Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Kedatangan Alden


__ADS_3

Aku tertidur dengan begitu nyenyak berpikir bahwa aku sudah sampai di surga. Namun sebuah pesan masuk ke ponselku. Awalnya aku berpikir bahwa itu mungkin saja Mark. Jadi aku pasti akan memarahi dia karena sudah mengganggu tidurku yang nyenyak. Tapi, yang membuat aku terkejut ternyata itu adalah pesan dari Alden. Aku melihat jam yang tertera di ponsel dan mengetahui bahwa sekarang sudah hampir pagi.


Aku berpikir mungkin saja aku tengah bermimpi tentang mama yang ada di sini dan sekarang jam 03.20 pagi hari.


'Apa mungkin Alden mengirimiku pesan di jam 03.20 dini hari?'


Aku lantas membaca pesan darinya.


(Hei apakah kau tidur?)


(Apakah kau sudah mati?


(Bangunlah!)


Aku lalu membalas pesannya.


(Kau sudah berhasil membangunkan aku Alden. Ada apa? Apakah kau itu kelelawar? Kenapa kau masih bangun?)


(Buka pintu belakang, aku berdiri di sini.)


(APA? Apakah kau bercanda?) Balas ku.


(Tidak, buka pintunya sekarang dan lihat sendiri saja. Cepatlah datang, ini dingin. Aku sudah membeku.) Balasnya.


'Sial!'


Jelas saja sekarang dingin karena cuaca saat ini memang sangat dingin. Sebenarnya apa yang dia lakukan di luar sana?


Aku lantas dengan cepat membuka pintu belakang dengan perlahan agar tidak akan membangunkan Mamaku. Dan di sanalah dia, tampak berdiri dengan tubuh yang gemetar kedinginan.


"Oh ya Tuhan, cepat masuklah. Kau bisa terkena flu. Kau sangat bodoh." Ucapku kepada Alden.


Aku memegang tangannya yang dingin dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ini, ambil kunci ini. Aku lupa mengunci kamarku. Disana masih ada barang-barang ku dan fotoku yang bergantung. Jika Mamamu melihatnya, maka dia akan tahu." Ucap Alden.


"Apa?"


Aku hendak mengatakan sesuatu saat Alden memotong Ucapanku.


"Ambil juga kunci mobilku. Kau bisa mengantar Mamamu berkeliling dengan mobil itu. Aku tidak suka melihatmu menunjukkan kota ini kepada Mamamu menggunakan angkutan umum atau taksi dan aku tidak mau mendengarkan kata tidak. Jadi jangan mencobanya plus ambil ini. Aku sudah membelikan ini untuk Mamamu." Ucap Alden seraya memberikan sebuah kotak hadiah kepadaku.


'Apakah dia mabuk atau sesuatu?'

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Kau datang jam 03.00 pagi dengan berdiri dalam cuaca dingin dan kau mengatakan kau ada di sini untuk memberikan aku kunci kamar dan kunci mobilmu dan sesuatu untuk Mamaku?" Ucapku.


"Oke baiklah, aku akui bahwa aku sudah kehilangan akal ku. Alasan sebenarnya adalah, aku hanya ingin melihatmu." Ucapnya.


Setelah dia berhenti bicara sesaat, dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Maksudku bagaimana kau bisa bertahan di sini tanpa aku? Siapa yang tahu, kau bisa saja sudah mengacaukan rumahku dan barang-barang lainnya." Ucap Alden.


Panas, pipiku terasa sangat panas. Aku tahu jika saat ini pipiku pasti tampak sangat merona. Aku tidak bisa menutupinya, semuanya pasti tampak sangat jelas.


"Kau datang untuk melihat ku?" Tanyaku kepadanya.


"Starla... Apakah kau bangun?"


'Sial.... Mama bangun! Apa yang harus aku lakukan?'


Mama hendak membuka pintu, Alden dengan cepat memegang tanganku dan berlari ke arah kamarku di mana kamarku memang sangat dekat dengan di mana kami berada tadi dan dia lalu membuat aku berbaring di atas tempat tidur dan menaruh tangannya di mulutku, menandakan kepadaku untuk tidak bersuara dan menutup mataku. Dia menaruh selimut di atas tubuhku dan dia sendiri berlari bersembunyi di samping lemari. Di sana memang ada sedikit tempat baginya untuk bisa bersembunyi.


Mama pun membuka pintu kamarku dan menemukan aku tengah tertidur.


"Oh, aku mungkin hanya berimajinasi saja. Aku harus kembali." Ucap Mama pada dirinya sendiri dan kemudian menutup pintu kamarku di belakangnya.


Alden keluar dari tempat persembunyiannya dan melompat ke arahku. Alden sekarang berada di atas tubuhku.


