
Suasana kantin cukup ramai, para murid mulai berdatangan melalui pintu angkatan masing masing. Pintu masuk kantin memang di bedakan tiap angkatan, itu mengantisipasi agar para murid tidak terlalu berdesakan untuk masuk kantin.
Barra and friend duduk di tempat biasa, di kursi paling belakang. Tidak boleh ada seorang pun yang duduk di sana, semua orang tentunya kenal Barra dan tidak sedikit siswi yang diam diam menyimpan sesuatu di atas meja Barra.
Barra banyak sekali pengagum rahasia dan begitu juga Elang sama tidak beda jauh dengan Barra. Karena ketampanan dan coolnya mereka banyak di kagumi. Virgan? Gilang? Sama saja keduanya banyak di kagumi, karena kebaikannya.
Perhatian Barra teralihkan ketika melihat Alana dan Anggi masuk di pintu kantin kelas 12. Ia merhatikan gerak gerik Alana, saat Gilang akan menyapanya. Barra langsung menahan agar tidak menghampiri Alana dan hanya melihatnya dari kejauhan.
Anggi tersenyum, seperti bahagia mendapatkan teman. Tapi emang ini pertama kalinya ada murid yang mau berteman dengannya. Dulu tak ada yang mau, bahkan hanya untuk duduk samping saja mereka pada enggan.
Alana dan Anggi duduk sambil membawa makanan di tangannya. Mereka duduk di kursi kosong yang berada di tengah. Tentunya penghuni kantin merasa aneh dan jyjyjk melihat Anggi ada di kantin makan bersama mereka. Emang dunia Anggi itu sangat kejam, gadis sekecil itu harus menerima kejadian yang pahit dalam hidupnya.
Saat sedang makan dan asyik ngobrol seraya menyantap makanan yang di hadapannya, tiba tiba seseorang menghampirinya dan menatapnya dengan tajam. Alana melirik dan melihat siapa wanita yang berdiri di sebelahnya dengan bersedekap dada yang menurutnya sangat tidak sopan.
Alana memutar bola matanya malas, sedangkan Anggi menunduk rasa takut mulai menghampirinya.
"HEH anak baru! Berani beraninya lu gak nurutin perintah gue kemarin ha! Bisa bisanya ga datang. Dan lu juga Anggi, lo udah mulai berani ya gak nurutin perintah gue!" Ujar Vallen seraya menoyor kepala Anggi.
Alana terkejut dengan perilaku Vallen terhadap Anggi, itu sudah sangat keterlaluan. Itu anak orang loh! Bisa jadi orang tuanya memperlakukan dia seperti tuan putri di rumahnya. Kenapa di sekolah ada cewek macam Vallen, anak sekolahan tapi tidak mempunyai attitude sama sekali. Mentang mentang ber-uang dia bisa seenaknya melakukan apapun pada orang lain.
Di sisi lain Barra terkejut, sepertinya Alana terlibat masalah dengan Vallen. Saat Gilang dan Virgan akan menghampiri mereka, keduanya lagi lagi di tahan. Barra hanya ingin melihat seperti apa reaksi Alana dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
"Emang kamu siapa? Anak pejabat? Anak presiden? Atau anak yang punya sekolahan ini? Sampe sampe aku harus menuruti perkataanmu, yang bahkan baru bertemu 2 kali." Ujar Alana dengan tanpa rasa takut sedikit pun.
Vallen sangat marah saat mendengar perkataan Alana barusan, baru kali ini ada yang berani padanya." HEH gue ini anak donatur terbesar di sekolah ini, gue bisa lakuin apa aja yang gue mau di sekolah. Lo gak bisa macam macam sama gue, liat aja gue bakal kasih perhitungan ke lo, biar lo tahu siapa gue sebenernya." Ancam Vallen.
Alana mendekat, menepis jarak antar dirinya dan Vallen. Alana mengangkat dagunya, agar tak terlihat terintimidasi. Menatap Manik hitam milik Vallen dengan tatap yang penuh keberanian.
