Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Bertemu Keluarga Mark


__ADS_3

"Mmmmm.... Starla, rasanya tidak nyaman untuk tidur dengan menggunakan pakaian ini. Ucap Mark.


"Mark, di mana aku bisa mendapatkan pakaian yang bisa membuatmu nyaman? Apa kau mau menggunakan pakaianku?" Ucapku padanya.


"Oh tidak... tidak... Aku tidak bisa menggunakan pakaian wanita." Balasnya.


"Kalau begitu tidurlah dengan tidak menggunakan pakaian. Aku tidak akan masuk ke dalam kamarmu." Balas ku.


"Tapi bagaimana jika pelayanmu masuk ke dalam kamar itu?" Ucap Mark lagi.


"Dia tidak akan masuk ke sana." Ucapku padanya.


"Baiklah, kalau begitu maaf sudah membuat masalah untukmu." Ucapnya.


"Tidak apa-apa, jangan minta maaf. Tidurlah yang nyenyak." Balas ku.


Aku baru saja mencoba untuk tidur saat tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselku dan itu adalah Mark.


'Sebenarnya ada apa dengan dirinya.?' pikirku.


(Apa kau lapar?) Tulis Mark


(Tidak, aku tidak lapar. Aku makan banyak tadi. Memangnya kau lapar?) Balas ku.


(Tidak terlalu, aku rasa aku bisa menahannya. Aku hanya ingin memeriksa dirimu.) Balasnya lagi.


(Jika kau tidak tidur sekarang, aku akan melempar mu keluar Mark dan aku tidak bercanda.) Balas ku lagi.


(Baiklah maaf, hanya saja aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang dirimu. Aku rasa aku hanya mau kau dekat denganku. Selamat malam Starla.) Tulis Mark.


'Tunggu dulu! Apa? Mark tidak bisa berhenti memikirkan tentang diriku?'


Aku merasa bingung, apakah aku harus bahagia atau ketakutan tentang hal ini. Aku tidak merasakan hal yang sama padanya.


'Apakah dia mengharapkan sesuatu dariku?'


Bagaimana aku bisa tidur sekarang setelah aku memikirkan banyak hal. Aku bahkan tidak menyadari kapan akhirnya aku mulai tertidur. Namun keesokan harinya sebuah suara membangunkan aku..


"Starla bangunlah! Aku harus pergi."


Aku langsung keluar dengan wajah yang masih mengantuk dan juga rambutku yang kacau. Aku mendapati Mark yang berdiri di depan pintu dengan sudah memakai pakaiannya dengan keren, seolah dia akan pergi melakukan sebuah pemotretan.


"Pakaian itu bukan yang kau kenakan kemarin." Ucapku kepadanya.


"Kau menyadarinya ternyata. Aku selalu membawa pakaian ekstra di dalam mobil sebagai cadangan jika pakaian yang aku gunakan kotor di rumah sakit atau di manapun." Balasnya.


Tiba-tiba aku bisa mencium aroma makanan yang sudah disiapkan. Aku lalu melihat ke arah meja di dapur dan melihat ada makanan yang sudah diatur dengan begitu cantik.

__ADS_1


"Mark, kapan kau melakukan semua itu? Bagaimana kau melakukannya?" Ucapku.


'Oh ya Tuhan... Aku begitu terpesona....'


"Kejutaaaan...." Ucapnya. "Terima kasih karena sudah membiarkan aku untuk menginap." Lanjut Mark. "Dengar, aku harus pergi dengan segera karena ada hal darurat di rumah sakit. Kau boleh makan oke, dan kau bisa beristirahat hari ini. Aku akan bicara dengan pihak rumah sakit tentang kau yang libur hari ini." Ucapnya lagi.


"Apa kau tidak akan makan?" Tanyaku.


"Sebenarnya aku ingin makan jika saja tidak ada hal yang penting." Balasnya.


Setelah itu, dia pun lalu menuju pintu rumah. Dia harus memanggil taksi atau apapun itu karena bus tidak akan bisa tepat waktu untuk mengantarnya ke rumah sakit.


"Oh ya Starla, kau terlihat sangat cantik." Ucapnya.


'Seperti ini? Yang benar saja?' ucapku dalam hati dengan memegang rambutku yang berantakan.


Dia lalu duduk di dalam mobilnya dan menyalakan mobilnya kemudian pergi.


'Tunggu sebentar!'


Mobilnya itu ternyata tidak pernah rusak sama sekali. Berarti dia bohong padaku semalam hanya untuk bisa menginap di rumahku. Dia benar-benar seekor rubah. Tapi makanan yang dia siapkan sangat enak dan dia menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan semua ini.


(Terima kasih banyak Mark. Makanannya sangat enak.)


Aku lalu mengirim pesan itu kepadanya.


Dia begitu manis kepadaku. Aku tidak tahu harus melakukan apa.


Hari berikutnya aku menangani seorang pasien untuk dioperasi.


Mark datang kepadaku dan berkata, "kau harus ikut ke rumahku hari ini."


"Baiklah, tapi kenapa?" Tanyaku.


"Kau sudah membiarkan aku menginap kemarin. Jadi ini giliran ku untuk membalas mu. Makan malam lah di rumahku besok. Adikku akan sangat suka memiliki tamu di rumah dan aku tidak memintamu aku mengatakan itu kepadamu sebagai perintah. Kau harus datang, aku tidak mau tahu." Ucapnya lalu pergi begitu saja.


