Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Alden Pergi


__ADS_3

Pagi berikutnya Alden bangun lebih dulu dibandingkan aku. Dia sudah selesai dengan mengemasi barang-barangnya. Dia juga sudah menyiapkan sarapan untuk kami, kemudian kembali dan berbaring di sampingku menempatkan sebuah ciuman di pipiku. Aku membuka mataku dan melihat seorang pria tampan di depanku. Aky memulai pagi ku dengan pemandangan yang begitu indah.


"Ya Tuhan, aku akan sangat senang untuk bisa bangun di sampingmu setiap hari. Maukah kau membiarkan aku tidur di sampingmu setiap hari? Aku berjanji bahwa aku tidak akan mengambil banyak tempat dan tidak akan membuat masalah denganmu." Ucap Alden.


"Diam lah Alden. Kenapa kau sudah begitu siap?" Tanyaku menatapnya yang terlihat sudah begitu rapi.


"Aku akan pergi dalam satu jam, ingat?" Ucapnya mengingatkan aku.


"Apakah kau harus pergi?" Tanyaku lagi padanya.


"Yaa, maksudku jika kau memang mau orang banyak untuk meninggal dan ledakan itu sukses terjadi maka aku tidak akan pergi." Ucap Alden.


"Baiklah, baiklah. Pergilah selamatkan dunia ini pahlawannya orang banyak." Ucapku bercanda padanya.


"Pahlawan untuk orang-orang atau dirimu?" Ucap Alden dan mengedipkan matanya ke arahku. "Sarapannya sudah siap, sekarang sikat gigimu dan turunlah atau makanannya akan segera dingin." Lanjut Alden.


Dia benar-benar mempunyai tenaga yang banyak setelah malam yang melelahkan. Setelah itu, aku lalu turun setelah selesai menyiapkan diriku ke ruang makan di mana Alden sudah menyiapkan sarapan yang terlihat begitu mewah yang pernah aku lihat.


"Oh ya Tuhan, kau benar-benar hebat Alden." Ucapku terlalu gembira melihat semua makanan yang ada di depanku.


"Apa kau yakin aku seperti itu? Jadi kau akan tetap bersamaku selamanya bukan? Apakah kau ingin mengakui sesuatu Starla William?" Ucapnya.


"Tidak, aku tidak mau." Ucapku seraya mencoba untuk menyembunyikan pipiku yang merona di belakang gelas jus yang aku minum berharap aku bisa berhasil melakukannya.


Setelah itu, kami berdua memiliki waktu sarapan yang menyenangkan dan beberapa saat kemudian, waktunya bagi Alden untuk segera pergi.


"Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan yang terbaik untukmu setiap hari dan ingatlah untuk menjaga dirimu. Nikmatilah semuanya sampai waktu aku kembali lagi. Iblis ini akan segera kembali secepatnya." Ucap Alden.

__ADS_1


Setelah itu, dia pun keluar dengan membawa barang-barangnya menuju mobilnya.


"Mobil siapa itu?" Tanyaku kepadanya seraya menunjuk ke arah sebuah mobil yang terparkir dan tampak begitu indah.


"Itu mobilmu." Balas Alden.


"Berhentilah bercanda Alden. Apakah itu mobilmu?" Tanyaku lagi.


"Aku tidak bercanda. Itu memang benar adalah mobil milikmu. Ini ambillah kuncinya." Ucap Alden melempar sebuah kunci dengan gantungan yang bertuliskan Starla di sana.


"Apa? Apa ini? Apa kau bercanda? Kau membeli sebuah mobil dan ada namaku di kuncinya?" Ucapku begitu terkejut.


"Apa kau bodoh atau kau tidak mau menerima fakta bahwa aku membelikan mobil itu untukmu. Itu mobilmu Starla." Ucapnya.


"Tentu saja aku tidak bodoh. Kau yang bodoh. Apa yang salah dengan dirimu? Aku tidak bisa mengambil ini darimu. Aku bahkan tidak punya uang sebanyak ini untuk membelinya dari mu." Ucap ku.


Kemudian setelah itu dia pun pergi setelah melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan padaku.


