
Aku pun pergi ke ruangan pertemuan itu dan tak menyangka akan melihat trauma terbesar dalam hidupku.
Aku merasa dunia berkeliling di kepalaku.
Aku berdiri di sana sampai aku merasa kehilangan kesadaran ku. aku merasa seolah aku tidak bisa bernafas.
'MAMA... PAPA...' teriakku.
Mereka tampak berbaring di lantai dengan tidak sadarkan diri. Orang-orang di sekelilingku mencoba untuk memberhentikan aku. Tapi aku ingin melihat mereka berdua.
Aku tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat. Dunia terasa seolah berhenti. Aku merasa tangan seseorang memegang ku, mencoba untuk menarik ku menjauh dari ruangan itu.
Kenapa mereka tidak bisa mengerti?
Aku mau membangunkan Mama dan Papa.
Kenapa mereka tidak membawa Mama dan Papa ke rumah sakit?
Aku mencoba untuk melepaskan diriku dari tangan mereka.
Itulah saat aku melihat darah. Ada banyak darah yang berada di tubuh Mama dan Papa.
Aku merasa seseorang menarik jantungku keluar dari tubuhku. Tubuhku terasa begitu berat dan aku tidak bisa melangkah. Aku terjatuh di lantai dengan lutut ku.
Aku menangis. Ini semua tidak mungkin nyata. Ini semua pasti hanyalah mimpi buruk ku. Aku harus bangun pikirku. Aku lantas mencubit diriku sendiri, menampar pipiku dengan sangat keras. Tapi mimpi buruk ini tidak pergi. Aku tidak ada di tempat tidur dan tengah bermimpi seperti yang aku pikirkan.
Tapi ini semua adalah nyata.
Orang tuaku sudah pergi meninggalkan aku. Mereka benar-benar pergi. Mereka sudah meninggal.
Aku merasa tidak sadarkan diri. Aku mendengar suara Nana berteriak.
__ADS_1
Aku merasa seseorang mengangkat tubuhku, tapi aku tidak bisa bergerak.
Aku mau pergi bersama kedua orang tuaku. Aku mau tetap bersama mereka.
Kenapa mereka meninggalkan aku sendirian?
Aku menutup mataku mempercayai bahwa mataku tidak akan pernah terbuka lagi. Berharap bahwa sekarang adalah waktunya bagiku juga ikut dengan Mama dan Papa. Bahkan jika mataku terbuka lagi, aku berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi buruk bagiku.
Mimpi buruk yang aku tidak mau mengalaminya lagi.
Aku lalu terbangun mendapati diriku sendiri berada di ruangan yang tidak familiar ternyata aku berada di tempat tidur rumah sakit.
'Tuan Dan, apa kau baik-baik saja?'
Aku mendengar suara Nana dengan nada yang terdengar begitu khawatir. Aku melihat ke arah wajahnya. Aku merasa aku tidak bisa bicara, tapi aku mengumpulkan semua kekuatanku untuk menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak berani aku pikirkan. Aku hanya ingin mendengar semua itu, tapi aku juga tidak yakin ingin mengetahuinya.
'Nana, Mama dan Papa...'
Bagaimana aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya dengan rasa sakit yang begitu banyak di hatiku yang tidak bisa aku jelaskan.
'Beberapa orang pria datang untuk bertemu mereka hari ini pukul 12.00 siang Tuan.' ucap Nana mulai bicara.
'Tuan John terlihat mengenal mereka. Tuan John membawa mereka ke ruang pertemuan dan Nyonya meminta aku untuk menyiapkan teh untuk 5 orang. Setelah itu, Nyonya memintaku untuk pergi dan membeli sesuatu dari supermarket.
Saat aku kembali, aku melihat mereka seperti itu dan para pria itu sudah pergi. Aku tidak melihat mereka Tuan.' ucap Nana dan mulai menangis bahkan dengan suara tangisan yang lebih keras lagi.
