
Aku mengenakan kemeja berukuran sangat besar dan tidak menggunakan apapun di bagian bawah hanya dalaman saja untuk menutup bagian sensitif ku. Aku mulai memainkan musik yang begitu keras di speaker.
Aku mengambil rolling pin dari dapur dan berdiri di atas meja dan mulai menari. Tiara terlihat ikut senang melihat aku yang seperti itu. Aku benar-benar kehilangan kontrol diriku dalam duniaku sendiri. Aku sudah cukup lama menari dan bernyanyi. Pada saat aku membuka mataku, aku malah melihat Alden yang tengah menatap diriku dalam diam.
"Sial! Sejak kapan kau berdiri di sana?" Ucapku.
"Cukup lama melihat kau tengah melakukan aksi mu itu. Kau benar-benar hebat dalam menari Beb." Ucap Alden dan tertawa.
Aku begitu malu dan aku langsung berlari ke arah kamarku. Kemudian aku menyadari bahwa aku hanya mengenakan dalaman dan dia telah melihat aku yang seperti ini.
Walaupun pakaian yang aku gunakan cukup panjang, tapi bagaimana saat aku mengangkat tanganku terlalu tinggi dan dia bisa melihatnya?
Aku tidak akan keluar dari kamar ini, tidak akan pernah.
Hari pun berlalu. Aku terus mengunci diriku di dalam kamar dan tidak mau berhadapan dengan Alden.
Ini sebenarnya sudah waktunya untuk makan malam. Aku pun meminta Tiara untuk memasak sesuatu untuk kami berdua, dan aku memintanya untuk mengantar makanan ke dalam kamarku karena aku masih tidak mau keluar dari dalam kamar ku.
Beberapa saat kemudian ada suara ketukan di pintu kamarku. Aku tahu bahwa itu adalah Tiara yang datang untuk memberikan makananku. Aku merasa begitu lapar hingga membuat aku dengan cepat untuk membuka pintu dan ternyata yang datang malah Alden.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucapku.
"Apakah kau malu karena aku melihatmu seperti itu? Kau tidak keluar sepanjang hari." Ucapnya.
"Mmmm... sebenarnya iya."
Setelah aku mengatakan hal itu, Alden langsung mendorong tubuhku ke arah tembok dan mendekat ke arahku. Situasi seperti ini membuat aku menjadi begitu gugup.
"Alden, aa.... apa yang kau lakukan?" Ucapku dengan gugup.
"Aku ingin mengatakan kepadamu bahwa aku suka penampilanmu tadi yang menyanyi dan menari. Aku ingin melihat yang lebih dari itu." Ucapnya dengan suara yang begitu pelan.
__ADS_1
Aku benar-benar mematung. Aku bahkan bisa merasakan bahwa wajahku memanas.
"Kau begitu menggemaskan saat kau malu." Ucapnya..
Hal itu semakin membuat pipiku terasa jauh lebih memerah lagi. Jantungku rasanya seperti ingin meledak sekarang. Aku rasa Tiara yang ada di kamar lainnya juga bisa mendengar suara detak jantungku ini. Jantungku berdetak begitu cepat dan sangat kencang.
Apa yang dia lakukan selanjutnya benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Aku tahu dia hanya bercanda kepadaku tapi ini terlalu mengintimidasi. Aku lalu dengan semua energi yang aku punya, berusaha untuk mendorongnya dan berlari keluar dari dalam kamarku sendiri. ku mendengar dia tertawa kecil. Dia suka melihatku merasa malu. Dia melakukan hal ini dengan sengaja. Aku bersumpah bahwa akan membunuhnya.
Beberapa hari kemudian...
Aku dan Mark tengah saling mengirimi pesan satu sama lain. Kami sering pergi minum kopi atau makan siang kapanpun kami mempunyai waktu. Dia benar-benar memperlakukan aku seperti yang semua wanita inginkan. Dia memberikan kopi kepadaku, mengusap makanan dari wajahku, membuat aku tertawa, dan juga mengajari aku.
Kami benar-benar sahabat baik dan kami selalu keluar bersama.
