Perjalanan Cinta Starla

Perjalanan Cinta Starla
Jangan Hentikan Aku


__ADS_3

Setelah menghabiskan banyak waktu yang begitu lama dan sulit, aku akhirnya berhasil untuk meyakinkan Mark bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Alden.


Mark akhirnya mengantar aku pulang ke rumah, dia mengatakan bahwa dia akan mengantarku dan juga menjemput ku setiap hari dan dia tidak mau mendengarkan apapun dariku selain setuju.


Beberapa saat kemudian saat aku masuk ke dalam rumah aroma makanan yang lezat tercium di hidungku.


"Tia.... Aku mencintaimu...." Teriakku saat aku masuk ke dalam rumah.


Aku lantas berlari langsung ke arah dapur dengan lenganku yang terbuka bersiap untuk memeluk pelayan di rumah itu.


Aku mendadak terdiam saat aku malah melihat Alden tidak mengenakan apapun kecuali celananya yang tengah memasak.


"Dia tidak ada di sini hari ini, tapi karena kau sudah mengucapkannya jadi aku juga mencintaimu Starla! Aku bisa memelukmu berpura-pura menjadi dirinya." Ucap Alden.


Dan semua yang aku pandangi hanyalah tubuhnya yang begitu sempurna, dadanya, otot perutnya sangat sempurna.


'Oh Ya Tuhan, apakah aku tinggal dengan seorang model?'


Jika dia berpikir akan terus melakukan hal seperti ini setiap hari, aku rasa Aku tidak akan bisa mengontrol diriku lagi.


'Stop Alden, sebelum aku melompat ke arahmu.... Dasar pikiran liar. Menjauhlah, dia adalah Alden. Berhentilah memikirkan tentang hal yang tidak masuk akal seperti itu' Ucapku dalam hati.


Aku tiba-tiba tersadar saat Alden memberikan sebuah sapu tangan kepadaku.


"Ini untuk apa?" Tanyaku kepada Alden karena bingung.


Aku juga sejak tadi melamun karena terus menatap dirinya.


"Untuk mengusap air liur mu yang terjatuh dari mulutmu Beb." Ucap Alden.


Aku dengan cepat mengusap sudut mulutku, berpikir mungkin saja apa yang dia katakan Alden itu benar. Tapi, apa yang aku lakukan ternyata hanya membuat Alden tertawa terbahak.


"Kau kadang-kadang sangat menggemaskan kucing liar." Ucap Alden.


Aku pun merona.


"Kau yang memasak. Aku pikir kau tadinya adalah pelayan di rumah ini. Masakan mu aromanya sangat lezat. Aku benar-benar menelan ludah bahkan sebelum bisa melihat masakan mu itu. Jadi aku berpikir aku sebenarnya memang mengeluarkan air liur dari mulutku." Ucapku mencoba untuk mencari alasan.


Aku pun tidak tahu kenapa, hanya saja aku tidak mau dia tahu bahwa aku mengagumi tubuhnya itu.

__ADS_1


"Aku harap rasanya lezat. Sekarang duduklah, kau pasti kelelahan dan lapar" Ucap Alden.


'Bukankah dia begitu perhatian dan juga terkadang-kadang manis?'


Alden menyajikan makanan yang berbeda dan terlihat begitu lezat.


'Apakah semua ini memang dimasak olehnya?'


Dia ternyata bisa memasak sehebat ini. Aku tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat dengan mataku saat ini.


Aku pun lalu mulai mencicipi makanan itu dan aku seolah merasa terbang ke angkasa. Aku tidak pernah sama sekali merasakan makanan selezat makanan yang ada di hadapanku saat ini. Aku bersumpah tidak ada restoran bintang 5 yang memiliki makanan terlezat yang dia masak saat ini.


"Alden sekarang aku bisa meninggal dalam damai dan aku berterima kasih kepadamu. Aku bisa mengatakan bahwa ini adalah makanan terlezat di dunia. Kau memiliki keajaiban di tanganmu dan aku merasa malu karena sudah menyajikan makanan yang tidak lezat untukmu selama ini dan kau bahkan tidak pernah komplain apapun padaku." Ucapku kepada Alden.


"Baiklah, terima kasih. Tapi aku lebih suka makanan yang dimasak olehmu. Dan aku akan memasak untukmu sepanjang hidupku dengan senang hati." Ucap Alden.


'Sepanjang hidupnya? Oh apakah hanya aku atau pria keren di depanku ini mungkin mengindikasikan sesuatu?'


Aku dan Alden memang perlahan mulai memiliki hubungan pertemanan. Akhirnya!!!


