
Hari berikutnya aku memasak untuk sarapan dan bergegas pergi ke rumah sakit.
"Sial! Kapan aku akan berhenti untuk terlambat." Ucapku pada diriku sendiri.
"Terlambat di hari pertama bukan sebuah awal yang baik Nona. Kau punya kehidupan orang lain untuk kau selamatkan. Catat itu dalam kepalamu." Ucap kepala bagian di rumah sakit itu memarahi aku.
"Aku minta maaf. Aku menyadari kesalahanku. Aku berjanji bahwa aku tidak akan mengulangnya lagi." Ucapku.
"Hari ini kau tidak akan dipimpin olehku. Temukan jalanmu sendiri karena aku tidak peduli. Aku sudah mengatakan kepadamu kedisiplinan adalah yang aku inginkan." Teriaknya kepadaku lalu pergi meninggalkan aku sendirian dalam kebingungan.
Aku lalu pergi ke ruangan lokerku.
'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku.
Aku baru di tempat ini. Aku tidak bisa menghandle situasi ini sendirian. Aku lalu berganti pakaian dan berjalan keluar dengan bingung memikirkan kemana aku akan pergi sekarang.
"Hai gadis baru, kemari lah bantu aku."
Aku berbalik dan melihat seorang pria tampan, lebih tepatnya seorang dokter yang sangat tampan. Penampilannya begitu sempurna, dia begitu tinggi seperti seorang model. Mungkin dia selalu berolahraga setiap hari sehingga memiliki tubuh yang atletis seperti itu. Matanya tampak berbinar dari kejauhan.
"Te.... Te... Tentu... I.... Iya Pak." Balas ku dengan bodoh dan berjalan mengikuti dia dari belakang.
Aku melihat beberapa perawat dan dokter wanita yang mendekat ke arahnya. Dia begitu menarik perhatian dan tidak ada yang bisa menolak pesonanya. Aku sendiri tidak bisa melakukannya.
Dia lalu membawaku ke sebuah bangsal dan mulai memeriksa pasien yang ada.
Aku melihatnya dengan fokus. Dia tampak hati-hati saat dia membersihkan luka pasien itu dan mengobatinya.
"Membuat kepala bagian marah di hari pertama? Hmmm itu mungkin akan begitu sulit untukmu." Ucapnya padaku.
Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk aku akhirnya bisa menyadari bahwa pria tampan ini sebenarnya tengah bicara kepadaku.
"Aku tidak bermaksud melakukannya Pak Dokter. Aku ketinggalan bus." Ucapku.
"Kau bisa memanggilku Mark jika kau suka. Aku juga kepala bagian di sini dan tidak apa-apa. Dia juga akan baik nantinya. Pastikan saja untuk menjadi baik dari sisinya atau dia akan membuat semuanya terasa sulit bagimu. Bagaimanapun dia itu tetaplah wanita uang manis." Ucap Mark.
"Terima kasih Mark, sangat menyenangkan bertemu denganmu." Ucapku.
__ADS_1
'Ah.... Apakah ini berarti aku langsung menyukai dirinya?' tanyaku dalam hati.
Beberapa saat kemudian....
"Akhirnya tidak ada pasien lagi yang tertinggal di bangsal ini. Jadi apa kau mau beristirahat dengan minum kopi?" Tanya Mark kepadaku.
"Iya aku bisa." Balas ku.
Aku memang tidak bisa tidur sepanjang malam memikirkan tentang apa yang dikatakan Daniel kemarin padaku. Dan pria tampan ini memintaku untuk minum kopi bersamanya, tentu saja aku setuju. Aku merasa ada kesempatan bagiku untuk bisa tetap bersamanya.
"Jadi aku belum tahu namamu." Ucapnya.
"Starla." Balas ku. "Aku merasa senang dan begitu beruntung sudah bertemu denganmu atau aku tidak akan mengetahui apa yang harus aku lakukan dan kemana aku harus pergi. Aku belajar banyak hari ini." Ucapku.
"Ini sudah merupakan tugasku untuk mengajar orang baru dan juga menuntun mereka. Aku ada di sini jika kau membutuhkan aku." Ucap Mark dengan sopan.
"Terima kasih Mark." Balas ku.
Kami lalu mengobrol banyak tentang rumah sakit itu. Aku mengatakan kepada Mark bahwa aku bukan hanya baru di rumah sakit ini tapi aku juga baru di kota ini. Kami juga mendiskusikan sedikit hal tentang diri kami masing-masing dan beberapa saat kemudian sudah waktunya bagi kami kembali untuk bekerja.
