
Beberapa menit berlalu dan sekarang sudah gelap. Alden tidak tertidur dan aku sekarang harus duduk di kursi depan agar dia memiliki cukup ruang dan setiap kali aku melihat ke arah cermin di depan mobil, aku pasti melihat Alden tengah melihat ke arahku atau ponselnya.
"Dingin...!!" Ucap Alden.
Aku langsung dengan cepat berbalik dan melihat Alden tampak gemetar dan juga begitu pucat dengan lengannya yang terlipat di dadanya. Aku dengan cepat menghidupkan penghangat di dalam mobil saat Alden kembali bicara dengan suaranya yang terdengar gemetar.
"Itu tidak akan berfungsi." Ucapnya.
Aku dengan cepat berpindah ke kursi belakang dan memeluknya dengan sangat erat. Aku mengusap tangannya dan juga kakinya lalu menghembuskan nafasku yang terasa hangat di tangannya. Aku lalu melihat ke arahnya dan itulah saat aku melihat dia menyeringai.
"Kenapa kau tersenyum? Apakah kau baik-baik saja sekarang?" Ucapku.
Aku mencoba untuk menahan diriku sebelum aku ingin membunuhnya.
"Tidak, aku masih sangat kedinginan. Aku minta maaf, tidak ada orang yang pernah merawat aku seperti yang kau lakukan. Terima kasih." Ucapnya.
Senyumannya itu berbanding terbalik dengan kata-kata yang diucapkannya. Tapi semua itu terasa cukup sebagai bukti padaku bahwa dia memang serius mengatakan semuanya. Jadi aku melompat dari dalam mobil dan kembali menyobek pakaianku.
Aku tidak melakukan hal ini dengan tujuan yang disengaja. Tidak! Aku benar-benar tidak ingin menggoda Alden. Tapi tidak ada pakaian atau kain apapun di dalam mobil selain yang kami pakai, jadi aku harus menggunakan pakaianku untuk melakukan ide yang muncul di dalam kepalaku.
Aku lalu membuka kap mobil dan mendekat ke arah mesinnya lalu menaruh pakaianku di atas mesin itu. Rasanya sangat panas, jadi aku menaruh pakaianku di sana dan saat pakaian itu sudah cukup panas, aku lalu menaruhnya di tubuh Alden. Dia melihat ke arahku seolah aku ini adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa dan langsung memeluknya seperti sebuah selimut.
"Oh ini sangat hangat." Ucapnya.
"Apa kau merasa lebih baik sekarang?" Tanyaku.
"Tidak... tidak... belum. Bisakah kau duduk lebih dekat denganku? Aku benar-benar sangat kedinginan." Ucap Alden.
Aku lalu mendekat ke arah Alden dan memeluknya dengan sangat erat. Dia juga memelukku dengan erat seolah dia tidak mau melepaskan aku.
Dia sebenarnya tidak gemetar sama sekali. Dia hanya diam dan menaruh kepalanya di pundak ku dengan kehangatan tubuhnya yang memelukku. Aroma parfum di tubuhnya menguar di hidungku. Aroma tubuhnya sangat enak, aku bahkan bisa mengagumi tubuhnya itu. Dia benar-benar memiliki tubuh yang sempurna.
Tubuhnya terasa begitu hangat mengenai tubuhku dan aku tidak mau berpindah sedikitpun menjauh dalam pelukannya itu.
'Tunggu dulu, apa yang sedang aku pikirkan. Kau salah Starla, kau sangat salah.' ucapku dalam hati.
'Oh, diam lah. Biarkan aku hidup!' ucap suara hatiku dan aku mulai mencium jiwa dari Alden.
Tangannya mulai masuk ke dalam pakaianku yang kini mulai berada di dadaku. Rasa halus dari tangannya itu menjalar di pinggangku dan kemudian berpindah ke atas tubuhku yang membuat kepalaku terasa meledak.
Alden membawa bibirnya mendekat ke arah leherku dan kemudian aku mendengar suara mobil mulai hidup. Aku membuka mataku untuk melihat dan aku pun menyadari bahwa aku tengah berbaring dan tertidur sepanjang waktu dan Alden tampak melihatku.
