Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Orang Tua Kandung Alden


__ADS_3

Hari berikutnya kami tiba di kota asal Alden dan kami pun tiba di sebuah rumah yang tampak bobrok. Area rumah itu terlihat berasal dari keluarga kelas bawah. Alden mengetuk pintu dan dari dalam keluar seorang wanita yang berusia sekitar 50-an tahu. Dia tapak kebingungan awalnya, tapi kemudian dia menatap Alden untuk waktu yang sedikit lama dan tiba-tiba dia menangis. Tangisannya begitu deras jatuh ke pipinya. Dia pun terjatuh dan duduk di lantai dengan lututnya dengan telapak tangannya menutup wajahnya.


Mendengar suara tangisannya, seorang pria yang berusia sekitar 60-an tahun muncul dan dia berdiri menatap istrinya yang menangis sementara kami hanaya berdiri di hadapannya. Dia tidak punya pikiran apapun tentang siapa kami. Jadi dia ikut duduk dan mendekat ke arah istrinya dan mulai bertanya apa yang terjadi.


"Itu adalah dia." Ucap wanita itu menangis dengan suara yang terluka


Aku melihat ke arah Alden dan aku melihat air mata juga mulai turun ke pipinya.


Pria tua itu menatap Alden dan berdiri lalu langsung memeluk Alden dengan sangat erat.


"Nak!" Teriak pria.


Semua orang di sana mulai menangis, termasuk diriku. Mereka membawa kami masuk dan membuat kami duduk di sebuah sofa yang sudah begitu tua dan usang.


"Maaf rumah kami begitu buruk. Kami sudah mencoba untuk menabung uang agar bisa memperbaikinya." Ucap wanita itu tampak jelas terlihat malu.


Tapi seharusnya dia tidak harus malu seperti itu. Walaupun rumah itu sudah tua, tapi perabotannya ditata begitu rapi dan rumah itu juga begitu bersih.


Dia berlari untuk menyiapkan sesuatu untuk kami sementara pria itu tetap bersama kami. Pria itu tidak memulai percakapan apapun tanpa adanya istrinya.


Tak lama setelah itu istrinya muncul dengan membawa ayam goreng dan pie apel yang terlihat begitu lezat.


Setelah memuaskan rasa lapar kami dengan makanan yang begitu lezat, sekarang waktunya bagi kami untuk mendiskusikan apa yang harus kami lakukan sejak awal.


"Aku tahu kau adalah putraku. Aku bisa mengenali wajahmu karena seorang ibu selalu bisa mengenali putranya dan aku tahu kau mengenali kami juga." Ucap wanita itu dengan harapan berdoa bahwa dia memang benar.


"Iya." Balas Alden. "Dan aku harap kalian tahu bahwa aku punya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada kalian."

__ADS_1


"Kami tahu dan kami juga banyak hal yang ingin kami katakana. Tapi aku mengerti apa yang sudah kau lalui. Kau pasti berpikir bahwa kami menelantarkan dirimu." Ucap pria itu.


"Aku hanya ingin tahu kenapa kalian harus meninggalkan aku." Ucap Alden.


Air mata Alden mulai terjatuh yang membuat hatiku terluka. Aku memegang tangannya dengan sangat erat untuk menunjukkan bahwa aku ada di sisinya.


"Oh tidak pernah Nak. Apakah itu yang dikatakan kepada dirimu? Bagaimana kami bisa meninggalkan anak yang selalu kami inginkan." Ucap wanita itu.


Setelah itu suaminya mulai bicara.


"Kami merupakan pasangan yang bahagia dan berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kami begitu bahagia saat mendapatkan anak pertama kami. Kami memiliki tetangga yang merupakan pasangan kaya di samping rumah kami yang juga melahirkan putra mereka saat kau dilahirkan dengan sehat.


Kami mendengar wanita itu menangis, jadi kami pergi menemuinya untuk menghiburnya. Dia menjadi teman dengan kami dan Ibumu harus berada di rumah sakit untuk beberapa hari karena komplikasi yang dialami. Setelah itu kami memutuskan untuk menunggu wanita itu, tapi kami tidak tahu bahwa keputusan kami adalah yang terburuk.


