Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Makan Malam Dengan Mark


__ADS_3

"Jasmine adalah orang yang menunjukkan kepadamu rumah ini. Tidakkah dia mengatakan sebagian besar rumah ini adalah milikku." Ucapnya.


"Dia tidak mengatakan kepadaku bahwa seorang pria lah yang akan tinggal di sini bersamaku. Dia hanya menyebutkan nama orang itu Kalau tidak salah Edi yang akan tinggal di sini dan dia tidak tahu apapun." Ucapku.


"Mungkin dia salah dengar saat aku mengucapkan namaku." Ucap pria bernama Alden itu.


"Oh ya Tuhan, tidak. Ini tidak akan mungkin terjadi. Aku tidak bisa berbagi rumah dengan seorang pria." Ucapku.


"Begitu juga denganku Nona. Aku tidak ingin tinggal denganmu. Beberapa wanita lainnya akan tergila-gila untuk mendapatkan kesempatan ini. Kau itu beruntung, kita bahkan tidak bisa keluar dari rumah ini sekarang karena kontrak itu. Tidakkah Kau membacanya? Disana mengatakan bahwa kau tidak bisa meninggalkan rumah ini sebelum setidaknya satu tahun lamanya." Ucap pria itu lagi.


"Aku sudah membacanya bodoh. Aku hanya tidak tahu bahwa aku harus tinggal dengan seorang pria aneh sepertimu


"Ah kau kejam, tapi aku suka itu. Kau sepertinya tengah memasak sesuatu. Tolong dilanjutkan karena aku lapar." Ucapnya lalu membuat dirinya duduk di meja makan dengan nyaman.


Aku tetap berdiri disini mematung memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku lalu menelpon Jasmine di nomor yang dia berikan kepadaku. Tapi nomor itu di luar jangkauan dan tidak bisa aktif.


'Apakah dia mempermainkan aku?'


Perutku mulai berbunyi. Aku harus makan sekarang. Aku lalu pergi ke dapur dan mulai masak makan malam untukku dan sedikit lebih banyak untuknya.


Aku tidak ada berada di posisi yang benar sekarang, aku merasa begitu kelelahan.


"Jadi kau mempunyai sebuah nama atau orang-orang memanggilmu Tuan Putri yang gila?" Ucapnya.


Aku tidak membalasnya, aku tidak butuh menyia-nyiakan waktuku dan tenaga yang aku punya untuk makhluk yang tidak punya otak itu. Dia terus menanyakan ku beberapa pertanyaan dan mencoba untuk mengobrol dengan menonton aku yang tengah memasak.


Setelah itu tak lama kemudian, aku selesai menyiapkan makanan dan menyajikannya untuk kami berdua.


"Wah, kau sudah seperti istriku tanpa pernikahan." Ucapnya.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan ucapannya dan duduk untuk menyantap makananku.


Dia makan dalam diam dan saat saat aku selesai, aku mencuci piringku.


Dia mendekat ke arahku dan berkata, "aku sudah membuatmu kesal, tapi kau tetap menyiapkan dan menyajikan makanan untukku. Kau adalah wanita yang baik."


Setelah itu dia lalu pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya dengan sikapnya yang entah kenapa seolah sudah mencuri hatiku. Aku menyadari bahwa aku merona setelah mendengarkan ucapannya itu.


Sebenarnya itu semua terasa mengganggu karena memiliki seorang yang asing tinggal bersamamu dan membuatmu merasa kesal. Tapi dia begitu tampan dan aku sudah tidak sendirian lagi di rumah ini. Jadi aku rasa ini cukup baik untukku.


Keesokan paginya aku menyiapkan sarapan untuk kami. Aku menyantap sarapanku dan bersiap untuk pergi bekerja. Aku tidak tahu apakah dia masih ada di rumah atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah dia akan makan atau tidak. Tapi aku hanya merasa bahwa aku harus menyiapkan sedikit lebih banyak makanan yang tentu tidak akan merugikan aku.