__ADS_1
"Maaf karena membangunkan mu. Aku sudah memperbaiki mobilnya." Ucap Alden.
'APAKAH AKU HANYA BERMIMPI SEJAK TADI?'
Kenapa aku bisa bermimpi tentang bermesraan dengan Alden, sangat aneh.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kapan kau bangun? Bagaimana kau bisa memperbaiki mobilnya?" Ucapku bertanya kepada Alden dengan menguap.
"Dengan kemampuan yang aku miliki Beb." Ucapnya lagi padaku.
"Kenapa juga aku harus bertanya. Ayo pergi sekarang." Ucapku.
Alden lalu duduk di kursi pengemudi dan dengan mudah dia menggunakan seat belt nya.
Apakah kecelakaan dan luka yang dialami juga sebuah mimpi karena aku tidak bisa melihat tanda itu lagi. Aku lalu melihat ke arah lengannya dan disana aku melihat sobekan pakaianku masih berada di sana. Benar saja, itu semua bukanlah mimpi.
'Siapa dia sebenarnya? Iron Man? Apakah luka itu sama sekali tidak menyakitinya?'
Dia mulai mengendarai mobil dan aku mulai merasa kedinginan karena sepanjang malam tertidur dengan pakaian yang robek. Aku mungkin akan mengalami flu. Aku mulai gemetar, Alden melihatku dari kursi depan melalui cermin yang ada dan dia pun menghidupkan penghangat mobil.
"Alden kau tidak bisa memperbaiki mobil ini satu jam yang lalu dan kau bahkan tidak mencobanya. Ternyata ini semua bisa bekerja selama ini." Ucapku.
"Bukan salahku karena kau tidak memeriksanya." Ucap Alden mencoba untuk bertingkah tidak bersalah. "Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" Ucapnya lagi.
'Kenapa dia tidak membiarkan aku menghidupkan penghangat kemarin saat dia merasa kedinginan?'
Aku begitu khawatir tentang kondisinya dan mencoba untuk menyelamatkannya dengan cara membuatnya tetap hangat.
Aku duduk dalam diam beberapa saat, benar-benar sibuk dengan pikiranku sendiri dan terbangun setelah tidur beberapa saat. Aku bahkan tidak menyadari kapan Alden keluar dari dalam mobil. Dia membawa sebuah sweater berukuran besar yang hangat dan juga kopi hangat untukku. Aku lalu mengenakan sweater itu dan itu adalah sweater yang paling lembut, dan yang paling nyaman yang ada di dunia ini. Aku sangat menyukainya.
Alden lalu duduk di sampingku dan memberikan kopi kepadaku dengan hati-hati.
"Hati-hati lah, ini masih panas." Ucap Alden. "Aku minta maaf tentang penghangat nya. Tolong jangan marah kepadaku Starla." Ucapnya dengan begitu menggemaskan yang membuatku seolah ingin berkata 'awww...' karena hal itu.
Aku tidak mengerti tentang dirinya. Kadang-kadang dia bersikap begitu kejam, membuat aku kesal, menggodaku, tapi kadang-kadang dia melakukan hal yang membuatku berpikir sebaliknya tentang dirinya. Dia ternyata juga memiliki sikap yang begitu manis dan penuh perhatian.
"Terima kasih Alden untuk semuanya." Ucapku.
"Bodoh, kemari lah duduk di sampingku di kursi depan." Ucap Alden.
Setelah itu, dia mulai mengendarai mobilnya lagi.
__ADS_1
"Apakah dia menelpon mu lagi, si pria yang mencintaimu itu?" Ucap Alden.
"Jangan panggil dia seperti itu. Iya, dia terus meneleponku. Aku akan bicara dengannya hari ini." Balas ku.
"Apa kau menyukainya? Apakah kau bersama dengannya?" Tanya Alden.
"Tidak Alden, tidak seperti itu. Aku memang menyukainya, tapi tidak dengan cara seperti itu. Dia itu terlalu manis untukku. Aku tidak pernah ingin menyakiti dirinya." Balas ku.