Aku ingin menangis dengan keras, tapi aku berusaha menahannya. Mataku sudah dipenuhi dengan air mata. Aku lalu melambaikan tangan kepadanya dengan suara yang terluka.


"Selamat tinggal Alden. Aku akan merindukanmu." Ucapku seraya melihat dia pergi dengan hati yang terasa begitu berat.


'Bagaimana aku bisa bertahan tanpa Alden di sisiku? Itu semua terlalu lama.' ucapku dalam hati.


Aku lalu masuk ke dalam rumah.


Rumah terasa kosong tanpa dirinya. Rasanya seperti sudah terjadi peperangan dan akulah orang terakhir yang selamat. Aku pun bersiap pergi ke rumah sakit mencoba menyibukkan diriku dan juga pikiranku untuk mengalihkan semuanya dari Alden. Tapi semuanya terlihat tidak mungkin terjadi. Semuanya membuat aku terus memikirkan dirinya.

__ADS_1


Aku seperti gadis remaja yang berusia 14 tahun dan baru saja merasakan bagaimana jatuh cinta.


Aku dan Mark berada di pos yang berbeda. Jadi kami sulit bertemu di dalam rumah sakit. Kami hanya beristirahat untuk makan siang bersama dan mengobrol bersama. Bicara dengannya membuatku mengalihkan sedikit pikiranku dari Alden.


Mark selalu menyenangkan untuk diajak mengobrol. Dia adalah tipe seorang teman yang diperlukan dalam hidup. Tipe teman yang akan selalu membuat ku melupakan semua rasa sakit dan kekhawatiran ku. Dia membuat aku tertawa. Kami selalu saja bersama, mengobrol bersama, bekerja di tempat yang sama dan memiliki banyak cerita, dan banyak topik untuk didiskusikan.


Waktu terlihat begitu cepat berlalu dengan seperti kecepatan sebuah peluru saat kami mengobrol.


Kami lalu mengucapkan selamat tinggal saat kami akan kembali bekerja ke pos kami masing-masing.


Saat pulang ke rumah kami mengatakan, "oh sial, waktunya sudah berakhir. Padahal masih ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. Temui aku secepat yang kau bisa."


Akhirnya hari ini pun berakhir dan aku pun pulang ke rumah. Aku masih tidak yakin apakah aku bisa menggunakan mobil baru yang begitu mengkilap yang diberikan Alden. Jadi aku masih pergi bersama Mark hari ini.


Aku tidak mengatakan kepadanya bahwa Alden akan pergi selama 4 bulan. Aku pikir dia akan mengatakan kepadaku bahwa dia begitu bahagia dan hal itu menyakitkan untuk aku dengar dan dia pasti akan memintaku untuk hangout bersamanya dan aku hanya sedang tidak ingin melakukannya, hari ini mungkin saja besok.


Aku lalu masuk ke dalam rumah dan mataku terus mencari keberadaan Alden, mengetahui bahwa aku tidak akan bisa menemukannya. Aku merindukan kehadirannya, sangat merindukannya dan ini baru saja hari pertama.


'Bagaimana aku akan bisa bertahan dalam waktu 4 bulan di mana setiap harinya aku merasa begitu kesepian?'


Ada banyak orang yang bisa aku ajak mengobrol. Tapi aku hanya ingin dirinya. Rumah ini bukan lagi sebuah rumah saat aku menyadari rumah adalah di mana Alden berada. Rumah indah ini tidak berarti apapun tanpa dirinya.


Tidak ada orang yang menjadi lawan ku berdebat. Pria tampan itu berjalan di dalam rumah ini membuatku kesal, dan juga membuatku tertawa sampai aku bahkan tidak bisa menahan diriku lagi.


Dia menjagaku seperti seorang ibu dengan menyiapkan makanan yang paling lezat yang ada di dunia ini untukku dan semua momen romantis bersamanya yang membuatku berubah memerah seperti tomat.


'Oh ya Tuhan, aku begitu merindukannya. Aku mencintaimu Alden, kumohon kembalilah dengan cepat dan selamat dengan senyuman mempesona di wajahmu itu.'

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2