Aku lalu pergi dan ingin fokus kepada pekerjaanku dengan segera berangkat ke rumah sakit.


Aku tiba di rumah sakit tepat waktu dan segera berkumpul dengan beberapa pekerja lainnya. Aku merasa senang di sini bersama dengan orang-orang baik. Mereka bersikap begitu manis dan sering membantuku. Kami semua berada di bawah pengawasan Mark.


Semua orang melihat ke arahku dengan tampak tidak percaya. Tapi mereka hanya melupakan semua itu seolah berpikir bahwa itu semua dilakukan Mark karena sebuah pilihan acak saja, dan aku sendiri juga mempercayai hal itu. Aku tidak mau orang-orang membenci aku karena Mark yang memilihku.


Tapi tetap saja aku merasa begitu tidak enak hati. Aku pun berusaha berpikir bahwa ini semua hanya profesional dalam bekerja saja. Aku seharusnya tidak bahagia karena hal ini. Aku lalu pergi ke ruangan operasi dan disana Mike membiarkan aku melakukan beberapa tugas kecil.


Operasi pun selesai dan saat kami keluar Mark bicara padaku.


"Kau melakukan pekerjaan yang baik hari ini Starla."


"Terima kasih Mark, kau selalu membantuku atau aku tidak akan bisa melakukan apapun." Balas ku.


"Apakah kau tidak punya acara malam ini? Kita bisa pergi makan malam." Ucap Mark.


'Mark mengajak aku untuk pergi makan malam? Oh ya Tuhan, tentu saja iya aku mau.' Teriakku dalam hati.

__ADS_1


"I... iya. Aku tidak punya acara apapun." Balas ku.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menjemputmu jam 09.00 malam nanti. Kirimkan aku alamat mu." Ucapnya.


Aku dan Mark saling bertukar nomor telepon dan aku rasanya tidak bisa menahan kakiku untuk tetap berada di tanah. Aku benar-benar terasa seperti sedang terbang tinggi ke angkasa.


Aku lalu dengan cepat pulang ke rumah setelah selesai bekerja di rumah sakit dan langsung menuju kamarku, setelah itu aku lalu mandi untuk segera mempersiapkan diriku.


Aku berbaring di atas tempat tidur dan mencubit diriku sendiri untuk memeriksa apakah aku tidak bermimpi.


"Aduh, ternyata ini sakit. Hmmmm.... Baiklah, sekarang aku harus memikirkan apa yang akan aku kenakan." Ucapku.


Aku membuka lemari ku dan setelah berpikir begitu lama, aku lalu mendapatkan sebuah gaun yang akan aku gunakan untuk pergi makan malam nanti dengan Mark.


Aku tak lupa mengenakan make up dan membiarkan rambutku tergerai.


Aku baru saja hendak menyelesaikan semuanya saat aku mendengar suara bel di pintu berbunyi. Aku begitu bahagia dan dengan cepat melompat dan membuka pintu untuk melihat pemandangan yang begitu indah di depan mataku.


Di sana Mark berdiri dengan tampilannya yang terlihat begitu tampan dengan menggunakan semua setelan serba hitam. Dia mengenakan kemeja berwarna abu-abu gelap dengan kancing yang terlihat berkilau.


Dengan sekali lihat saja aku bisa mengatakan bahwa tubuhnya yang begitu sempurna langsung bisa terlihat jelas. Dia menggunakan blazer warna hitam dan juga celana panjang warna hitam. Tangannya berada di dalam saku jas yang dia gunakan dan dia memperlihatkan senyuman yang paling indah di wajahnya.


Saat aku melihat ke arahnya yang berdiri di pintu, jantungku hampir saja terasa berhenti berdetak dan mataku begitu berbinar. Dia lalu menghapus keheningan diantara kami berdua.


"Kau benar-benar wanita yang cantik." Ucapnya.


Aku tidak bisa menahan diriku untuk merona. Pipiku terasa memanas dan aku berterima kasih kepadanya dengan sebuah anggukan bodoh dan hanya tersenyum padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2