PERMAISURI SANG KAISAR

PERMAISURI SANG KAISAR
Yura keluar kerajaan


__ADS_3

ZDARRRR...


ZDARRRR...


DRERTTTTT...


DRERTTTTT...


kekuatan yang begitu dahsyat, dua kekuatan yang saling beradu, peperangan dari dewa matahari dan siluman rubah merah.


"Walaupun kau seorang Dewa, Aku akan membunuhmu!!" teriak siluman rubah merah.


"Aaa!!!" suara teriakan dewa Air.


DRERTTTTT...


ZDARRRR...


suara peperangan yang timbul dari dua kekuatan yang sama-sama hebat. dewa matahari terus menyerang siluman rubah merah agar dirinya mampu untuk bertahan dari semua serangan siluman rubah merah yang telah membuat dirinya semakin tertekan.


"Ternyata siluman ini mempunyai kekuatan yang sangat hebat, jika aku tidak segera membawa elios pergi dari sini bisa-bisa kekuatan dari siluman ini akan membunuhku dan Putraku." ucap dewa matahari yang kemudian menggunakan kekuatan gelap untuk mengelabuhi siluman rubah merah. terlihat dewa matahari menjentikkan jarinya, hingga membuat siluman rubah merah seketika seperti terhipnotis dan tidak bisa melihat orang itu.


Dewa matahari telah membawa elios pergi dari tempat itu, dia akan segera membawa putranya agar tidak bisa diserang oleh siluman rubah merah. di salah satu tempat di alam para siluman peperangan terjadi. sama dengan halnya di tempat Yura,


Saat ini Yura melihat wanita Yura, wanita itu menatap siluman rubah putih yang sedang berlatih dengan suaminya.


"Oh ya, dayang. Apakah kau tahu mengenai para siluman itu?" tanya Yura kepada dayang Lin.


"Yang Saya dengar kalau yang mulia Kaisar berteman dengan beberapa siluman hebat, Nyonya." jawab yang Lin.

__ADS_1


"Benarkah? lalu sahabat seperti apakah para siluman itu?" tanya Yura yang terlihat begitu penasaran dengan jawaban dari dayang Lin.


"Saya kurang tahu, Nyonya. Tapi kelihatannya yang mulia permaisuri harus bertanya kepada ada Yang mulia Kaisar, karena saya tidak begitu paham dengan dunia Para siluman. kalau yang saya tahu sih mereka sering kesini dengan merubah wujud mereka menjadi para pemuda tampan." jawab dayang Lin.


"Kau benar, aku saja sampai tertipu dengan tampang mereka. Setelah itu mereka menjadi setengah siluman dan menjadi hewan sepenuhnya. Apakah kau tahu kalau aku benar-benar sangat terkejut, kalau di duniaku mungkin aku sudah jatuh kona." ucap Yura yang membuat dayang Lin terasa menahan tertawanya.


"Yang mulia akan melakukan sesuatu?" tanya dayang Lin kepada Yura.


"Sebenarnya aku mau pergi ke beberapa tempat, katanya di beberapa tempat itu penduduknya mengalami kemiskinan yang sangat luar biasa." jawab Yura.


"Anda benar Yang mulia, yang saya tahu kalau di beberapa tempat itu mengalami kemiskinan hebat karena peperangan dari beberapa kerajaan kecil." jawab dayang Lin.


"Kalau begitu aku akan meminta izin kepada suamiku untuk berjalan-jalan denganmu bersama beberapa prajurit." ucap Yura yang membuat dayang Lin langsung menghentikan langkah kaki junjungannya tersebut.


"Yang mulia, apakah Yang mulia yakin mau keluar sendiri? Apakah tidak sebaiknya Yang mulia permaisuri keluar bersama dengan Yang Mulia Kaisar?" tanya dayang Lin kepada Yura.


"Entahlah, tapi yang jelas aku mau melihat Desa yang dikatakan oleh beberapa prajurit itu." jawab Yura.


"Suamiku," ucap Yura yang terlihat ingin berbicara dengan sang Kaisar.


"Ada apa istriku?" tanya Kaisar Han yang kemudian menatap istrinya.


Tatapan matanya seolah mengetahui kalau istrinya ingin mengatakan sesuatu.