Suatu hari Mark mengantarku pulang ke rumah seperti biasa yang dia lakukan dan aku pun masuk ke dalam rumah. Saat itu, aku melihat Alden berbaring di lantai dengan banyak darah di tubuhnya. Aku berlari ke arahnya berteriak memanggil Tiara. Tapi Tiara tidak ada hari ini di rumah.
Aku membalikkan tubuh Alden dan mendapati lubang bekas senjata api di lengannya.
Aku dengan cepat menelpon ambulans dan mencoba untuk menghentikan pendarahan di tubuhnya itu.
Kami dengan cepat bergegas menuju Rumah Sakit. Mark juga ada di sana, mereka semua mulai menangani Alden dengan mengeluarkan peluru dari tubuh Alden. Mark mendekat ke arahku dan mengatakan kepadaku untuk tidak khawatir karena Alden akan baik-baik saja.
Aku tahu bahwa lukanya itu tidak serius dan dia akan baik-baik saja. Tapi aku takut tentang apa yang sudah terjadi padanya.
Aku berpikir bagaimana jika dia mengalami gegar otak atau mengalami kerusakan dalam organ vitalnya.
'Bagaimana jika dia tidak ada di rumah dan aku tidak bisa menemukan dirinya?'
'Bagaimana jika orang yang melakukan hal itu kepadanya memiliki motif yang sama dan akan mencoba hal itu lagi kepadanya?'
'Bagaimana jika dia sudah menghadapi hal seperti itu sebelumnya?'
__ADS_1
' Bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu? Dia bisa saja....'
Aku benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Aku tinggal bersamanya dibawah satu atap. Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkannya.
Mark mendekat ke arahku dan mengatakan kepadaku bahwa Alden sudah bangun. Tapi itu sudah sangat lama setelah peluru itu mengenai dirinya. Dia sudah kehilangan banyak darah.
Aku pun masuk ke dalam ruangannya. Dia tampak duduk di sana seolah tidak ada yang terjadi kepada dirinya. Dia selalu bersikap keren yang membuat aku bingung.
"Kau harus beristirahat sekarang Alden. Berhentilah menjadi pria kekanak-kanakan untuk beberapa saat dan jagalah dirimu sendiri." Ucapku.
Aku tidak mau mendorongnya langsung dengan meminta jawaban atas rasa penasaranku tentang apa yang terjadi tentang siapa yang sudah melakukan hal itu kepadanya dan ke mana saja dia pergi.
"Aku tahu, tapi aku tidak mau ada di sini. Kau bisa membawaku pulang ke rumah bukan? Kau bisa menjaga aku di sana karena kau juga seorang dokter, bukan begitu?" Ucap Alden.
"Mereka pasti akan mengizinkanmu." Ucap Alden.
"Baiklah tapi besok saja. Hari ini kau membutuhkan perawatan dari rumah sakit." Balas ku kepadanya dan dengan bersikukuh.
Hari berikutnya aku membawa dia pulang dan setelah itu aku menyiapkan makanan untuknya, menyuapinya makan, mengganti perbannya, dan menjaga dirinya. Aku akan terus melakukan hal itu sampai dia sudah baik-baik saja nantinya.
Sepanjang waktu itu, aku tidak menanyakan apapun dan dia pun tidak mengatakan apapun padaku. Aku menyadari bahwa aku tidak mengetahui apapun tentang Alden kecuali namanya. Aku tidak tahu ke mana dia pergi setiap hari. Apa pekerjaan yang dia lakukan, keluarganya, dan kehidupan pribadinya. Aku tidak tahu apapun dan aku merasa penasaran untuk mengetahui tentang dirinya itu.
Suatu hari aku tidak bisa mengontrol rasa penasaranku. Jadi aku memutuskan untuk bertanya kepadanya.
"Apa yang terjadi Alden? Bisakah kau mengatakan kepadaku?" Ucapku kepadanya.
"Aku melihat bahwa kau begitu penasaran. Aku suka melihat kau yang penasaran ingin mengetahui semuanya. Aku tidak akan mengatakan kepadamu saat ini sampai kau mau pergi berkencan denganku besok. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Jadi bagaimana menurutmu?" Ucap Alden dengan menyeringai.
'Apakah dia baru saja mengajakku kencan?'
Bersambung....
__ADS_1