik romantis yang dimainkan yang membuat hatiku menghangat. Semua itu benar-benar membuatku terasa meleleh dan aku hanya berdiri di sana dengan mematung memandangi semuanya.
Itu semua membuatku begitu bahagia. Alden mendekat ke arahku lalu memegang tanganku dan membuat jarak diantara kami begitu dekat. Dia pun mengajak aku duduk dan aku akhirnya bertanya padanya.
"Untuk apa semua ini? Maksudku ini sangat indah. Aku benar-benar benar terpesona." Ucapku.
"Apa kau menyukainya? Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu karena kau sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku dan juga menjadi teman bicara denganmu." Ucap Alden.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu Alden. Kau selalu ada untukku, membantuku dengan banyak hal. Kau menyelamatkan hidupku. Bicara tentang tentang semua itu, aku tidak pernah tahu bahwa kau mulai menjadi orang yang terpenting dalam hidupku. Aku pikir kau hanyalah berandalan dari keluarga kaya yang tinggal di rumah mewah ini karena uang milik papamu." Ucapku.
"Don't judge the book by its cover. Baiklah, sekarang makan kue yang sudah aku panggang ini. Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu tentang diriku." Ucap Alden.
__ADS_1
Setelah itu dia lalu menyuapi aku dengan sesendok penuh kue coklat yang lezat dan meleleh di dalam mulutku.
Bersambung....