
"Om, Oma, perkenalkan dia Starla. Dia memungutku dari jalanan saat aku masih menjadi gelandangan dengan banyak luka di tubuhku. Dia menjagaku seperti adiknya sendiri dengan memberikan aku sebuah hidup baru. Aku bisa hidup karena dirinya." Ucap Daniel.
"Terima kasih Nak. Aku bahkan tidak bisa berterima kasih lebih dari ini. Kau sudah membawa kembali anakku kepada kami." Ucap Om dari Daniel itu.
"Aku hanya melakukan apa yang orang lain lakukan Pak. Dia adalah adikku, dia ada untukku di tempat yang tidak aku kenal ini bagiku. Dengan kata lain dia juga membantuku." Balas ku.
"Om, aku sudah tahu orang tuaku di pilih untuk menjadi mata-mata. Tapi kalianlah petarungnya, kalian petarung terhebat. Aku mau Om mengajari aku. The Red Dragon adalah satu-satunya geng yang bisa melawan The Black Viper. Aku ingin membunuh mereka semua." Ucap Daniel.
"Itu semua tidak semudah yang kau bayangkan Nak. Bagaimanapun aku pasti sudah melakukan hal itu sejak lama. Tapi mereka sudah berkembang lebih kuat setelah The Red Dragon dimusnahkan. Jadi hampir tidak mungkin untuk bisa melawan mereka dan aku sudah menjadi tua. Sekarang aku tidak bisa melawan mereka." Ucap Om dari Daniel itu.
"Ajari aku untuk bertarung Om, latih aku. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku harus melakukan ini. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak bisa duduk diam begitu saja hanya karena mereka kuat. Aku harus menjadi lebih kuat dibandingkan mereka. Jadi tolong ajari aku pertarungan terbaik di dunia ini." Ucap Daniel.
"Baiklah Nak, akan ada kerja keras yang harus kita lewati. Tapi keinginan dan kegigihan mu mengatakan kepadaku bahwa kau pasti akan sukses. Kau akan menjadi leader dari geng The Red Dragon. Sekarang ayo kita atur semuanya lebih dulu. Akan ada perayaan karena kau sudah kembali. Aku sudah memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan semuanya. Starla tinggallah di sini dan rayakan bersama kami dan kau bisa kembali setelah makan malam. Apakah kau bisa Nak?" Tanya Om dari Daniel itu.
"Iya tentu saja akan menyenangkan. Aku akan tunggal sampai acaranya selesai." Ucapku.
Dan kemudian hari ini berjalan dengan sangat menyenangkan, ada banyak makanan lezat, dengan kami terus menari dan perayaan yang pantas didapatkan oleh Daniel.
Aku lalu mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada Daniel dan memeluknya dengan air mata di kedua mata kami. Aku berjanji kepadanya bahwa aku akan kembali datang untuk menemuinya secepatnya dan setelah itu aku pun kembali ke rumah.
'Ah, kelihatannya begitu sunyi dan kesepian di sini tanpa Daniel.' ucapku dalam hati.
Rumah ini begitu besar dan aku sendirian. Aku merindukan dia yang sering berlari di sekeliling rumah ini dan terus saja mengoceh sepanjang waktu.
...----------------...
Beberapa hari berikutnya berjalan dengan normal. Aku mulai berteman dengan beberapa orang staf di rumah sakit. Mark selalu sibuk dan dia begitu populer dikalangan semua orang terutama para wanita yang bekerja di rumah sakit. Semua wanita di rumah sakit tidak akan pernah berhenti membicarakan tentang dia, tapi dia selalu menyapaku dengan senyuman manis di bibirnya.
__ADS_1
Aku mulai menikmati berada di tempat ini.
Suatu hari aku kembali ke rumahku yang indah dan merasa kesepian dari hari yang sibuk di rumah sakit dan pergi ke dapur seperti biasanya untuk memasak makan malam untuk diriku sendiri. Aku memutar musik dengan volume yang sangat kencang dan bernyanyi dengan keras seraya menari sambil memotong sayur.
