Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Teman-teman Starla


__ADS_3

Hari berikutnya aku menghidupkan ponselku dan ada banyak sekali pesan datang dari teman-temanku dan ada satu pesan yang berasal dari Alden. Aku tidak menghiraukan 150 pesan dari grup chat dan langsung melompat ke arah pesan dari Alden.


Pagiku dimulai dengan saling berbalas pesan dengan Alden. Aku merasa begitu bahagia.


Dia menelponku dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku sedikit merindukan dirinya dan juga makanan buatannya. Aku merasa kesepian di rumah dan semuanya dimulai dari hari ini. Aku juga mengatakan kepadanya tentang teman-teman kampusku dan bagaimana mereka yang terus meneleponku dan mengirim pesan kepadaku untuk mengajak aku pergi liburan.


Alden malah setuju dengan teman-temanku dan memintaku untuk pergi dan menikmati liburanku. Itu semua seolah kesempatan besar bagiku agar kesendirianku bisa pergi. Itu semua akan menyenangkan dan aku memang membutuhkan hal itu.


Sekarang keras kepala Alden jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya.


Dia mengatakan kepadaku bahwa dia tidak mau bicara denganku jika aku tidak pergi untuk liburan dan akan merasa buruk terhadap dirinya sendiri, dan mungkin dia bahkan tidak akan bisa berkonsentrasi terhadap misinya dan kalah jika aku tidak pergi.


Lihat! Bagaimana bodohnya dia itu dan dia keras kepala sekali.


Aku pun setuju dengan satu syarat, itu hanya jika dia menginformasikan kepadaku bagaimana dia menyelesaikan misi pertamanya tentang pengeboman itu. Hanya setelah itu aku bisa memikirkan untuk pergi bersama teman-temanku.


Walaupun sebenarnya dia mengatakan kepadaku bahwa dia tidak akan bisa bicara kepadaku setelah hari ini karena dia tidak bisa menggunakan nomor yang sama untuk waktu yang lama. Namun, dia pada akhirnya pun setuju dan kemudian kami pun kembali melakukan pekerjaan kami masing-masing.


Di rumah sakit Mark juga memaksaku untuk pergi. Tapi aku bisa melihat ada kesedihan di dalam matanya.


"Kenapa kau terlihat cemberut?" Tanyaku kepada Mark.


"Kau bilang 15 hari bukan? Kau akan pergi selama 15 hari." Ucap Mark lagi mencoba mengkonfirmasi jika telinganya memang benar-benar bekerja.


"Iya Mark, itu adalah perjalanan liburan yang cukup panjang. Kami akan pergi ke Yunani dan Spanyol. Ada banyak hal yang bisa kami lakukan dan banyak tempat yang bisa kami kunjungi." Balas ku.


"Aku tahu dan kau memang perlu melakukan hal itu. Aku juga akan sangat bahagia jika kau pergi. Tapi aku juga akan merindukan dirimu." Ucap Mark.


Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


'Bagaimana aku bisa membalas ucapannya?'


Aku harus menemukan sebuah cara untuk mengatakan kepadanya bahwa aku tidak akan pernah bisa memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan terhadap diriku.


"Aku bahkan belum yakin jika aku akan pergi dan bahkan jika aku pergi, kau tidak akan menyadari bagaimana waktu akan segera cepat berlalu untuk aku bisa kembali lagi." Ucapku.


"Tidak. Itu akan menjadi hari yang terpanjang dalam hidupku. Tapi tidak masalah aku akan menunggu dirimu. Itu semua akan membuatku bahagia jika kau pergi dan menikmati waktu bersama teman-temanmu Ucap Mark.


Aku pulang ke rumah memikirkan tentang perjalanan liburan itu dan membuka kunci pintu rumahku. Tapi pintunya terbuka.


'Apakah pelayan ada di rumah?' pikirku.


Aku berusaha berpikir positif.

__ADS_1


"Iya, itu mungkin memang pelayan." Ucapku pada diriku sendiri, mencoba untuk menenangkan diri.


Hanya pelayan, aku dan Alden yang memiliki kunci rumah ini. Aku lalu masuk ke dalam rumah dan terus memanggil nama pelayan itu, tapi dia tidak ada.


'Sial!'


Aku sekarang ingin buang air kecil di celanaku. Aku benar-benar ketakutan.


'Kumohon jangan lagi. Aku tidak bisa memikirkan ada orang kriminal atau penculik atau pembunuh lainnya yang akan menangkap ku sekarang.'


Aku mungkin akan mati di sini karena rasa panik yang aku hadapi sekarang ini.


"Aku harus berlari. Aku harus keluar dari sini." Ucapku secara terus-menerus pada diriku sendiri.


Aku hendak berlari sebelum para pembunuh itu muncul di hadapanku namun sebuah suara menghentikan aku.


"Kau pikir ke mana kau mau kabur setelah kau baru saja datang?"


Aku kembali berdoa untuk keselamatan ku dan hendak kabur untuk pergi.


"Hei, kau mau pergi ke mana? Kenapa kau berbalik? Kenapa kau malah menatap pintu? Tidak akan ada yang menyelamatkanmu hari ini. Kami datang sejauh ini hanya untuk menjemput dirimu." Ucap suara itu lagi.


Aku benar-benar kacau sekarang.


Dia itu benar-benar membawa masalah untukku. Dia mempunyai terlalu banyak musuh. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaan cintaku padanya dan di sini aku sudah akan mati tanpa alasan.


