Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Kecemasan Mark


__ADS_3

"Selamat ulang tahun bro. Ini ambil hadiah mu." Ucap Alden seraya memberikan kotak kado kepada Daniel.


"Oh ya Tuhan, hadiah..." Ucap Daniel begitu bahagia.


"Alden yang memilih hadiah itu untukmu Daniel. Bukalah." Ucapku.


Daniel langsung membuka hadiah yang merupakan pedang dan jam tangan itu. Sejujurnya aku begitu bingung tentang pilihan Alden atas hadiah itu.


'Kenapa anak berusia 15 tahun harus memiliki sebuah pedang sebagai hadiah? Bukankah itu terlalu dewasa? Bukankah itu terlalu berbahaya? Siapa yang memberikan senjata berbahaya untuk hadiah ulang tahun seseorang?'


Daniel bahkan mungkin saja bisa membunuh seseorang setelah dia melihat hadiahnya itu.


Alden akan aku hukum jika Daniel tidak menyukai hadiah itu.


Aku menggigit kukuku dengan perasaan gugup saat Daniel membuka hadiah pertamanya. Dia melihat jam itu dan dia tampak begitu senang dan juga begitu sumringah.


Dia kemudian menggunakannya dan dia berteriak, "Hore..." saat dia melihat jam itu.


Kemudian kali ini giliran dia akan membuka pedang itu.


Kilatan dari pedang itu membuat matanya tampak berbinar. Aku bisa melihat kebahagiaan di dalam matanya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia hanya terdiam menyentuh pedang itu selama 5 menit dan melihat ke arahku. Aku melihat ke arah matanya yang tampak berair.


"Aku akan membalas kematian orang tuaku dengan senjata ini Kak." Bisik nya ditelingaku agar Alden tidak bisa mendengarnya. "Kakak tidak tahu seberapa banyak aku mengharapkan benda seperti ini. Ini sangat berharga bagiku karena inilah yang aku butuhkan. Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua." Ucap Daniel.


Setelah itu dia lalu memeluk Alden dengan begitu hangat dan erat yang menunjukkan rasa terima kasihnya. Alden pun membalas pelukan Daniel.


Rasanya sangat menyenangkan melihat adegan itu di terjadi di hadapanku. Aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata. Semuanya terasa begitu menyenangkan dengan melihat mereka berpelukan. Mereka baru bertemu untuk pertama kalinya dan itu semua terasa seolah mereka sudah lama berpisah sebagai saudara yang baru saja bertemu lagi sekarang.


"Baiklah sekarang aku cemburu! Guys, aku juga ada di sini." Ucapku.


"Oh jadi kau mau aku memelukmu juga?" Tanya Alden dengan menyeringai.


"Diam lah. Aku bicara dengan Daniel bukan kau." Ucapku kesal.


"Aww.... Benar-benar pasangan yang menggemaskan." Ucap Daniel.


"APA??? Tentu saja tidak. Daniel aku hanya berbagi rumah dengannya. Kami bahkan bukanlah teman baik." Ucapku dengan cepat mencoba untuk menjelaskan pemikiran Daniel agar menjauh darinya.


"Oh sayang, kau tidak perlu berbohong di depannya. Dia itu sudah dewasa. Dia tidak akan menghakimi mu karena tinggal bersama dengan kekasihmu." Ucap Alden menggodaku dengan nada suaranya yang terdengar begitu meyakinkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Daniel yang tampak kebingungan sekarang.


"Daniel, jangan dengarkan dia. Dia hanya bercanda. Aku bersumpah bahwa tidak ada apa-apa diantara kami." Ucapku mencoba untuk menjelaskan kepada Daniel bahwa Alden hanya bicara omong kosong saja.


 


Pesta ulang tahun Daniel pun berjalan dengan sangat menyenangkan. Daniel terus saja mengatakan kepadaku agar aku bisa menikah dengan Alden yang membuat aku merasa begitu ngeri.


Aku dan Daniel memiliki waktu luang berduaan dengan menjauh dari kerumunan orang-orang, di mana kami bisa dengan leluasa mendiskusikan tentang perkembangan dirinya.


Daniel mengatakan kepadaku bahwa dia belajar banyak hal di tempat ini. Dia sudah mempelajari semuanya dan Om nya yang mengajari dia bagaimana caranya untuk menjalankan sebuah perusahaan yang akan mulai dia buka. Daniek mempelajari banyak hal tentang teknik bela diri.


Aku bisa melihat perubahan fisik dalam dirinya juga. Dia tampak lebih kuat dan lebih tinggi sekarang. Dia juga terlihat lebih pintar dan bijak dibandingkan dengan sebelumnya. Tidak akan ada orang yang bisa tahu dan menyangka bahwa dia adalah anak kecil gelandangan yang aku temukan waktu itu.