"Ngomong-ngomong, apakah pria tulang lunak itu mengantarmu kemari?" Ucap Alden.


"Kenapa kau selalu berakhir dengan membuat kepalaku terasa sakit Alden. Berhentilah memanggil dia dengan sebutan seperti itu. Namanya Mark. Demi Tuhan, dan dia itu orang yang sangat baik." Ucapku.


"Tentu saja dia penting bagiku. Dia selalu bersamaku, mendukung ku, menjagaku sebelum kau atau orang lainnya. Dia tidak pernah meninggalkan sisiku, tidak bahkan sedetikpun sejak hari pertama aku ada di kota ini dan aku tidak melakukan apapun untuknya. Jadi berhentilah bersikap kejam kepadanya karena dia sangat berarti untukku." Ujar ku.


Alden lalu terdiam setelah mendengar ucapanku. Dia tampak melihat ke arah lantai dengan lengannya yang ada di dalam saku celananya. Kemudian dia tiba-tiba dengan cepat mendekat ke arahku dan langsung mendorongku ke arah tembok. Bibir kami hanya berjarak Beberapa inci saja.


Aku lantas menutup mataku dengan cepat. Aku terlalu takut untuk melihat ke arah maTanya. Aku bahkan bisa merasakan nafasnya dan detak jantungnya yang begitu cepat dan begitu juga dengan jantungku. Aku lalu membuka mataku dan melihat Alden yang menatap langsung ke mataku.


"Alden A... Apa yang kau...."


"Tolong jangan hentikan aku hari ini." Bisik nya dan dia langsung mendekatkan bibirnya ke bibirku.


Dia lalu menciumku dengan begitu penuh hasrat yang membuat seolah jiwaku langsung meninggalkan tubuhku. Kepalaku terasa berhenti bekerja. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi entah kenapa aku tidak bisa menghentikan semua yang terjadi. Aku tidak mau di menghentikan dirinya dan aku malah membalas ciumannya itu.


 


Udara begitu menghangat kami benar-benar larut dalam ciuman itu. Aku merasa aneh karena menyukai ciuman kami. Semua yang aku tahu bahwa aku tidak ingin semua itu berhenti. tatapi kemudian ponselku berdering dan itu merusak semua momen kami berdua. Aku lantas memindahkan tanganku ke arah saku celanaku dan mengeluarkan ponselku.

__ADS_1


Alden tidak siap untuk melepaskan aku dari pelukannya, kedua lengannya masih memelukku dengan erat. Aku sendiri tidak mencoba untuk melepaskan diriku dari pelukannya. Aku melihat ke arah layar ponsel dan melihat ternyata Mama ku yang tengah menelpon ku.


Mama menelpon ku hampir setiap hari jadi itu sudah normal. Aku pun lalu menjawab panggilan Mama.


"Halo Ma!" Ucapku.


"Kau terdengar kehabisan nafas sayang. Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Mama kepadaku.


"Oh iya Ma, aku baru saja membersihkan kamarku dengan mengangkat beberapa kotak. Jadi aku kelelahan, tapi aku sangat baik-baik saja." Balas ku.


"Baiklah Mama punya berita baik, coba tebak apa itu?" Ucap Mama.


"Apa itu? Apa Mama akan mengirimkan hadiah untukku?" Tanyaku kepada Mama.


"Tidak!" Balas Mama singkat.


"Apakah Papa dapat promosi? Atau adikku yang menjadi nomor satu di sekolahnya? Itu bisa saja apapun Ma, jangan membuat aku malah semakin penasaran. Katakan saja kepadaku." Ucapku memohon kepada Mama karena tidak mau menahan rasa penasaranku lebih lama.


"Mama akan datang untuk menemui mu." Ucap Mama terdengar begitu gembira dan wajahku langsung kehilangan warnanya karena pucat.


'SIAL!'


Aku benar-benar terdiam.


"Apa yang terjadi?" Bisik Alden di telingaku.


"Sayang, apa kau di sana?" Ucap Mama dari seberang telepon.


"Iya... Iya Ma. Aku sangat bahagia. Kapan Mama datang?" Tanyaku dengan gugup.


"Besok pagi sayang." Ucap Mama padaku.


'Aku benar-benar akan mati sekarang. Arrggghh...'


"Baiklah, keren." Ucapku tertawa dengan gugup.


"Baiklah, sampai bertemu sayang." Ucap Mama lalu memutuskan sambungan telepon.


Aku hampir saja menjatuhkan ponselku saat Alden menaruh tangannya di pundak ku.

__ADS_1


"Ada masalah apa? Katakan saja kepadaku, aku khawatir." Ucap Alden.


Bersambung....


__ADS_2