"Oh ya Tuhan... Apa yang kau pikirkan dan ucapkan itu? Tidak bisakah kau melihat ke arahku." Ucap suara itu lagi.


Ini adalah waktunya bagiku dengan perlahan mulai membalikkan wajahku ke arah pembunuh yang akan menyiksaku hari ini dan menunjukkan tubuhku yang sudah kaku kepada Alden sebagai tanda kemenangannya dan di sana aku pun melihat wajah pembunuh itu.


Dia tampil dengan mengenakan sebuah dress seksi. Di sana ternyata berdiri temanku, Hana. Dia terlihat begitu fashionable. Dia teman yang sangat perhatian, misterius tapi juga menggemaskan, dia sabar tapi bisa saja seperti gunung berapi yang akan meledak jika sampai membuat masalah dengannya.


Dan di sofa berbaring temanku yang lainnya, Riana. Dia wanita yang lucu. Dia itu keras dan dia tipe teman yang akan membela sampai mati. Dia benar-benar wanita yang sangat kuat.


Disana juga ada Elina. Dia wanita yang cantik, pintar, baik. Dia akan tertawa dalam semua lelucon yang kami buat. Dia suka minum tapi tidak terlalu banyak. Dia terkadang bicara tidak relevan dan juga mengatakan hal-hal yang menyakitkan.


Semua temanku memang pintar dan cantik. Jadi aku tidak perlu menjelaskan semua hal itu lagi.


"Sialan kalian guys!" Ucapku begitu terkejut karena aku tidak bisa mempercayai apa yang dilihat oleh mataku.


Mereka berdiri di hadapanku. Orang-orang inilah yang tinggal bersamaku selama 5 tahun. Aku berkembang bersama mereka. Para gadis seksi itu benar-benar sangat berarti untukku. Tapi salah seorang dari mereka tidak ada disini.


"Di mana Vera? Apakah dia tidak datang bersama kalian guys?" Tanyaku.

__ADS_1


"Oh sialan! Tempat tidurmu sangat nyaman dan begitu sempurna untuk melakukan hubungan dengan pria tampan." Ucap sebuah suara dari arah kamarku.


"Vera kau ada di kamarku?" Teriakku.


Aku lalu pergi ke kamarku melihat Vera yang berbaring dengan hanya menggunakan pakaian dalamnya dan juga menggunakan jeansnya.


"Apa? Aku kelelahan karena perjalanan kami. Jadi aku ingin berbaring sebentar." Ucapnya.


Dia adalah Vera, dia gadis yang paling populer dan begitu seksi. Dia adaah gadis yang paling terkenal di antara kami semua. Dia sangat menyukai pesta.


Sekarang semua teman-temanku berada di dalam kamarku dan melompat ke atas tempat tidurku.


'Siapa mereka sebenarnya? Apakah mereka gadis yang masih berusia 5 tahun?'


"Eli duduklah, dasar idiot! Sana pergilah minum air putih. Oh ya Starla, ngomong-ngomong Eli muntah 40 kali dalam perjalanan kami kemari." Ucap Riana.


"Aku sudah menebaknya. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalian bisa ada di rumahku. Bagaimana kalian bahkan tahu alamatku? Aku tidak mengingat bahwa aku pernah mengatakan hal ini kepada kalian. Aku begitu bingung." Ucapku.


"Oh, kami selalu punya cara kami sendiri. Kau pikir karena kau tidak mau membalas kami, jadi kami akan melepaskan mu begitu saja. Kami mengemasi barang-barang kami dan mulai mencari tahu di mana lokasimu dan datang kemari. Kau akan ikut liburan bersama kami dan kami akan pergi dari sini besok juga." Ucap Hana.


"Kau begitu cepat kaya Starla. Bagaimana kau bisa memiliki rumah seperti ini?" Ucap Elina.


"Guys, aku berbagi rumah ini dengan seseorang. Kalian seharusnya menginformasikan kepadaku lebih dulu jika kalian ingin datang. Bagaimana jika orang itu ada di sini dan tidak suka kalian masuk begitu saja ke dalam rumah ini?" Ucapku.


"Kami akan tetap masuk ke dalam rumah ini, seperti ini adalah rumah kami sendiri." Ucap Riana mengangkat pundaknya dengan seolah mengatakan bahwa tindakan yang mereka lakukan ini bukanlah apa-apa.


"Bagaimana kalian bisa masuk?" Tanyaku dengan begitu terkejut.


'Apakah rumah ini begitu mudah untuk dibobol?'


"Seseorang bernama Tia membiarkan kami masuk saat kami menunjukkan foto kami bersama denganmu. Dia pun meminta kami untuk menunggu dan kami mulai menunggumu sejak tadi. Dia pun keluar untuk membeli beberapa bahan-bahan makanan dan mengatakan bahwa dia akan segera kembali." Ucap Elina.


"Aku lapar...." Teriak Hana yang duduk diam sejak tadi.


"Iya.... Tia sudah menyiapkan makanan untuk kami semua. Kami menunggumu sejak tadi. Ayo makan....!" Ucap Vera.


Kami semua lalu pergi ke ruang makan.


"Wah makanannya terlihat enak dan baunya begitu lezat. Aku ingin hidup di mana kau tinggal saat ini." Ucap Riana.


"Lihat siapa yang bicara. Wanita ****** ini, dia bahkan bisa membeli 3 rumah seperti ini." Balas Vera.


"Aku tahu bukan? Diam lah dan sekarang makanlah kalian semua." Ucapku tertawa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2