"Apakah aku boleh jalan-jalan keluar kerajaan ini? aku mau melihat pemandangan yang ada di luar istana." ucap Yura kepada sang Kaisar.


"Memangnya kau akan pergi dengan siapa?" tanya Kaisar Han kepada istrinya.


"Tentu saja aku akan keluar bersama dengan para pasukan juga dayang setia ku." jawab Yura. pria itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tentu saja kau boleh berjalan-jalan di sekitar kerajaan ini, Namun Kau harus tahu batas waktu yang dibutuhkan." jawab sang kaisar yang kemudian mencium kening istrinya itu.


Tentu saja Yura sangat bahagia saat dirinya sudah diperbolehkan keluar oleh suaminya, seketika dia berlari kembali ke kediaman sambil mempersiapkan segala sesuatu.


dayang Lin yang mengetahui junjungannya sudah bersiap-siap tentu saja pria wanita itu sangat kebingungan.


"Yang mulia permaisuri, apa Yang mulia lakukan?" tanya dayang Lin kepada Yura.


"Tentu saja aku ingin keluar sebentar. Aku ingin melihat Desa itu." jawab Yura.


"Yang mulia, apakah Yang mulia tidak takut di sini ada putri kerajaan ufuk timur? wanita itu benar-benar selalu membuat keributan di tempat ini." ucap dayang Lin yang membuat Yura menatap tajam ke arah dayang Lin.


"Tenang saja, di kerajaan masih ada Selir yang bertugas untuk mengawasi semua pergerakan wanita itu. jika sampai selir Mei dan Putri Liani berani macam-macam, akan ku buat kedua wanita itu berakhir di pemakaman penduduk." jawab Yura yang kemudian tersenyum kepada dayang Lin.


Perjalanan akan dilakukan oleh Yura bersama dayang setia dan beberapa pengawal pribadinya. siang ini Yura akan ke sebuah desa yang ada di wilayah kerajaan tanah surgawi, sebuah berita mengenai para penduduk yang selalu disakiti oleh orang-orang yang ada di tempat itu.


Terlihat Yura sudah bersiap-siap dengan seluruh peralatannya, beberapa pasukan dan dayang Lin sudah nampak berjaga-jaga menunggu keluarnya ratu kerajaan tanah surgawi. Kaisar Han sudah menunggu istrinya di gerbang kerajaan, pria itu akan membiarkan istrinya bersenang-senang daripada dia harus mengekangnya. alasan Kaisar Han melakukan hal itu karena Yura tidak akan mampu untuk lepas darinya karena mereka telah menjadi satu secara jiwa dan raga. karena itulah Kaisar Han tidak terlalu khawatir saat Yura keluar dari kerajaan, jika terjadi sesuatu Kaisar Han pasti akan mengetahui dengan sangat cepat.


"Kau harus hati-hati, Istriku. kalau ada sesuatu kau harus menggunakan kekuatan telepati mu." ucap kaisar Han kepada Yura.


"Tentu saja suamiku, kau jangan khawatir. Hari ini aku akan bersenang-senang." ucap Yura kepada sang suami.


"Tentu saja." jawab Yura.


"Kau harus bersenang-senang, kau tidak usah mengkhawatirkanku." jawab Kaisar Han yang kemudian memberikan kecupan di pipi istrinya itu.


"Kau Tenanglah, permaisuri. aku akan menjaga pria yang paling kau cinta ini, aku dan Jendral Ang tidak akan membiarkan siapa pun berusaha untuk mendekati Yang mulia Kaisar." ucap selir Nai sambil melirik ke arah selir Mei dan Putri Liani.


"Tentu saja aku percaya akan hal itu, aku serahkan padamu Jika ada yang ingin berbuat macam-macam, langsung saja kau singkirkan siapapun itu apalagi jika ada wanita yang berusaha untuk mendekati suamiku. langsung saja penggal kepalanya!!" seru Yura yang kemudian meminta para pengawal dan dayang Lin untuk segera mempersiapkan kuda dan kereta kuda untuk kepergiannya. sang Kaisar ternyata juga tidak lupa menyuruh siluman rubah putih untuk selalu mendampingi istrinya, siapa juga yang akan melepaskan orang yang dicintai dengan begitu mudah.

__ADS_1


*** bersambung ****


__ADS_2