Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Keinginan Daniel


__ADS_3

Aku dan Daniel mulai melihat-lihat seisi rumah dengan jauh lebih detail. Dan kami melihat ada jacuzzi yang begitu mewah di dalam rumah. Daniel bahkan tampak begitu melongo melihat semuanya.


"Waaahhh! Kak ada jacuzzi di dalam rumah, sebenarnya kebaikan apa yang kakak lakukan di kelahiran kakak yang sebelumnya?" Ucap Daniel.


Jujur saja, aku juga menikmati semuanya. Tapi aku benar-benar bingung memikirkan dengan siapa sebenarnya aku akan tinggal di bawah satu atap yang sama di rumah ini.


"Aku akan memasak untukmu, sekarang mandilah dan ganti pakaianmu dan setelah itu aku harus pergi ke rumah sakit untuk mulai bekerja. Ini sudah sangat lama sejak aku tidak bekerja lagi." Ucapku kepada Daniel.


Dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh ya.... Apakah kau tidak keberatan jika kau tetap berada di rumah sendirian saat aku keluar? Jangan merusak apapun atau pergi ke dapur. Kau bisa bermain video game atau menonton televisi. Aku akan kembali secepat yang aku bisa." Lanjut ku pada Daniel.


"Iya tentu saja aku bisa melakukannya. Aku tidak akan membuat masalah untuk kakak, aku berjanji." Ucap Daniel.


Setelah itu aku lalu pergi untuk mencari pekerjaan dan untungnya aku menemukan sebuah rumah sakit yang bisa membiarkan aku bekerja setelah aku menyelesaikan interview disana. Aku ditempatkan di bagian anak-anak, tapi aku masih harus belajar banyak. Aku sangat suka untuk berada di sekitar anak-anak.


"Hai aku adalah Bianca, dan merupakan kepala bagian di sini. Kau harus disiplin dan cepat. Bantulah semua orang yang kau bisa dan ikuti aturan dari rumah sakit. Dari jam 09.00 pagi sampai 06.00 sore kau harus bekerja dengan keras, mengerti?" Ucap wanita itu.


"I... iya." Balasku.


Baiklah. Jadi sekarang aku adalah bagian dari rumah sakit di kota ini. Aku akhirnya bisa mulai kembali bekerja.


Setelah itu, aku lalu kembali ke rumah merasa begitu kelelahan di hari pertama bekerja.

__ADS_1


"Bagaimana hari ini?" Tanya Daniel.


"Cukup baik. Apa yang kau lakukan di sini sendirian?" Tanyaku.


"Hanya bermain video game dan menonton televisi seperti yang kakak perintahkan." Balasnya padaku.


Aku tersenyum padanya. Setelah itu, aku lalu pergi ke dapur untuk memasak sesuatu untuk kami.


"Kapan teman satu rumah ini akan kembali?" Tanya Daniel padaku.


"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menemukan cara bagaimana untuk menghubunginya. Aku membiarkan saja semua ini terjadi sampai nanti." Balas ku.


"Baiklah." Ucap Daniel.


Aku mematikan kompor dan langsung mendekat ke arahnya.


"Apa yang tengah kau pikirkan Daniel?" Tanyaku kepadanya.


"Mmmmm.... Bisakah aku menanyakan sesuatu kepadamu Kak?" Tanya Daniel padaku.


"Iya tentu. Apa itu?" Tanyaku padanya.


"Aku tidak bisa ada di sini membuat masalah untuk kakak sepanjang hidupku saat aku sendiri punya masalah yang belum aku selesaikan. Aku mau menghadapi dunia ini. Aku akan melupakan tujuanku jika aku tetap berada di bawah perlindungan Kakak. Aku suka bersama dengan kakak dan aku tidak bisa mengekspresikan bagaimana bahagia dan bersyukurnya aku karena bisa ada kakak dalam hidupku. Kakak sudah mengajakku hidup bersama. Kakak mengambilku dari jalanan dan membuat aku hidup layak. Kakak menyelamatkan hidupku. Tapi aku mau melakukan ini atau aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku harus menemukan The Viper dan membalas dendam. Hanya setelah itu aku akan bisa bernafas lega tanpa ada rasa sesak di dadaku." Ucap Daniel.

__ADS_1


"Tapi Daniel, kau tidak harus melakukan hal ini. Polisi bisa mengurus semuanya." Ucapku.


"Kenapa para polisi akan melawan geng yang penuh kekuatan untuk seorang laki-laki gelandangan berusia 14 tahun seperti aku? Mereka sudah menginvestigasi kasus itu sejak lama dan juga mengotopsi tubuh orang tuaku sejak lama. Mereka tahu bahwa The Black Viper yang melakukan semuanya. Tapi mereka melupakan semua itu. Maksudku bagaimana ini semua terjadi? Mereka tidak menghiraukan semua bukti yang ada sama sekali. Jadi, aku harus melakukan ini sendirian. Mereka adalah keluargaku dan ini adalah balas dendam ku." Ujar Daniel dengan wajah yang tampak begitu serius.


"Bagaimana aku bisa membantumu?" Tanyaku kepadanya dengan sedih.


Sebenarnya aku mulai terbiasa merasa untuk tertarik kepadanya hanya dengan waktu 2 sampai 3 hari ini.


"Kakak bisa mengirim aku ke sebuah akademi di mana aku bisa berlatih untuk menjadi seorang petarung kelas dunia. Aku ingin bersekolah dan bisa berada di sana. Rencananya adalah aku mau menghabiskan masa mudaku dengan menyelesaikan pendidikan ku berlatih tentang bagaimana caranya mengambil bisnis Papaku untuk memulai bisnis perusahaan itu lagi. Aku akan mulai membawa para karyawan setia dari perusahaan kami. Setelah itu, saat The Viper mengetahui bahwa perusahaan itu kembali dibuka, mereka pasti akan mencari aku lagi. Jadi, aku akan membalas dendam setelah itu." Balas Daniel padaku.


"Itu terlalu berbahaya Daniel. Aku tidak bisa membuatmu melakukan hal itu. Mereka terlalu berkuasa. Apa kau bahkan menyadari hal itu? Mereka tidak kenal ampun. Mereka membunuh keluargamu. Ini semua tidak akan mudah. Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan di dalam api. Kau sudah memiliki kehidupanmu sendiri sekarang." Ucapku dengan khawatir.


"Jangan khawatirkan aku Kak. Aku harus melakukan hal ini. Kakak tidak perlu membicarakan tentang hal ini lagi. Aku sudah membuat keputusan." Ucap Daniel dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, aku akan mencari sebuah akademi itu untukmu. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun." Ucapku kepadanya.


"Bisakah Kakak memberi aku makan sekarang? Aku kelaparan." Ucapnya.


"Iya tentu saja." Balas ku.


Aku lalu menyajikan makanan diatas meja makan. Setelah itu kami berdua duduk berhadapan dan mulai menyantap makanan kami. Aku lebih fokus menatap Daniel yang begitu lahap saat menyantap makanannya daripada fokus untu menyantap makananku sendiri.


Aku tidak tahu bagaimana caraku agar bisa menghentikan keinginannya yang sudah begitu kuat untuk balas dendam. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2