Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Rumah Baru


__ADS_3

"Aku mendengar kau bicara dengan seorang pemilik rumah yang ingin kau sewa rumahnya sebagai tempat tinggal. Aku tahu sebuah tempat dan aku pikir bahwa kau akan menyukainya. Apakah kau mau mencoba untuk melihatnya?" Ucap wanita itu.


"Tentu, aku sudah begitu putus asa mencari sebuah tempat yang bisa aku sebut dengan rumah tapi tidak ada dari semua rumah yang aku lihat membuat aku merasa puas. Jadi aku mau mencoba untuk melihat rumah yang kau tawarkan itu." Ucapku kepadanya.


"Ayo ikut aku pergi ke mobilku. Rumah itu tidak terlalu jauh, kita akan sampai dengan cepat." Ucap wanita itu.


Aku dan Daniel lalu duduk di dalam mobil dan wanita itu pun membawa kami ke sebuah rumah.


Kami keluar dari dalam mobil dan mataku begitu membelalak.


Gaji ku yang selama 5 tahun dan kontrak kerja seumur hidupku juga tidak akan bisa menyewa rumah itu. Rumah itu seperti rumah milik selebriti.


"Siapa yang tinggal di sini? Apa ini rumahmu?" Tanyaku kepada wanita itu.


"Tidak, ini bukan rumahku Nona. Aku hanya manajer yang mengelola tanah rumah ini. Pemiliknya tidak tinggal di sini. Rumah ini baru, tapi satu hal yang aku lupa, dia mengatakan bahwa anda harus berbagi rumah ini dengan seseorang." Ucapnya padaku.


"Oh baiklah tidak masalah, aku juga tidak bisa untuk tinggal di rumah ini sebesar ini sendirian. Jadi siapa dia? Apakah dia tengah bekerja?" Tanyaku kepada wanita itu.


"Dia sudah tinggal di rumah ini Nona. Dia baru saja pergi bekerja dan mungkin dia akan kembali dalam satu atau dua hari." Balas wanita itu.

__ADS_1


"Siapa namanya?" Tanyaku kepada wanita itu lagi.


"Aku tidak melihatnya Nona. seseorang hanya bicara melalui telepon dan mengambil rumah ini. Aku rasa namanya adalah Edi, usianya sama seperti dirimu."


Wanita itu lalu memperlihatkan aku seisi rumah itu.


Rumah itu benar-benar indah. Memiliki bangunan dua lantai dengan dapur, ruang tamu ruang makan dan semuanya sudah diisi dengan banyak perabotan.


'Aku tidak pernah melihat rumah seperti ini.'


Wanita itu menyadarkan aku dari pikiranku, dengan mengatakan, "kau bisa mengambil lantai pertama ini dan penyewa lainnya sudah mengambil lantai atas."


"Aku tahu aku sangat menyukainya tapi bahkan jika aku menjual perhiasan yang aku punya aku tetap tidak bisa membayar semua ini Adik manis. Ini semua akan menyita seluruh tabunganku." Ucapku dengan sedih.


"Oh tidak... tidak." Balas wanita itu. "Orang yang tinggal di sini bersamamu sudah membayar semua bangunan ini termasuk dapur, ruang makan, ruang tamu dan yang lainnya. Lantai atas memiliki lebih banyak kamar dan lebih spesifik lagi. Kau hanya perlu membayar kamar tempatmu tidur saja dan itu tidak terlalu mahal." Lanjut wanita itu.


"Tunggu dulu! Jadi dia sudah membayar semuanya? Apakah aku tidak akan bisa menggunakan dapur dan ruang tamu? Itu kan seharusnya bagi dua." Ucapku kepada wanita itu.


"Kau bisa mengaturnya bersama mereka." Balas wanita itu. "Untuk sekarang kau hanya diminta untuk membayar kamar tempat kau tidur dan kau bisa pindah kemari." Lanjut wanita itu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Bisakah kau memberikan aku nomornya." Tanyaku kepada wanita itu.


"Oh aku tidak memiliki nomornya Non. Aku hanya diminta untuk menemukan orang yang bisa menyewa kamar ini. Tapi kau akan bertemu dengan mereka secepatnya. Kau bisa pindah hari ini juga." Ucap wanita itu.


"Baiklah kalau begitu aku akan pergi sekarang. Kau bisa mentransfer uangnya di account bank ini hari ini juga. Jika kau punya sesuatu yang ingin kau tanyakan, kau bisa menelpon nomor ini." Ucap wanita itu memberikan aku sebuah kartu dengan nomor telepon dan rekening bank juga.


"Kak!" Ucap Daniel yang tampak penasaran tentang sesuatu dan aku bisa tahu apa itu.


"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan adik kecil." Ucapku tersenyum. "Kenapa dia begitu terburu-buru? Bagaimana dia tidak mengetahui orang yang tinggal di sini? Bagaimana dia tidak memiliki nomor orang itu? Siapa yang membayar sewa rumah ini dan hanya satu kamar yang tidak mau dia sewa dan yang paling penting, kenapa dia meminta ada orang lain yang menemani mereka? Apakah akan ada orang lainnya yang tinggal di sini? Bukan begitu yang ingin kau tanyakan?" Ucapku kepada Daniel.


"Iya, bagaimana kau bisa tahu seolah kau bisa membaca pikiranku Kak." Ucap Daniel.


"Adik kecil, sejujurnya aku tidak tahu. Mungkin saja ada sebuah keluarga yang tinggal di sini. Mungkin saja ada kemungkinan jika mereka mau menyewakan salah satu kamar di rumah ini karena sudah begitu cukup ruangan di rumah ini tapi dia hanya menyebut satu nama yaitu Edi, dan yang lainnya mungkin hanya berkunjung suatu saat. Aku tidak peduli, rumah ini sangat indah. Aku menyukainya, jika kau tidak berpikir seperti itu, aku akan pindah. Tapi untuk sekarang, aku benar-benar ingin untuk pindah dari kamar hotel itu." Ucapku.


"Baiklah, kalau begitu bisakah aku tinggal bersamamu beberapa waktu?" Tanya Daniel.


"Oh kenapa kau bahkan bertanya? Kau tentu saja akan tinggal bersamaku." Balas ku padanya.


Jadi seperti itulah, kami pun pindah ke rumah yang begitu indah ini dengan sebuah kamar yang sudah cukup besar dibandingkan dengan kamar hotel tempat aku tinggal beberapa hari ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2