Aku tahu siapa mereka, tapi aku harus yakin bahwa aku harus menemukan siapa yang melakukan semua ini.
Saat aku keluar dari rumah sakit, aku kembali ke rumah untuk mencari petunjuk atau informasi apapun yang bisa menuntun aku kepada para pria itu. Aku melihat ke semua tempat di kamar orang tuaku, di ruang kerja, di kamarku, bahkan di setiap sudut rumah. Aku akhirnya menemukan diary Mama yang tersembunyi di kotak mainan dan barang-barang yang tidak aku gunakan lagi. Tapi ada banyak memori yang tersimpan di dalamnya.
Mungkin Mama tahu aku akan mencari barang-barang itu untuk kenang-kenangan nantinya. Jadi Mama menyimpannya di sana. Aku membuka diary itu dan menemukan sebuah surat. Aku pun membuka surat itu dengan cepat dan langsung membacanya.
__ADS_1
(Daniel Sayang jika kau membaca surat ini, kami mungkin sudah tidak ada bersamamu lagi dan kami minta maaf untuk meninggalkanmu seperti ini. Tapi jangan khawatir Nak. Apa yang pergi saat ini hanyalah tubuh yang tidak abadi. Tubuh ini hanyalah sebuah gelas kaca dan ini semua sudah rusak, tidak peduli apapun yang terjadi. Tapi jiwanya tetap abadi.
Kami akan selalu berada bersamamu di hatimu, di dalam kenangan mu. Kapanpun kau menutup matamu dan memikirkan kami, kami akan ada bersamamu.
Nak, kami memiliki tugas penting untukmu. Mama tahu keadaan yang akan kau alami akan jauh lebih buruk bagimu nantinya. Tapi kau harus berani sayang.
Ada banyak orang jahat di dunia ini. Lindungi lah dirimu sendiri.
Ini ada beberapa daftar kontak orang-orang dan alamat orang-orang yang akan kau butuhkan dalam hidupmu. Kau tidak sendirian dan kami mencintaimu. Tetaplah kuat Nak.
Mama dan Papa yang selalu mencintaimu.)
Air mataku turun ke pipiku. Ternyata mereka tidak meninggalkan aku sendirian. Mereka melindungi aku, mereka merencanakan dan menyiapkan semuanya untukku. Dan aku bahkan tidak bisa berterima kasih kepada mereka.
Tapi aku akan membalaskan dendam untuk mereka.
Aku mau tahu kebenarannya, tidak peduli apapun yang terjadi. Aku pun memanggil manager, Nana dan semua orang yang dekat dengan Mama dan Papa untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Mereka begitu menghormati orang tuaku, jadi mereka pasti mau mendengarkan aku.
Mereka pun datang dan aku langsung bertanya kepada mereka jika mereka mengetahui tentang orang tuaku yang mungkin saja berhubungan dengan kematian mereka.
Nana tidak melihat mereka sama sekali. Jadi dia tidak tahu apapun. Manajer juga tidak tahu apapun. Para karyawan kepercayaan orang tuaku juga tidak tahu apapun.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan. Tidak ada yang mengetahui apapun tentang para pria dengan pakaian berlogo ular itu. Tidak ada orang yang tahu dengan siapa orang tuaku bertemu hari ini. Aku benar-benar kecewa.
Aku tidak merasa bahwa tidak ada seorangpun, yang berarti tidak ada apa-apa. Hanya saja putus asa dan aku duduk sendirian. Aku hampir merasa kehilangan harapan. Bodyguard Papa ku datang, namanya adalah Simon.
Kami tidak bicara banyak karena dia begitu profesional dan selalu berada di dekat Papa. Dia pernah datang untuk menjemput ku dari sekolah sekali atau dua kali saat Papa dan Mama tidak bisa menjemput ku.
Saat aku melihat dia, aku tidak memiliki pikiran apapun tapi hanya kemarahan yang langsung menghampiri diriku.
Bersambung....
__ADS_1