Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Tentang Daniel


__ADS_3

Kami sudah tiba di hotel...


"Kau bisa tidur di atas ranjang adik kecil." Ucapku tersenyum kepadanya dan aku lalu berpindah di atas sofa.


"Tidak." Ucapnya langsung menolak ucapanku. "Aku tidak membutuhkan ruang yang banyak. Sofa sudah cukup nyaman untukku. Tolong jangan berdebat lagi atau aku tidak akan bisa tidur." Lanjutnya.


"Baiklah." Ucapku.


Aku hanya bisa setuju dan kemudian mendekat kearahnya dan aku lalu mengusap rambutnya yang terasa lembut itu.


Setelah dia benar-benar sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang aku belikan untuknya, aku baru menyadari bahwa anak laki-laki ini terlihat sangat tampan. Dia pasti akan tumbuh dewasa dengan menjadi laki-laki yang bisa mencuri perhatian para wanita nantinya di masa depan. Dia memiliki mata yang begitu indah dan benar-benar tampan. Mungkin saja dia mendapatkan semua ketampanannya itu dari Mama nya. Orang tuanya pasti adalah pasangan yang hebat juga cantik dan tampan.


Aku merasa begitu penasaran tentang dirinya jadi aku mulai bertanya kepadanya lagi.


"Apa kau merasa nyaman untuk menjawab beberapa pertanyaan dariku?" Tanyaku kepadanya.


Dia pun membalas ku dengan menganggukkan kepalanya.


"Jadi siapa namamu dan berapa usiamu sekarang?" Tanyaku kepadanya.


"Namaku Daniel." Balasnya. "Tapi Mama memanggilku Dan." Lanjutnya. "Aku suka dipanggil Dan. Usiaku berusia 14 tahun. Bagaimana denganmu?" Uapnya.


"Starla." Balas ku.


"Bisakah aku memanggilmu Kakak?" Ucapnya bertanya dengan hati-hati padaku.


"Aku akan menyukai itu Dan." Balas ku.


"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa sampai di sini? Kenapa kau ditinggal sendirian? Bisakah kau mengatakan kepadaku bagaimana kisah hidupmu?" Tanyaku.


Aku memang terlalu banyak bertanya, itu semua karena rasa penasaran yang benar-benar menyelimuti aku saat ini. Aku jadi ingin tahu tentang dia.


"Baiklah aku akan mengatakan semuanya kepadamu. Tapi lebih dulu kau harus memberikan sesuatu untuk aku makan dan membawa aku keluar besok. Aku akan membawamu pergi menemui teman-temanku." Balasnya.

__ADS_1


"Tentu saja." Balas ku.


Aku lalu mengajak dia makan malam di restoran yang ada di hotel itu. Kami kemudian makan dan aku kemudian mulai mengobrol lagi dengannya.


"Aku baru berada di sini dan aku tidak tahu apapun tentang tempat ini." Ucapku.


Dia pun mengatakan kepadaku bahwa dia akan menunjukkan sekeliling kota ini kepadaku. Aku tahu bahwa anak laki-laki ini sudah melihat banyak hal di kota ini. Dia menyembunyikan begitu banyak luka dari balik senyumannya yang indah itu.


'Lantas bagaimana denganku?'


Aku malah masih berpikir bahwa hidupku begitu sulit rasanya, padahal hidup Dan jauh lebih sulit dari yang aku lalui. Kenyataan ini seperti memukuli diriku sendiri dengan begitu keras.


Bagaimana aku bisa menjadi begitu bodoh dengan memikirkan tentang masalah kecil dan aku langsung merasa kesal tentang hal itu di saat hidup ini sebenarnya begitu sulit bagi orang lainnya.


Pelajaran kedelapan, berhentilah mengingat masa lalu.


Tidak ada hal yang bisa dilihat di masa lalu lagi. Mulailah hidup baru. Berdirilah jika terjatuh karena kita masih mempunyai kehidupan. Jangan kehilangan harapan dan berhentilah menaruh semua perjuangan di sana. Buatlah semuanya menjadi begitu berharga.