"Pergilah dokter. Dia sangat menyukaimu dan ingin kau bertemu dengan adiknya." Ucap pasien yang tengah aku tangani itu.


Dia seorang gadis yang berusia 17 tahun, bernama Wendy.


"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku kepada Wendy.


"Semua orang kecuali gadis yang disukai pria itu bisa melihatnya. Itu semua terlihat sangat jelas. Bahkan aku hanya melihatnya sekali. Kau seharusnya pergi atau itu akan melukai dirinya." Ucap Wendy.


"Baiklah aku akan pergi. Terima kasih Wendy." Balas ku.


Setelah itu aku berhenti mengobrol dengannya karena harus melakukan operasi karena saat itulah waktunya.

__ADS_1


"Tetaplah kuat oke. Kau akan melakukan hal yang menakjubkan. Kembalilah secepatnya, jadi kita bisa keluar untuk makan dan mengobrol." Ucapku kepada Wendy.


"Baiklah, sampai bertemu secepatnya." Balas Wendy.


Setelah operasi selesai, aku pun pergi ke ruangan lainnya memikirkan apakah aku sebenarnya harus pergi atau tidak ke rumah Mark. Bagaimana semua ini bisa membuatku gugup? Aku hanya akan bertemu dengan adiknya, bermain dengannya dan pulang ke rumah lagi.


'Ini bukan masalah besar bukan?'


Aku lalu pulang ke rumah dan mulai menggunakan gaun elegan dan setelah itu Mark menjemput aku. Dia membawaku ke sebuah bangunan dengan dua mobil yang terparkir di luarnya. Aku keluar dari dalam mobil dan melihat seekor kucing berlari keluar dari pintu. Tapi yang membuat aku terkejut, di sana ada sosok Mamanya, Papanya dan seorang pria tinggi yang seharusnya adalah adiknya berusia sekitar 18 tahun, yang tampak tidak sabar menunggu gadis jelek seperti apa yang dibawa oleh Mark pulang ke rumah mereka.


Aku melihat ke arah Mark dengan tatapan mata yang tajam dan juga mematikan, mengindikasikan kepadanya bahwa aku bisa membunuhnya sekarang tanpa memikirkan apapun lagi. Tapi dia bisa hidup sebanyak yang dia mau hari ini.


Apa sebenarnya yang sudah dia katakan kepada keluarganya, karena mereka semua melihatku dari atas sampai bawah mencoba untuk memahami diriku sebanyak yang mereka bisa hanya dengan melihat tampilan ku.


'Terima kasih Tuhan aku mengenakan gaun yang tepat atau mereka akan berpikir bahwa Mark membawa seorang wanita murahan ke rumahnya dan langsung mengusirku dengan cepat.' ucapku dalam hati.


"Ayo masuklah Nak. Kenapa kau berdiri di sana." Ucap seorang wanita berusia sekitar 50 tahun yang terlihat masih cantik.


Kedua orang tuanya Mama dan Papanya sangat manis kepadaku. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan sederhana tentang diriku dan kami pun makan malam. Aku masih tidak mengobrol dengan adiknya. Dia begitu pendiam. Dia hanya menjawab pertanyaan yang ditanyakan orang tuanya.


Makanan yang disajikan sangat lezat. Setelah itu aku pun menawarkan bantuan kepada Mamanya untuk mencuci piring.


"Kau adalah gadis yang baik Starla. Terima kasih karena sudah ada bersama putraku. Kami sangat sulit berada bersamanya. Dia di sini sendirian bersama adiknya. Aku benar-benar senang karena dia menemukan dirimu. Dia sudah memilih orang yang benar." Ucap Mama Mark.


'Tunggu sebentar? apa yang baru dia katakan? Mark sudah memilih orang yang benar? Apa maksud dari perkataannya itu? Apa yang harus aku katakan sekarang?'


Aku hanya berdiri di sana terkejut dengan apa yang Mama Mark katakan dan mencoba untuk menemukan sebuah jawaban, tepat saat Mark mendekat ke arah kami dan berkata kepada Mamanya,


"Mama terlihat senang dekat dengannya. Tapi bisakah aku meminjam Starla sebentar? Aku benar-benar ingin bicara dengannya." Ucap Mark.


"Tentu saja sayang. Dia sepenuhnya milikmu." Balas Sang Mama.


'Apa sebenarnya yang wanita itu pikirkan? Apa yang sudah Mark katakan kepadanya?'


Aku lalu melihat ke arah Mark dengan tatapan yang begitu tajam, seolah mataku hendak keluar. Mark langsung memegang tanganku dan membawa Aku menuju kamarnya.


"Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang dikatakan Mamaku kepadamu. Jangan hiraukan apa yang mama katakan. Apakah dia mengatakan sesuatu hal yang lainnya?" Tanya Mark.


"Kenapa dia harus mengatakan hal itu Mark? Bisakah kau menjelaskan semuanya? Apakah kau tidak sering membawa wanita ke rumahmu?" Tanyaku.


"Mmmm kau yang pertama." Ucap Mark dengan wajah yang sedikit merona di pipinya dan dia tampak begitu menggemaskan saat mengusap belakang kepalanya.


"Jadi apa mungkin itulah kenapa Mamamu berpikir bahwa aku adalah kekasihmu?" Tanyaku kepada Mark.


"Mungkin karena aku mengatakan bahwa kau adalah orang pertama selama bertahun-tahun ini, tempat aku memiliki perasaan kepadanya." Ucap Mark dengan malu.


"APA??" Ucapku dengan pipi yang merona seperti tomat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2