Dia sangat dekat denganku yang membuat jantungku berdetak sangat cepat.


"Aahh.. Kau tampak merah sekarang Starla." Ucap Alden menggodaku.


"Diam lah...." Balasku.


Setelah itu, dia langsung mencium bibirku. Aku kehilangan akal ku.


'Sial!'


Ternyata inilah yang aku inginkan terjadi. Aku menunggu ini terjadi sejak sangat lama. Aku tidak mau menghentikan hal ini selamanya. Aku menggerakkan tanganku di rambutnya yang lembut, di mana rambutnya terasa masih lembab dan wajahnya yang tampak sempurna.


Aku pun menyadari sesuatu. Ternyata aku memiliki perasaan untuknya dan aku tidak bisa kabur dari fakta ini. Tapi aku tidak tahu apapun tentang dirinya. Aku tidak tahu bahwa mungkin saja aku ini hanya salah satu dari sekian banyak wanitanya. Dan aku hanya merupakan wanita yang suka dia cium dan dia lupakan setelahnya. Dengan memikirkan hal itu aku langsung menghentikan Alden yang masih menciumku dengan lembut.


Alden tampak kebingungan, tapi sepertinya mengerti. Dia pun lalu menjaga jaraknya dariku dan kemudian meminta maaf padaku.


"Aku minta maaf. Aku seharusnya tidak mencium mu tanpa izin darimu." Ucap Alden.


'Tidak Alden, aku menyukainya.'

__ADS_1


'Katakan saja sesuatu.'


'Aku mau mendengarnya. Tolong katakan kau menciumku karena kau menyukai aku.'


Tapi Alden tetap tidak mengatakan apapun dan malah aku yang harus menjawab ucapannya.


"Jika kau memberikan aku kunci ini, lalu bagaimana kau bisa pergi ke tempat tujuanmu dan kembali ke rumah? Aku tidak bisa mengambil mobilmu." Ucapku mengganti topik pembicaraan kami.


"Ah jangan khawatir tentang hal itu. Aku sudah mengaturnya. Aku akan mengaturnya dengan baik dan aku memaksamu. Tolong jangan berdebat denganku tentang hal ini lagi." Ucap Alden.


"Di mana kau tinggal?" Tanyaku.


"Di tempat temanku. Aku juga akan meminjam mobilnya." Ucap Alden.


"Baiklah, biarkan aku mengantarmu kalau begitu." Balasku.


"Tidak, aku tidak punya masalah apapun. Dia akan menjemput ku." Ucap Alden menolak tawaranku yang ingin mengantarnya.


"Ayolah Alden. Aku juga bisa menjadi bos yang sering memerintah seperti dirimu."


Setelah itu, aku pun memegang tangannya dan kami bergegas menuju mobilnya. Aku hanya berharap bahwa Mama tidak akan bangun dan memeriksa diriku di kamar.


Alden lalu duduk di kursi pengemudi dan aku pun duduk di kursi penumpang. Setelah itu dia pun mengendarai mobilnya menuju rumah temannya.


"Aku tahu kenapa kau menghentikan aku mencium dirimu." Ucap Alden memecah keheningan di antara kami.


"Kau tidak tahu." Ucapku dan melihat ke arah luar jendela.


"Kau pasti berpikir bahwa aku hanya memanfaatkan mu. Kau berpikir bahwa kau adalah salah satu dari banyak wanita yang aku permainkan." Ucapnya.


"Iya aku memang salah satu dari mereka. Aku tidak tahu apapun tentangmu Alden, keluargamu dan juga teman-temanmu. Aku tidak tahu di mana kau bekerja, kemana kau pergi sepanjang hari, kenapa seseorang menyerang mu. Kau tidak pernah mengatakannya kepadaku." Ucapku kepada Alden.


"Kau tidak pernah bertanya padaku." Balasnya.


"Oh, jadi aku harus bertanya?" Ucapku bertanya balik.


"Baiklah, aku akan mengatakannya kepadamu secepatnya semua tentang diriku." Ucap Alden.


Kami pun akhirnya tiba di sebuah rumah mewah, bahkan rumah itu jauh lebih mewah dibandingkan dengan rumah di mana kami tinggal.


Teman Alden benar-benar seseorang yang sangat kaya. Aku lalu berganti tempat duduk dan melambaikan tanganku kepadanya dan kembali ke rumah kami. Aku kembali ke rumah dengan sukses mengendap-endap dari belakang rumah dan kembali ke kamarku. Untungnya Mama belum bangun dan aku memarkirkan mobil di sebuah tempat yang sedikit jauh agar Mama tidak menyadarinya lebih awal. Aku akan mengatakan kepada Mama bahwa itu adalah mobil milik teman yang tinggal serumah denganku. Dia mengizinkan aku untuk menggunakannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2