
Pagi berikutnya mataku terbuka dengan lebar setelah menyadari sesuatu di dalam kepalaku yang bodoh ini. Hari ini adalah ulang tahun Daniel. Aku harus pergi ke Red Dragon Academy untuk bertemu dengannya.
Aku pun lantas bergegas bangun dengan cepat, lalu mandi dan berganti pakaian yang simpel dan turun ke lantai bawah menyiapkan sarapan dengan cepat, setelah itu menyantap sarapan ku dengan terburu-buru.
Alden tampak menyantap menu sarapannya seperti biasanya. Dia terus saja melihat kearah ku yang tampak terburu-buru saat menyantap makananku. Mungkin apa yang aku lakukan ini terlihat cukup ekstrim, karena bisa saja aku akan tersedak. Tapi aku benar-benar sudah terlambat. Apalagi aku bahkan belum memiliki hadiah untuk Daniel. Jadi aku harus pergi mencari hadiah untuknya lebih dulu sebelum berangkat ke The Red Dragon.
"Apakah ada peluru yang nyasar masuk ke rumah kita? Oh tunggu, itu ternyata dirimu. Kenapa kau begitu terburu-buru seperti itu. Apakah seseorang tengah memaksamu, atau jangan-jangan kau terburu-buru karena takut akan debt colector yang akan menagih hutang padamu." Ucap Alden dengan wajah tampak menahan tawa.
"Diam lah Alden. Hari ini adalah ulang tahun Daniel. Aku harus pergi menemui dirinya. Oh ya, aku lupa bahwa kau tidak tahu siapa Daniel. Dia itu adalah adik kecilku." Ucapku kepada Alden.
"Oh baiklah. Apa kau mau aku mengantarmu pergi kesana?" Tanya Alden.
'Oh ya Tuhan, apakah Alden menawarkan kepadaku untuk mengantarku dan itu tanpa pertengkaran dulu di antara kami?' ucapku dalam hati.
"Aku akan sangat berterima kasih untuk hal itu." Balas ku.
Aku tidak mau apapun untuk memicu sikap anehnya datang kembali saat ini. Jadi, setelah selesai sarapan, kami lalu duduk di dalam mobil dan dia membawaku untuk pergi membeli sebuah hadiah di sebuah toko untuk Daniel.
'Apa yang seharusnya aku beli? Aku tidak punya waktu yang cukup untuk berpikir.' gumam ku dalam hati.
"Berilah dia pedang keren ini dan juga jam tangan ini. Jam ini bisa melacak lokasi dan bisa juga digunakan untuk menelpon. Ini edisi terbaru. Aku sangat yakin bahwa Daniel pasti akan menyukainya dan ini akan sangat membantunya." Ucap Alden padaku
"Aku suka jam tangannya. Tapi tidak kah pedang terlalu berbahaya baginya?" Tanyaku bingung.
"Bukankah dia berada di Red Dragon Academy yang terkenal itu? Jika aku berada di sana, percaya kepadaku bahwa aku akan sangat menginginkan pedang itu." Balas Alden.
"Baiklah jika kau mengatakan seperti itu. Aku rasa aku akan membelinya." Ucapku.
Setelah itu aku pun pergi ke kasir dan meminta mereka untuk membungkus hadiah itu untuk Daniel dan menanyakan berapa harga dari hadiah yang aku pilih itu.
"Berapa semuanya?" Tanyaku pada kasir di toko itu.
__ADS_1
Tapi mereka melihat ke arah Alden dan baru bicara kepadaku.
"Oh Nona, jangan mempermalukan kami dengan menanyakan hal itu. Ini semua gratis untuk Anda. Kami tidak bisa menerima uang anda." Ucapnya.
"Aku rasa kalian sudah salah paham terhadapku. Kalian pasti salah mengenali aku dengan orang lain. Kenapa itu semua bisa gratis untuk ku?" Tanyaku dengan begitu bingung.
Maksudku, aku ini bukanlah orang yang terkenal atau sesuatu. Jadi untuk apa mereka mau memberikan semua itu dengan gratis.