Berbahagialah dengan apa yang kita miliki dan hargai semua itu. Beberapa orang lain tidak punya apapun yang bahkan kita pikir bahwa hal itu tidak bernilai.


'Bagaimana dia bisa sampai di jalanan? Apakah dia sudah ada di sini sejak dia dilahirkan? Bagaimana hidupnya selama ini dengan tinggal sendirian di sisi jalanan dan menjadi gelandangan dengan tidak memiliki keluarga? Di mana orang tuanya? Siapa yang meninggalkan anak mereka di dunia yang begitu dingin ini sendirian, tanpa adanya bantuan orang lainnya.' tanyaku dalam hati.


Dan semua ini hanyalah pertanyaan yang semakin membuat semuanya terasa sulit dengan semua pikiran yang ada di dalam kepalaku. Aku juga masih harus memikirkan tentang fakta bahwa aku harus menemukan sebuah rumah untuk diriku sendiri secepatnya.


Beberapa saat kemudian, aku pun tertidur.


Keesokan paginya aku terbangun dengan cahaya matahari yang bersinar tepat di wajahku. Aku melihat ke arah ponselku melihat waktu saat ini yang sekarang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


Aku berpikir bahwa aku akan tidur lagi, namun aku mengingat Dan. Aku melihat ke arah sofa tempat semalam dia tidur. Dia sudah tidak ada di sana. Aku lalu pergi melihat ke arah kamar mandi dan di manapun. Tapi dia tidak ada di dalam kamar ini.


'Ke mana dia pergi?'


Aku hampir berlari keluar dengan cepat saat Dan muncul dengan sarapan dan secangkir teh untukku dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya. Dia pun lantas menyapaku.

__ADS_1


"Selamat pagi kakak." Ucapnya tersenyum lebar.


"Kau menakuti aku Dan." Ucapku.


Aku langsung memeluknya dengan erat seolah aku baru saja menemukan adikku yang telah lama hilang.


"Maaf karena aku sudah membuatmu khawatir Kak. Aku bangun begitu pagi dan aku tidak mau membangunkan Kakak." Ucapnya dengan ceria.


"Dari mana kau membawa semua ini? Para pelayan di sini sangat baik. Merekalah yang akan membawa ini sendiri." Ucapku mengambil nampan dari tangannya dan menaruhnya di atas meja yang ada di dekatku.


"Aku lapar dan aku merasa tidak enak karena tinggal di sini bersama Kakak. Jadi aku makan sendirian dan mengambil beberapa makanan untuk kakak juga." Ucapnya dengan mata yang tampak berbinar.


Dia terlihat begitu menggemaskan.


"Terima kasih banyak." Ucapku. "Kita akan pergi 1 jam lagi. Apakah itu tidak masalah?" Tanyaku.


"Iya." Ucapnya dengan tampak senang. "Aku akan membuat Kakak bertemu dengan teman-temanku." Lanjutnya lagi.


Aku lalu makan, mandi dan setelah itu mengganti pakaianku dengan menggunakan sebuah jaket kulit berwarna army, celana jeans hitam yang di lututnya ada sobekan dan juga baju kaos warna hitam dan tak lupa aku menggunakan sebuah sepatu boots warna hitam juga mengenakan kacamata hitam dan membawa tas yang berwarna hitam juga.


"Kau terlihat hebat Kak." Ucap Dan memujiku.


Aku tersenyum mendengar pujiannya.


"Teman-temanku akan sangat bahagia bertemu dengan Kakak." Ucapnya.


"Aku harap begitu adik manis." Balas ku.


Kami lalu berjalan keluar hotel. Dia mengatakan tempatnya itu tidak jauh dari hotel ini. Jadi kami tidak perlu naik taksi.


Akhirnya kami tiba di sebuah taman terbuka dan kami melihat beberapa anak. Mereka semua tampak seumur. dengan Dan. Mereka tampak tengah bermain bola.


"Hai teman-teman, lihat aku membawa Kakak untuk bertemu kalian semua, kemari lah!" Teriak Dan pada teman-temannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2