"Kau berpikir untuk memberikan dia sebuah kesempatan, itu semua mungkin karena kau juga jatuh cinta kepadanya. Apa aku benar?" Ucap Alden.
"Aku... Aku tidak tahu. Orang tuanya benar-benar berpikir bahwa aku adalah kekasihnya. Adiknya menginginkan aku untuk bisa bersamanya. Aku tidak berpikir bahwa ada yang salah dengan Mark. Dia itu pria yang sempurna. Aku seharusnya memberikan diriku beberapa waktu untuk menyadari bagaimana perasaanku terhadap dirinya." Ucapku.
Alden lalu menghentikan mobil setelah aku mengatakan hal itu dan dia menggenggam setir mobil dengan sangat erat.
"Jadi semuanya sudah sampai di sana." Ucap Alden. "Kau tidak bisa bersama dengannya." Lanjutnya lagi.
"Ada apa dengan dirimu? Memangnya apa hubungannya itu semua denganmu?" Ucapku.
"Kau... kau... Sudahlah biarkan saja." Ucapnya dan mulai menjalankan mobilnya lagi.
Kali ini ekspresi wajahnya terlihat aneh dan juga ada kemarahan serta kekecewaan di wajahnya. Dia adalah teman satu rumah denganku. Apa karena hal itu dia berpikir bahwa dia bisa mengambil keputusan untukku? Memangnya dia berpikir dia itu siapa. Dia itu bersikap begitu penuh perintah seperti seorang bos.
Setelah kami sampai di rumah, Alden langsung dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Aku sendiri bergegas untuk mengambil barang-barang ku dan pergi ke rumah sakit di mana Mark sudah menunggu diriku disana.
Secepatnya saat aku tiba di rumah sakit di mana Mark berada, dia dengan cepat memegang tanganku dan menarik aku menuju kantin rumah sakit.
"Kau bersamanya sepanjang hari dan sepanjang malam. Ke mana kau pergi? Aku begitu khawatir." Ucap Mark.
"Aku pergi untuk menemui adikku, Mark. Dia hanya mengantarku ke sana dan kemudian kami kembali ke rumah kami." Balas ku.
"Rumah kami? Aku tidak mau kau tinggal bersamanya. Jadi kumohon pindah lah denganku Starla. Kau akan punya ruangan pribadimu sendiri. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kau bahkan tidak perlu merasa canggung dengan berpikir bahwa aku ada di sana juga. Aku hanya ingin kau untuk tinggal bersamaku." Ucap Mark.
"Berhentilah bersikap seperti itu Mark. Maaf aku tidak bisa pindah bersamamu." Ucapku.
"Aku tahu kau tidak mencintaiku Starla. Tapi aku merasa insecure. Aku tidak suka melihatmu tinggal bersama orang lain dan berbagi atap yang sama dengan orang itu. Aku merasa begitu cemburu terhadapnya. Dia itu bisa terus melihatmu sepanjang waktu. Aku pernah melihat bagaimana cara dia melihat ke arahmu. Dia itu mengagumi dirimu. Aku takut jika kau jatuh cinta kepadanya." Ucap Mark.
"Mark! Berhentilah bicara omong kosong. Dia tidak menyukai aku sama sekali dan aku juga tidak menyukainya. Kami bahkan tidak dekat sama sekali. Aku lebih sering bersamamu sepanjang waktu. Jadi berhentilah bersikap khawatir tanpa alasan seperti ini." Ucapku.
Mark adalah seorang pria yang di eluh-aluhkan para wanita. Siapa yang bisa menyangkal akan hal itu. Pria sempurna seperti dia seharusnya menyukai seseorang yang sama dengan dirinya dan bukan orang bodoh seperti aku.
Aku begitu tersanjung karena dia menyukai aku. Tapi aku hanya memiliki perasaan suka kepadanya dan aku tidak mencintainya. Jadi, dia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Tapi dia tetap tidak mengerti. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan bisa menemukan seseorang yang pantas untuk dirinya dan juga cintanya, karena aku benar-benar tidak bisa memberikan cinta yang dia inginkan dariku.
__ADS_1
Bersambung....