"Nona, anda terlalu merendahkan diri Anda. Tapi kami tidak bisa mengambil apapun dari Tuan." Ucap pelayan itu.
'TUAN???'
'TUAN SIAPA??'
'ALDEN?'
'SIAPA SEBENARNYA DIA? DENGAN SIAPA SEBENARNYA AKU TINGGAL DALAM SATU RUMAH?'
"Ambil saja uang ini, kami tidak bisa menerimanya dengan gratis. Terima kasih ya." Ucap Alden seraya memberikan uangnya dan menarik tanganku menuju mobilnya.
Aku duduk di dalam mobil dan melihat ke arahnya yang duduk di bangku pengemudi.
"Apakah kau bisa menjelaskan semuanya? Apakah mereka salah mengenali dirimu dengan orang lain? Maksudku aku tidak mau bersikap kejam atau apapun itu. Tapi aku tidak pernah tahu kau itu orang penting, atau mungkin saja artis, atau apapun itu. Sebenarnya apa pekerjaanmu?" Ucapku kepada Alden.
"Tidak ada, tapi kau memang benar. Mereka mungkin bingung mengenali aku dengan orang lain." Ucap Alden dan dia kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Iya mungkin saja." Ucapku.
Tapi jauh di dalam hatiku aku tidak yakin.
Para pelayan yang ada di dalam toko tadi terlihat mengenal Alden seolah mereka semua adalah anggota keluarga. Aku benar-benar tidak tahu apapun tentang pria yang duduk di sampingku ini.
__ADS_1
'Kenapa dia begitu tertutup atau hanya aku yang memang tidak pernah bertanya kepadanya dengan jelas?'
Sepanjang perjalanan menuju The Red Dragon, kami tetap diam. Aku mendorong diriku sendiri dari dalam kepalaku agar aku bisa bertanya sesuatu kepada Alden untuk bisa membuat percakapan di antara kami berdua. Tapi yang terjadi, aku tidak bisa melakukannya.
Alden begitu diam yang membuat aku tidak tahu apa yang harus aku tanyakan, bagaimana untuk memulainya, apakah aku harus tetap diam atau aku harus mencoba untuk berisik kali ini?
Jadi aku memilih untuk tetap diam dan tidak menanyakan apapun itu.
Setelah 1 jam yang rasanya seperti berlalu selamanya, kami pun tiba di The Red Dragon Academy.
Kami masuk ke dalam sana dan aku melihat seseorang yang bisa aku tanyakan di mana keberadaan Daniel. Mataku berbinar saat aku melihat sekeliling di dalam Academy dekorasi akademik itu.
'Happy Birthday Daniel...'
Itu lah yang tertulis di atas banner yang terpampang disana. Orang-orang tampak sibuk menata makanan dan dekorasi serta benda lainnya. Aku lalu melihat ke sekeliling pada persiapan ulang tahun yang sangat indah itu. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang selama ini benar-benar ingin aku dengar sudah sangat lama.
"KAKAK....!!!!" Teriaknya.
Aku berbalik untuk melihat adik kecilku yang ternyata sudah tumbuh sedikit lebih dewasa itu berlari ke arahku. Aku langsung memeluknya dan mataku mulai terasa memanas. Air mataku mulai mengalir. Aku sangat merindukannya.
Aku begitu bahagia melihat dia akhirnya bisa menemukan keluarganya. Keluarganya yang benar-benar memperlakukan dia dengan sangat baik. Dia terlihat begitu bahagia.
"Kakak terlambat. Tapi aku rasa, aku bahkan berpikir bahwa kakak tidak akan datang." Ucapnya.
"Daniel, bagaimana mungkin aku tidak akan datang untuk bertemu dengan orang favoritku di hari ulang tahunnya ini." Ucapku.
"Terima kasih banyak Kak." Balas Daniel dengan tersenyum.
"Daniel perkenalkan, dia Alden. Dia adalah teman satu rumahku. Dia yang mengantarku kemari untuk bertemu denganmu." Ucapku kepada Daniel.
Bersambung...
__ADS_1