Tiba-tiba aku terkejut dan langsung berteriak dengan begitu keras saat aku melihat sosok seorang pria yang berdiri di lantai atas melihat ke arahku dan mengatakan kepadaku untuk mengecilkan volume lagu yang tengah aku putar.
"Aku baru saja kembali dari Iran dan aku sangat kelelahan. Jadi tolong kecilkan volumenya. Hari ini aku harus tidur." Ucap pria itu.
"Si.... Siapa kau sebenarnya Pak, dan apa yang kau lakukan di rumahku? Keluarlah dengan cepat atau aku akan menelpon polisi." Teriakku padanya.
Aku begitu ketakutan, tapi aku mencoba untuk percaya diri dan tidak menunjukkan kepadanya bahwa aku begitu ketakutan. Sebenarnya aku hampir saja pingsan karena rasa panik yang muncul di dalam diriku.
"Hei Beb, apa yang kau bicarakan? Aku tinggal di sini." Ucap pria itu.
"Kau...? APA??" Ucapku dengan tidak percaya mendengar panggilan yang dia ucapkan padaku.
Dia mulai berjalan turun. Dengan setiap langkah yang dia ambil, aku menjadi semakin lebih dekat ingin pingsan. Aku bahkan mungkin saja akan tipis di celana. Dia bisa saja adalah seorang penguntit yang gila.
'Apa yang harus aku lakukan?' tanyaku dalam hati.
"Hei, berhentilah panik. Aku tidak sejahat itu. Aku tidak bohong, percaya kepadaku. Kumohon buka matamu." Ucap pria itu.
Aku menyadari bahwa aku tengah menutup mataku dengan begitu erat seolah dia akan membunuhku dan aku tidak mau melihatnya secara langsung. Aku lalu membuka mataku untuk melihat pemandangan yang membuat nafasku terasa tercekat.
'Oh ya Tuhan, dia begitu tidak nyata.'
Pria yang berdiri di hadapanku ini sepertinya usianya sama denganku. Secara fisik dia begitu sempurna. Dia memiliki mata yang indah. Dia bahkan 10 kali lebih tampan dan seksi dibandingkan dengan Mark, mungkin bahkan lebih dari 10.
__ADS_1
'Siapa sebenarnya yang tengah aku lihat ini?'
Ciptaan Tuhan yang berdiri di hadapanku ini sepertinya hanya satu-satunya yang ada di populasi di dunia ini dan tidak ada orang lain yang bisa setampan dirinya. Aku ulangi lagi, tidak ada satupun.
"Tutuplah mulutmu Beb, air liur mu terjatuh ke lantai." Ucapnya yang akhirnya membuat aku tersadar.
Aku merasa begitu malu.
'Apakah aku terlihat begitu jelas tengah mengaguminya?'
Itu bukan salahku sebenarnya, karena dia begitu panas dibandingkan dengan matahari. Aku mencoba untuk mengembalikan kesadaran ku sendiri dan mencoba untuk bicara dengan rasional kepadanya. Tapi apa yang aku katakan hanya menggerutu saja. Kata-kata sepertinya menghilang dari kamus di kepalaku.
'Starla, hentikan. Bicaralah padanya secara dewasa. Apa yang tengah kau lakukan sekarang?' ucapku dalam hati.
"Kau wanita yang menggemaskan Beb." Ucapnya tertawa.
'Sial! Ini bukan waktunya bagiku untuk mengagumi dirinya.'
"Aku ini bukan Beb mu Tuan, jadi berhentilah bicara omong kosong dan keluarlah dari dalam rumahku." Ucapku lagi.
"Aku Alden Smith. Jasmine pasti sudah memberitahukan kepadamu tentangku. Aku adalah orang yang tinggal bersamamu di rumah ini. Jadi kita akan tinggal bersama." Ucapnya.
"Tunggu dulu, apa?" Ucapku dengan begitu terkejut.
"Jasmine? Siapa dia?" Tanyaku lagi dengan semakin bingung.
Bersambung....
__ADS_1