Setelah sepanjang waktu berjalan, aku tiba-tiba berhenti melihat sebuah papan nama.
'The Red Dragon Academy'
Nama itu terdengar familiar bagiku.
'Tunggu dulu! Bukankah itu adalah nama yang dikatakan Daniel kepadaku tentang geng yang diketuai oleh kakeknya dulu?'
Aku lantas melihat ada logo naga di akademi itu. Aku lalu memanggil gambar dari papan nama academy tarung itu, dan tak lupa juga aku memfoto logonya.
Saat aku tiba di rumah, aku langsung mendekat ke arah Daniel untuk membuat dia agar bisa melihat logo itu. Begitu melihatnya, dia langsung mengenali logo itu dengan cepat.
"Oh ya Tuhan, ini tidak mungkin suatu kebetulan. Ini pasti Akademi milik kakekku. Tapi siapa yang bekerja di sini? Bukankah kakek sudah lama meninggal." Ucap Daniel.
"Aku tidak perlu pergi ke rumah sakit besok. Aku bisa mengantarmu ke sana." Ucapku.
Kami lalu makan dan menonton film bersama. Aku lalu membawanya keluar untuk melihat-lihat kota itu di malam hari. Dan tujuanku adalah sebuahl taman bermain.
__ADS_1
Kami bermain banyak permainan bersama dan menaiki arena permainan yang cukup gila.
"Kenapa Kakak tidak membawaku kemari sebelumnya? Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini selamanya." Ucap Daniel bahagia.
"Itulah kenapa aku tidak pernah membawamu kemari. Aku takut kau tidak mau pulang lagi." Ucapku tertawa yang diikuti oleh tawanya juga. "Ayo pergi, sekarang sudah terlambat." Ucapku kepada Daniel.
Meskipun aku sebenarnya tidak mau pergi dari arena permainan itu juga, karena aku sudah lama tidak bersenang-senang seperti itu.
Hari berikutnya....
Kami pergi ke The Red Dragon Academy. Kami masuk ke dalam bangunan itu dan Daniel tampak termenung melihat adegan yang ada di hadapannya.
Ada banyak orang-orang yang begitu aktif dengan usia yang berbeda tengah melatih bela diri yang cukup sulit dengan begitu banyak energi. Dan yang terlihat mengajari mereka adalah seorang pria tampan. Berusia sekitar 30 sampai 40 tahun. Tapi aku tidak bisa menebaknya, karena dari apa yang terlihat pria itu terlihat seperti berusia 28 tahun.
Di sana ada juga terdapat seorang wanita tua yang terlihat seperti guru besar tengah duduk di sebuah kursi dalam diam dan menonton semua orang yang tengah berlatih.
"Om...." Teriak Daniel dengan raut wajah bahagia dan dia langsung berlari ke arah pria itu secepat yang dia bisa.
Pria itu terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Daniel dan mereka berdua saling berpelukan satu sama lain seperti seorang Papa yang baru saja menemukan anaknya yang telah lama menghilang. Mereka terlihat begitu dekat.
"Oh ya Tuhan, Tuhanku Yang Maha Kuasa. Kau masih hidup Daniel." Teriak pria itu. "Ke mana saja kau pergi bertahun-tahun ini anakku. Aku pikir bahwa kau sudah meninggal. Aku hidup dengan penuh rasa sakit dalam diriku." Ucap pria itu.
"Aku juga memikirkan hal yang sama Om. Aku harus tetap bersembunyi, agar The Black Viper itu tidak akan bisa menemukan aku." Ucap Daniel.
Pria itu tampak mengepalkan tangannya setelah mendengar nama The Viper disebutkan oleh Daniel.
"Mereka membunuh kakakku dan kakak ipar ku. Aku akan menyeret mereka dan menghajar mereka sampai mereka memohon agar aku mengambil menyewa mereka. Itulah alasannya kenapa aku menyiapkan pasukan ku untuk kembali membangun geng itu. Aku minta maaf anakku. Aku tidak bisa melindungi mereka." Ucap pria itu.
"Ini bukan kesalahan Om. Jadi jangan salahkan diri Om sendiri." Ucap Daniel.
"Ayo masuk dan bicara Nak." Ucap pria itu memegang pundak Daniel.
Dia kemudian melihat kearah orang-orang yang tengah berlatih.
"Maaf semuanya. Kelas kita hari ini dibubarkan semuanya." Ucap pria itu.
Bersambung.....
__ADS_1