Aku benar-benar bangga kepadanya.


Beberapa saat kemudian, waktunya bagi kami untuk pulang ke rumah. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Daniel, di mana hal itu selalu merupakan hal yang paling sulit untuk aku lakukan.


Setelah berpamitan, kami pun pergi ke mobil Alden. Aku melihat ke arah ponselku yang secara tidak sengaja aku tinggalkan di dalam mobil. Ada 20 pesan masuk dan 4 panggilan tak terjawab dari Mark.

__ADS_1


'Pria ini!'


Aku lalu membuka kotak masuk dan membaca semua pesan dari Mark.


(Hai Sunshine Selamat pagi!)


(Aku memimpikan tentang dirimu.)


(Aku merindukan wajahmu yang cantik.) (Apakah kau masih tidur?)


(Aku benar-benar ingin melihatmu yang tidur sekarang. Kau pasti terlihat menggemaskan.)


(Aku minta maaf jika kau menyadari bahwa aku berlebihan.)


(Aku hanya tidak bisa menahan diriku.)


(Perasaanku kepadamu benar-benar semakin tumbuh setiap harinya.)


(Apa kau marah padaku?)


(Kenapa kau tidak membalasku?)


(Starla, apa kau sibuk?)


(Apakah aku mengganggumu?)


(Aku minta maaf Starla.)


(Kau bahkan tidak mengangkat telepon dariku.)


(Aku merindukanmu. Bicaralah denganku.)


(Aku tahu aku menjadi orang yang menyebalkan. Tapi aku merasa bahwa aku akan menjadi orang gila.)


(Starla, di mana kau sejujurnya sekarang? Aku khawatir.)


(Aku bersumpah jika kau tidak membalas aku dalam 20 menit, aku akan pergi ke rumahmu.)


(Starla, ini sudah 25 menit, aku khawatir. Apa kau baik-baik saja?)


(Baiklah aku akan pergi. Aku sudah di jalan sekarang.)


Sejujurnya apa yang dia lakukan itu sangat menggemaskan. Tapi aku tidak tahu kenapa, aku tidak merasakan apapun perasaan yang sama seperti yang dia rasakan padaku. Aku tidak mau membuat dia terluka. Dia adalah pria yang baik.


(Mark, aku berada di tempat adikku. Aku minta maaf, aku tidak memeriksa ponselku. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku minta maaf karena membuatmu khawatir.)


Aku mengetik pesan itu dan mengirimnya saat aku teralihkan oleh suara Alden.


"Apakah itu adalah cintamu yang kau kirimkan pesan saat ini?"


"Iya, temanku Mark. Dia khawatir karena aku tidak memeriksa ponselku." Balasku dengan tidak begitu memperhatikannya karena dia mulai lagi ikut campur dengan urusanku dan aku tidak mau memulai pertengkaran di antara kami.


"Iya, pelayan di rumah menelepon ku. Dia mengatakan kepadaku bahwa ada seseorang yang tengah mencari dirimu. Dia mengatakan kepada orang itu bahwa kita pergi ke rumah adikmu. Dia mengatakan bahwa orang itu pergi dengan wajah yang memerah seperti tomat dan menghentakkan kakinya di gerbang." Ucap Alden.


"Arrrgghh, dia marah tanpa alasan. Aku harus membujuknya sekarang." Ucapku mengatakan kepada diriku sendiri dengan keras.


"Tanpa alasan? Aku rasa tidak? Kita mempunyai chemistry dan dia tahu itu. Jadi dia cemburu." Ucap Alden.


"Tidak lucu Alden. Kita sama sekali tidak punya chemistry dan aku akan memintanya untuk mengerti bahwa kita tidak akan pernah menjadi sesuatu seperti itu." Ucapku.

__ADS_1


Aku melihat wajah Alden tampak sedikit murung dan dia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan dan tiba-tiba melihat seekor sapi yang melintas di jalanan tepat di hadapan kami.


Dia langsung mengayunkan sebelah lengannya untuk mendorong aku ke arah tempat duduk dan membuat dirinya menjadi sebuah sabuk yang kuat di sekeliling tubuhku, sementara dia mencoba untuk menyelamatkan sapi itu dan mobil. Tapi mobil malah menabrak ke arah sebuah pohon yang ada di dekat jalanan. Mobil pun berhenti dengan menghantam pohon itu. Aku duduk di sana tanpa luka, sementara Alden mengalami luka di lengan dan wajahnya.


"Alden apa kau baik-baik saja? Apakah ini sakit?" Ucapku dengan panik melihat darah yang keluar dari lengan Alden karena luka yang disebabkan oleh kaca mobil yang berserakan.


