
Setelah itu, para anak laki-laki dan anak perempuan berlari mendekat dan juga melihat ke arahku dengan tatapan penasaran.
"Tapi kau bilang bahwa kau tidak punya sebuah keluarga." Ucap seorang gadis kecil dengan suara yang pelan.
"Ini adalah Kak Starla. Aku bertemu dengannya kemarin. Dia menemukan aku berada di jalanan dan membantu aku. Dia memberikan aku banyak makanan yang lezat dan membiarkan aku tinggal bersamanya." Ucap Daniel.
"Di mana kalian bertemu?" Tanyaku kepada semua anak-anak itu.
"Kami bertemu di Panti Asuhan, kemudian Daniel lari dari sana karena dia dianiaya. Mereka bahkan tidak mencari keberadaan Daniel. Daniel tidak memiliki tempat kemanapun untuk bisa pergi. Jadi dia tinggal di jalanan sendiri." Ucap seorang gadis kecil bernama Tia kepadaku.
Aku melihat ke arah Daniel yang tampak menatap ke arah bawah. Mungkin dia mengingat beberapa kenangan buruk yang terjadi kepadanya.
Aku tidak mau mendorong dia lebih jauh untuk menceritakan semuanya. Jadi aku menawarkan para anak-anak itu untuk memberikan makan siang untuk mereka.
"Baiklah, tapi kita harus kembali jam 05.00 sore nanti." Ucap seorang anak bernama Jack.
Kami pun lalu pergi untuk makan bersama.
Jadi di sinilah aku sekarang. Berada di sebuah jalanan yang ada di kota L. Sebuah kota yang aku tidak ketahui bersama dengan 7 orang anak-anak yang berusia sekitar 10 sampai 15 tahun. Aku membawa mereka untuk menonton sebuah film animasi dan pergi makan. Daniel tampak begitu bahagia melihat teman-temannya dan semua teman-temannya juga tampak menyukai Daniel. Tapi saat aku bertanya apakah Daniel mau tinggal bersama mereka, dia pun tidak setuju.
Setelah kami selesai berjalan-jalan, aku lantas mengantar anak-anak itu kembali ke tempat awal kami bertemu dan aku membuat mereka berjanji bahwa aku akan bertemu dengan mereka lagi.
Aku dan Daniel sekarang berjalan ke arah beberapa rumah kosong yang tengah dijual dan membicarakan tentang harganya. Daniel tampak terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian dia mulai bicara. Dia mungkin menyadari bahwa dia perlu membicarakan masalah yang dia miliki dan ingin dia bagikan kepadaku di masa kelam dalam hidupnya itu. Dia sepertinya mempercayai aku dan memperlakukan aku seperti kakaknya sendiri.
"Kakak." Ucap Daniel.
"Hmmm..." Balasku melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Berjanjilah kepadaku bahwa kakak tidak akan pernah meninggalkan aku sama seperti yang orang lain lakukan di dalam hidupku." Ucap Daniel.
Mataku dipenuhi dengan air mata saat aku melihat kesedihan di mata Daniel.
"Aku berjanji." Balas ku.
Daniel lalu mengambil nafas dalam dan dia pun menghela nafasnya itu dan mulai bicara.
"Aku hidup bahagia di kota ini tinggal bersama Mama dan Papa. Papa adalah seorang pebisnis handal dan Mama adalah CEO nya. Perusahaan mereka begitu terkenal dan mereka berdua dikenal banyak orang. Aku berusia 6 tahun saat itu.
Suatu hari aku bermain di rumahku dan Mama tengah memasak makan malam untuk kami dan tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak dengan sangat keras. Mama langsung memintaku untuk masuk ke dalam kamar. Aku begitu takut tapi tidak mau meninggalkan Mama sendirian. Mama mendorong ku dan memintaku untuk segera pergi, jadi aku harus mengikuti permintaan Mama.
Aku masuk ke dalam kamar dan aku melihat Mama yang tampak ketakutan. Siapa yang tidak akan ketakutan jika seseorang di luar sana entah dari mana datangnya tiba-tiba mendobrak pintu seolah mereka ingin merusaknya. Mama dengan cepat pergi ke arah pintu saat pintu terdengar di dobrak dengan sangat keras. Aku sampai kencing di celana di kamarku dan melihat dua orang pria berbahaya dengan pakaian hitam dengan logo ular di dada mereka.
Kamarku berada jauh dari pintu depan, jadi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi aku mendengar mereka berteriak pada Mama dan Mama mencoba untuk menjelaskan kepada mereka seolah Mama tidak melakukan apapun. Mereka terlihat tidak setuju dengan ucapan Mama.
Aku bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya. Kenapa mereka ada di rumah dan berbicara dengan Mama seperti itu? Apakah mereka adalah seseorang dari perusahaan? Apa yang tengah mereka perdebatkan?
Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku.
Setelah itu mereka pun kembali dan menutup pintu seraya mengatakan, 'jangan mengganggu aku jika kau tidak punya bukti apapun.'
Aku lalu berlari ke arah Mama setelah mereka pergi dan memeluk Mama dengan sangat erat.
Mama menggendong aku dan tertawa mencoba untuk menyembunyikan semua perasaannya dariku. Mama seolah tidak mau membuat aku khawatir. Tapi aku tetap bertanya kepada Mama.
'Kenapa mereka mengganggu kita Ma?'
__ADS_1
'Tidak sayang, tidak ada siapapun yang mengganggu kau dan Mama, Papa. Mama akan selalu ada untukmu. Mama akan selalu melindungi mu.' Balas Mama.
Tapi kenyataannya Mama berbohong." Ucap Daniel dengan lembut.
Wajahnya menunjukkan ada begitu banyak perasaan yang membuat hatiku merasa terluka. Ada kekecewaan, ketakutan, ketidakpercayaan, kemarahan, semuanya tercampur dalam suaranya itu.
Pada saat ini mata Daniel dipenuhi dengan air matanya. Aku lantas langsung memeluknya. Dia sudah begitu terbuka kepadaku dengan mengizinkan aku untuk masuk ke dalam bagian kehidupannya yang cukup kelam.
'Apakah dengan menceritakan itu semua membuatnya merasa tidak nyaman?' tanyaku dalam hati.
Jadi aku pun kembali bicara kepadanya.
"Jika kau tidak merasa nyaman untuk membicarakan hal ini, kau bisa berhenti saja sayang." Ucapku.
"Tidak apa-apa Kak, aku akan merasa lebih baik untuk menceritakan semua ini bersamamu." Balasnya padaku.
Setelah itu aku lalu membawanya pergi ke sebuah kedai es krim di mana jaraknya tidak terlalu jauh di mana kami tengah berada saat ini.
Kedai es krim itu hampir kosong, hanya ada dua sampai tiga orang yang duduk dan mengobrol di sana. Aku membelikan es krim untuk Daniel. Aku membelikan es krim favoritnya yaitu coklat chip mint.
Dia terlihat bahagia dengan melihat aku membawa es krim itu. Dia tampak seperti seorang bayi yang melihat mainannya. Setelah itu dia memakan es krimnya itu dan terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu.
Aku sebenarnya ingin tahu lebih jauh tentang dirinya. Aku mau mengetahui apa yang ada di dalam isi kepalanya saat ini.
'Apakah dia tengah memikirkan tentang masa lalunya?' pikirku.
Bersambung...
__ADS_1