Dia bertanya apakah dia bisa menggendong mu. Kami pun mengizinkan dia untuk bermain bersamamu mengerti akan kesedihannya. Tapi dia mulai menjadi kejam. Suatu hari dia menawarkan kami sejumlah uang yang banyak, jika kami mau memberikanmu kepadanya. Kami langsung tidak setuju dan merasa kesal dengannya. Jadi kami pun meninggalkan Rumah Sakit hari itu juga.


Kondisi kami mulai tidak tertolong, tapi kami tidak pernah berhenti untuk mencari dirimu. Bertahun-tahun berlalu kami sudah kehilangan harapan kehilangan uang dan harus tinggal di jalanan. Kami merasa begitu terluka di luar dan di dalam hati hanya karena kami mencoba untuk bersikap baik kepada seorang ibu yang kehilangan anaknya." Ucap pria tua itu.


Alden tampak terluka. Aku melihat tangannya mengepal dengan begitu keras. Bahkan tubuhnya begitu panas. Dia membenci orang-orang yang sudah membuat dia menjauh dari orang tuanya dan membuat dia begitu menderita.


"Tapi kami senang karena kami akhirnya bisa menemukanmu. Kami adalah orang paling bahagia di dunia ini." Ucap wanita itu.


Alden lalu memeluk orang tuanya dengan begitu erat dan keluarga mereka pun menjadi lengkap.


...----------------...


"Aku sangat bahagia hari ini, karena hari ini aku tahu bahwa semua yang aku inginkan untuk menemukan keluarga kandungku berhasil. Dan akhirnya setelah bertahun-tahun, aku mendapatkan bagian terbaik. Aku tidak diabaikan sama sekali. Mereka mencintai aku, apalagi yang bisa aku minta." Ucap Alden melihat ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.

__ADS_1


Aku melihat matanya tampak berbinar dan saat itu aku hanya ingin menciumnya.


"Aku ikut bahagia untukmu. Mereka sangat baik, terima kasih karena sudah membawa aku kemari." Balas ku.


"Aku harus membawamu karena aku harus menunjukkan kepada mereka wanita yang ingin aku hidup bersamanya selamanya." Balas Alden.


'Oh ya Tuhan… Oh ya Tuhan… Ya Tuhan… Ya Tuhan apakah telingaku mendengar dengan benar?


Apakah aku bermimpi?


Bangunlah Starla. Ayolah!'


Ini memang mimpi indah, tapi ini tidak mungkin benar. Aku mencubit diriku sendiri dan rasanya sakit. Ini ternyata memang benar.


Mulutku masih menganga dan aku menatap Alden dan aku bahkan tidak menyadari bagaimana anehnya aku melihat ke arahnya sampai dia bertanya padaku.


"Apa? Apa kau tidak mau menjadi kekasihku?" Ucap Alden bertanya dengan gugup.


"Aku pikir kau tidak akan pernah menanyakan hal itu." Ucapku mencoba untuk bersikap dingin walaupun hatiku sebenarnya sudah begitu meleleh.


"Ayo ikut denganku." Ucap Alden dan membawaku mendekat ke arah hutan.


Dia membawaku ke sebuah area yang berada di dalam hutan yang tidak terlalu jauh dari rumah, di mana di sana ada sebuah danau dan ada sebuah tenda yang sudah dipasangi lampu-lampu juga ada alat barbeque. Suasananya begitu romantis.


Aku begitu sibuk mengagumi tempat itu saat aku tiba-tiba merasakan dia memelukku dari belakang.


"Tempat ini adalah tempat di mana aku sering menghabiskan masa kecilku. Aku berlari dari rumah dan bermain di sini. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku di dunia ini dan aku tidak pernah membawa siapapun kemari. Kau adalah orang pertama.Tempat ini merupakan tempat yang paling dekat dengan hatiku dan tebak kau sudah memiliki hatiku sekarang." Ucap Alden dan melihat ke arah mataku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2