Sebenarnya itu tidak perlu aku tanyakan, tapi aku begitu khawatir akan kondisinya. Dia sudah menyelamatkan aku atau kecelakaan itu akan membuat aku terluka lebih parah. Tapi aku duduk di sana seolah tidak pernah terjadi apapun, sementara dia kehilangan darahnya.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir tentang aku." Ucapnya dengan sangat tenang.


Dia terlihat begitu tenang seolah lukanya tidak berpengaruh apapun terhadap dirinya sama sekali atau dia hanya tidak mau aku melihatnya merasa kesakitan?


Setelah itu, dia lalu berjalan ke arah depan mobil dan membuka kap mobil untuk melihat masalah dari mobil itu karena mobil tidak bisa hidup lagi.


Aku dengan cepat melihat ke arah ponselku dan mencoba memanggil ambulans, tapi di ponsel ku tidak ada jaringan. Aku lalu masuk ke dalam mobil Alden lagi untuk mengambil ponsel miliknya dan tetap saja tidak ada jaringan.


Arrrrgggghhh....


Aku benar-benar ingin berteriak sekarang.


"Mesin mobilnya mati. Mobilnya tidak akan bisa bergerak." Ucap Alden.


'SEMPURNA! WOW! TEPUK TANGAN UNTUK SEMUA ORANG!'


Situasi seperti apa ini? Alden kehilangan darah dan sekarang tidak ada sinyal di ponsel. Apakah itu semua belum cukup?


"Sial...." Teriakku dengan kesal.


"Jangan panik Starla, kita akan menemukan cara." Ucap Alden mencoba untuk membuatku tidak panik.


Tapi bagaimana mungkin aku tidak panik. Tidak ada apapun di sekitar 5 sampai 6 KM sepanjang jalan atau di antara tempat di mana kami berdiri sekarang. Jalanan ini memang benar-benar sepi. Jalanan ini tidak banyak digunakan oleh banyak orang dan sekarang hari sudah mulai gelap. Jadi tentu saja kami berada dalam situasi yang cukup ekstrim. Ini bukan lah waktunya untuk bertingkah konyol. Aku lalu pergi mendekat ke arah Alden.


"Alden kemari lah, duduk di mobil. Tidak ada gunanya berdiri di sini." Ucapku dan memegang tangannya lalu kami duduk di kursi belakang mobil.


Aku lalu mulai membersihkan pecahan kaca yang masih ada di lukanya. Untung saja tidak ada pecahan kaca yang masuk ke dalam tubuhnya. Aku lalu merobek pakaian yang aku gunakan dan mengikat di sekitar luka Alden dan dia duduk di sana seolah semua itu tidak terjadi apapun kepadanya. Semuanya terlihat normal saja baginya.


Dia seharusnya tidak perlu terlihat begitu kuat atau dia memang sudah terbiasa akan hal seperti ini?


Waktu itu ada peluru di lengannya dan sekarang hal ini terjadi. Tapi semuanya terlihat sama sekali tidak mengganggunya. Dia bahkan tidak berkedip saat aku menekan sobekan pakaian yang aku gunakan sebagai perban itu di lukanya.


"Aku minta maaf jika ini sakit. Tapi kita harus melakukannya untuk menghentikan pendarahan." Ucapku.


"Aku tahu, tidak apa-apa. Itu tidak sakit." Balasnya tampak santai.


Aku bersyukur karena aku membawa sebotol air minum setelah pesta ulang tahun Daniel tadi. Aku lalu memberikan air itu untuk dia minum dan memintanya untuk tidur.


Dia terlihat begitu kelelahan dan aku merasa begitu bersalah. Ini semua bahkan bukan tugasnya untuk mengantar aku pergi ke tempat Daniel dan dia tetap melakukannya tanpa komplain apapun kepadaku.


"Aku akan tidur setelah kau tidur lebih dulu." Ucapnya.


"Aku akan tidur, aku baik-baik saja. Saat ini kau yang terluka, jadi kau harus beristirahat." Ucapku.


"Tidak, aku harus terus terjaga untuk melihat apakah ada bahaya, jadi aku tidak boleh tidur." Ucap Alden dengan tegas.


"Alden, berhentilah berdebat." Ucapku.


Setelah itu aku pun aku mendorong dia dengan perlahan untuk membantunya agar mau berbaring.


"Kau benar-benar seperti seorang bos." Ucap Alden.

__ADS_1


"Kau kelelahan dan lemah. Jadi berhentilah menghabiskan tenaga mu dan lakukan apa yang aku katakan. Sangat penting untukmu agar tetap merasa hangat dan kau harus menyimpan tenaga mu." Ucapku.


Bersambung....


__ADS_2