
Jujur saja, aku merasa begitu penasaran. Tapi aku memilih untuk terus terdiam membiarkan dia mendapatkan waktunya sendiri untuk menenangkan dirinya. Jika dia memang tidak mau membagi semua ceritanya kepadaku, maka tidak ada masalah bagiku. Aku akan baik-baik saja dengan hal itu.
Aku tidak akan mau memaksanya, tapi entah kenapa aku terus memikirkan tentang apa yang dia katakan. Aku tidak bisa berhenti begitu saja dan aku pun terus saja memikirkan semua kemungkinan yang ada di dalam kepalaku.
Beberapa saat kemudian, kedai es krim itu memiliki banyak pengunjung yang datang sekedar untuk membeli es krim. Ada yang duduk mengobrol, tertawa, dan bercanda gurau. Tapi kelihatannya ada keheningan di antara aku dan Daniel, karena kami berdua benar-benar memikirkan sesuatu di dalam kepala kami. Jadi kami berdua benar-benar tidak bisa memperhatikan kebisingan yang ada di sekitar kami. Tidak ada dari kami yang terganggu dengan keadaan sekitar yang begitu ramai.
Aku terus makan es krim ku dengan perlahan mencoba untuk tidak terlihat putus asa dengan rasa.pemasaranku akan kisah masa lalu Daniel. Kemudian tiba-tiba Daniel mulai bicara lagi padaku.
"Beberapa hari berlalu dengan normal. Tapi kemudian aku menyadari Mama dan Papa berdebat tentang sesuatu di kamar mereka pada suatu hari saat aku melewati kamar mereka menuju dapur untuk minum air di malam hari.
Saat itu aku mendengar Mama mengatakan, 'para geng Viper itu tidak akan memisahkan kita John.'
Aku merasa aneh dengan ucapan Mama itu, tapi aku tidak terlalu memperhatikan ucapan mereka saat itu.
Aku biasanya pergi ke sekolah setiap jam 08.00 pagi sampai jam 02.00 siang dan Mama biasanya selalu menjemput ku. Tapi sesekali saat Mama sibuk, Papa lah yang akan mengirimkan mobil dan pelayan kami Nana untuk menjemput ku.
Suatu hari, aku ingat dengan benar tanggal 12 Maret, sepulang sekolah Mama tidak datang menjemput ku. Aku mengerti bahwa mungkin saja Mama tengah sibuk. Jadi aku menunggu kedatangan Nana. Namun itu sudah jam 03.00 sore, tapi tetap tidak ada yang datang menjemput ku.
Guruku sudah menelepon orang tuaku, tapi mereka tidak menjawab panggilan itu. Guruku pun menawarkan kepadaku apakah aku mau dia mengantar aku pulang ke rumah? Tapi aku yakin Nana atau Mama akan datang menjemput ku. Saat itu aku berpikir bahwa Mama tidak akan melupakan aku bukan?
Mataku mulai berair saat aku melihat mobil Papa mendekat ke arah gerbang sekolah. Aku begitu bahagia melihat seseorang yang familiar turun dari mobil itu. Rasanya seolah aku telah melihat air yang ada di gurun pasir saat aku begitu kehausan.
Nana keluar dari dalam mobil dan aku melihat dia bergegas mendekat ke arahku. Aku awalnya berharap bahwa itu Mama atau Papa. Tapi aku rasa mereka mungkin masih sibuk. Aku hendak memarahi Nana. Bagaimana dia bisa melupakan tentang aku. Tapi saat aku melihat ke arahnya, matanya tampak memerah.
__ADS_1
'Maafkan saya Bu Jeni, maaf Tuan Daniel.' Ucap Nana meminta maaf dengan cepat seolah ada urusan yang belum dia selesaikan.
'Ada apa Nana? Kenapa kau terlambat? Kau tidak pernah seperti ini dan kenapa matamu memerah?' tanyaku kepadanya.
Saat itu Nana Langsung menangis.
