Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Kematian Didepan Mata


__ADS_3

"Tuan, dia mengangkat teleponnya."


Aku mendengar suara seseorang.


"Dasar kau orang bodoh. Kau pikir kau akan menang melawanku. Tapi tebak saja. Kau itu begitu amatir karena aku tidak pernah kalah. Kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku sekarang." Ucap seorang pria yang merupakan bos dari mereka itu semua kepada seseorang yang menjadi lawan bicaranya di telepon.


Ada jeda dari pembicaraan mereka. Mungkin saja orang dari seberang panggilan itu tengah membalas ucapannya. Mungkin orang itu mengatakan bahwa itu adalah nomor yang salah.


"Kau masih keras kepala, dasar bodoh. Aku tidak akan terus melangkah sampai mendapatkan apa yang aku inginkan untuk melawan mu, dasar keparat arogan. Aku sudah mendapatkan kekasihmu Starla William. Dia hanya memiliki waktu setengah jam untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya, datang dan selamatkan lah dia jika kau bisa."


Orang yang ada di seberang telepon membalas sesuatu. Orang itu mungkin tidak percaya apa yang bos penculik itu katakan karena pria itu mendekat ke arahku dan berkata padaku.


"Bicaralah wanita ******! Panggil dia, minta dia untuk datang kemari, dia mau mendengar suaramu." Teriaknya.


Aku tetap terdiam. Aku tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Aku tidak punya seorang kekasih. Tentu tidak akan ada orang yang datang untuk menyelamatkan aku.


'Siapa orang yang ada di sambungan telepon ini?'


Aku bahkan tidak bisa menelpon polisi atau orang-orang yang aku kenal. Sudah pasti aku akan mati di sini.

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasakan sebuah pukulan di wajahku. Aku mulai merasa kesakitan di pipiku dan air mataku pun mulai keluar.


"Siapapun kau, aku minta maaf karena sudah membuatmu dalam masalah. Tapi aku adalah Starla William, seorang gadis biasa yang bekerja di rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa mereka menculik ku dan mereka bahkan berpikir aku adalah kekasihmu, padahal aku sama sekali tidak tahu siapa kau. Jadi ku mohon padamu lakukan sesuatu untuk menolong ku, bantu aku dan selamatkan aku." Ucapku dengan mulai menangis.


"Jadi kau sudah puas sekarang? Dia sudah tidak punya banyak waktu yang tersisa. Jadi datanglah kemari sendirian di jalan 123 xx dengan 30 miliar sebagai ganti rugi yang kau berikan kepadaku dan jika aku melihat kau mencoba bertindak bodoh, dia akan mati tanpa ampun. Ingat kata-kataku." Ucap bos dari orang-orang itu dan dia pun mengakhiri panggilannya.


Waktu pun terus berjalan.


Aku bisa melihat kematian ku sudah dekat dan ada didepan mataku.


Tuhan, aku hanya ingin setidaknya bisa bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi terakhir kalinya sebelum aku mati. Setidaknya aku bisa mengucapkan perpisahan pada mereka.


Aku mau berterima kasih kepada Mark karena sudah menjadi teman baikku, karena dia sudah mencintai aku, dan juga selalu menjaga diriku.


Aku mau memeluk Daniel untuk terakhir kalinya dan berterima kasih padanya karena dia sudah mempercayai aku dengan memberikan aku posisi untuk menjadi kakaknya.


Aku mau berterima kasih kepada pelayan di rumah yang selalu baik kepadaku dan selalu membantuku dengan tidak membuka rahasiaku yang tinggal bersama seorang laki-laki saat Mama datang.


Dan yang paling penting, aku mau mengatakan kepada Alden bahwa aku telah jatuh cinta kepadanya. Aku baru menyadari perasaanku padanya.

__ADS_1


Tapi aku sudah pasrah, karena tidak ada seorangpun, tidak akan ada satu orang pun yang tahu bahwa aku di ada sini. Tidak akan ada yang datang untuk membantuku dan menyelamatkan aku dari kematian ini.


Pakaianku sudah basah karena air mataku. Apa kesalahan yang sudah aku lakukan sampai aku harus terlibat dalam hal seperti ini. Aku tidak pernah berurusan dengan orang jahat manapun. Aku tidak pernah mencari masalah. Hidupku lurus-lurus saja. Tapi aku kenapa Tuhan memberikanku masalah seperti ini?


"10 menit lagi." Teriak seorang pria.


Aku sudah pasrah dan berusaha menyiapkan diriku sendiri untuk kematian yang akan segera datang padaku. Aku berharap bahwa para orang jahat itu tidak akan memberikan begitu banyak rasa sakit padaku.


Aku harap jika mereka bisa melakukannya dengan cepat dan tanpa rasa sakit di tubuhku. Jika bisa aku berharap mereka langsung menembak di kepalaku agar aku langsung meregang nyawa tanpa merasakan kesakitan lebih dulu.


"Terima kasih Tuhan, karena sudah memberikanku hidup yang begitu indah, sudah memberikanku keluarga yang penuh kasih sayang dan juga mewujudkan pekerjaan impianku. Jangan buat Mama dan orang-orang yang aku sayangi sedih terlalu lama dengan kepergian ku. Jagalah Mama, Papa, Daniel, Mark dan Alden. Buat mereka selalu bahagia." Ucapku berdoa untuk terakhir kalinya.


Aku tiba-tiba mendengar beberapa suara suara tembakan dan ada sesuatu yang terasa mengenai kursi ku.


'Apakah dia salah menembak? Oh ya Tuhan... Ya Tuhan.... dia akan menembak ku sekarang.'


Pria itu terdengar menarik pelatuknya lagi.


'Selamat tinggal dunia...' ucapku dalam hati pasrah akan apapun yang terjadi padaku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2