'Apa ada sesuatu yang salah yang terjadi kepadamu Nana? Kenapa kau menangis?' ucapku karena aku begitu bingung pada saat itu.
Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan Nana. Suatu hal pasti sudah terjadi, tapi Nana tetap tidak mengatakan apapun padaku, dia hanya menangis.
'Apakah Papa atau Mama mengatakan hal yang menyakitkan kepadamu Nana? Aku akan bicara kepada mereka. Tenanglah Nana, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa ini bukanlah kesalahan mu. Kau begitu sibuk dengan suatu hal yang aku memintamu untuk melakukannya, itulah kenapa kau terlambat untuk menjemput ku. Jadi jangan menangis Nana.' ucapku kepada Nana lagi.
Aku mencoba untuk membuat Nana berhenti menangis. Aku pikir itu adalah alasan yang mungkin bisa membuat kenapa sampai Nana bisa menangis. Nana mungkin lupa untuk menjemput aku dari sekolah. Jadi Papa mungkin memarahinya. Dia mungkin ketakutan karena akan kehilangan pekerjaannya. Tapi dia tetap tidak mengatakan apapun.
Apakah Papa melakukan wawancara dengan para reporter seperti biasanya?
Tapi mereka tidak pernah sebanyak ini sebelumnya. Nana pun menghentikan langkahku.
'Jangan masuk Tuan, aku akan membawakan barang-barang mu.' ucap Nana yang masih terus menangis.
Aku masih tidak mengerti dengan sikap Nana hari ini. Kenapa dia menghentikan aku untuk masuk ke dalam rumahku sendiri?
Sementara reporter itu tidak ada masalah apapun saat mereka masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Aku bisa saja pergi melalui pintu belakang. Tapi aku kembali memikirkan kenapa Nana mengatakan bahwa dia akan membawakan barang-barang ku?
Ke mana aku akan pergi?
Mama dan Papa tidak mengatakan apapun tentang kami yang akan pergi ke suatu tempat.
Saat Nana pergi untuk mengambil barang-barang ku, rasa penasaranku tidak bisa menunggu lagi. Jadi aku pun tidak menghiraukan perintah dari Nana. Aku harus bertemu dengan Mama dan Papa dan menanyakan kepada mereka kenapa Nana bersikap begitu aneh hari ini. Aku menjatuhkan tasku dan berlari dengan secepat yang bisa aku lakukan melalui pintu belakang.
Saat berlari aku mengalihkan kepalaku untuk melihat ke arah pintu depan, berpikir bahwa Papa memang tengah melakukan wawancara. Tapi Papa tidak ada di sana, dan pintu utama tampak terbuka dan yang ada malah polisi.
'Kenapa Polisi ada di rumah kami? Apa yang sedang terjadi?'
Aku begitu bingung aku mendengar beberapa orang memanggil namaku dan mencoba untuk menangkap aku. Tapi aku terus berlari. Aku hanya mau pergi ke tempat orang tuaku. Aku sudah cukup bingung hari ini. Jadi aku lalu pergi ke arah dapur dan membuka pintu, setelah itu aku pergi ke arah kamar orang tuaku.
'Mama... Papa... Kalian di mana?' ucapku.
Tapi mereka tidak ada di kamar. Aku mencari mereka di seluruh lantai atas. Kemudian aku melihat polisi dan para orang lainnya berpindah ke arah lantai bawah, aku lantas mengikuti mereka. Mereka pastinya pergi untuk menemui orang tuaku.
Mereka tampak pergi ke ruang pertemuan di mana Papa dan Mama sering melakukan pertemuan dengan orang-orang di sana dan aku tidak diizinkan pergi ke sana. Aku pernah menanyakan apa yang tengah mereka diskusikan di ruangan itu, tapi mereka hanya membalas, 'ini hanya tentang pekerjaan, masalah perusahaan.'
Kenapa mereka harus bertemu dengan polisi, pikirku saat itu.
Bersambung....
__ADS_1