" Kamu hanya memiliki uang tapi tidak mempunyai otak dan attitude. Kamu hanya memiliki kekuasaan tapi tidak mempunyai rasa keberanian. Kamu kuat karena ada orang di belakang kamu. Sebenarnya orang seperti kamu tidak memiliki keberanian sedikit pun. Mengatasnamakan Ayah, untuk setiap ancaman kamu, jadi sebenarnya siapa yang pengecut disini? Kamu atau aku? Atau Anggi? "
Semua orang terkejut perkataan Alana, ia terkagum kagum melihat Alana yang sangat berani. Kini tiap Manik hitam yang ada di kantin tertuju pada Alana dan Vallen yang sedang berseteru.
Barra yang memperhatikan istrinya itu tidak sadar ia mengukir senyuman, terkagum melihat keberanian Alana. Begitu pun Elang, Gilang dan Virgan, tidak sangka kalau Alana sekeren itu. Tidak hanya cantik, namun rasa kemanusiaan nya tinggi.
"Liat aja gue gak bakal kasih perhitungan sama lo!" Bentak Vallen.
"Silakan! Kalau kamu emang bener bukan pengecut jangan bawa bawa Ayah kamu di permasalahan kita. Kamu hadapi aku sendirian!" Alana langsung melengos meninggalkan Vallen, seraya menarik Anggi agar ikut bersamanya.
Vallen terpaku di tempatnya, ia tidak habis pikir kalau ada orang yang akan berani padanya.
" APA LO LIAT LIAT VALLEN, KALO ADA YANG MASIH LIATIN KESINI GUE BAKAL KASIH PERHITUNGAN YA SAMA LO PADA!" Bentak Siska pada penghuni kantin yang sedari tadi memperhatikan mereka. Vallen pun ikut pergi dari kantin, untuk kali ini ia benar benar merasa di permalukan dan harga dirinya di jatuhkan di hadapan banyak orang.
"Parahhh keren banget sih Al. Berani banget ngelawan nenek sihir kek si Vallen itu, gue salut banget." Ujar Gilang dengan terkagum kagum pada sosok Alana Valerie.
__ADS_1
Begitu pula dengan Virgan dan Elang, mereka tertohok melihat keberanian Alana. Barra tiba tiba berdiri dan pergi dari kantin dengan cepat, ia mencari seseorang dan akhirnya ketemu, orang itu ada di dalam kelasnya.
"Alana maaf... Gara gara gue lo jadi terjebak sama Vallen. Seharusnya lo gak usah belain gue tadi, gue ngerasa gak pantes di bela orang kayak lo. Gue sadar posisi gue kok disini, jadi gue bisa nerimain apa yang dilakukan orang lain terhadap diri gue." Alana mengangkat kepalanya dan menatap Anggi yang berada di sampingnya.
"Kamu gak boleh ngerendah gini, aku hanya ngebela orang yang tidak salah. Lagian menurutku kamu itu tidak pantas di rendah an kayak gitu sama orang yang berdiri di atas kaki Ayahnya. Sedangkan kamu berdiri di atas kaki mu sendiri. Pliss jangan selalu merendah karena perbedaan kasta, kita semua sama di mata Tuhan. Tolong di depan aku kamu gak boleh nunduk terus, jangan nampilin sisi takut kamu, itu hanya membuat orang jadi semakin akan membully kamu. "
Alana tidak suka kalau ada orang yang memandang kasta, ia sangat benci itu. Sekarang ia malah masuk ke sekolah yang sangat sangat memandang kasta dan kasta terendah itu dianggap upik abu. Apakah itu pantas di katakan oleh seseorang yang berlindung di ketek Ayah? Sedangkan orang yang di bully, berusaha berdiri di kakinya sendiri dan menguatkan dirinya akan terus bertahan di sekolah yang kejam ini demi kedua orang tua.
Alana dan Anggi berpelukan, Anggi merasa kalau sekarang ia mempunyai teman yang sangat berharga. Mereka tidak sadar kalau sedari tadi mereka di awasi oleh seseorang di balik jendela dan mendengarkan pembicaraan di antara keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...*Mereka mereka yang masih berdiri di atas kaki orang tua, tidak berhak dan tidak pantas menghina bahkan mencaci maki orang yang berdiri di kakinya sendiri demi kebahagiaan kedua orang tuanya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
***Jangan lupa ninggalin jejak ya bestie, luvyu 🤎
Ohh iya kalau ada yang mau ngasih saran atau kritikan boleh banget ya, asal dengan bahasa yang baik, tidak menyakiti. Soalnya hati othor lembek banget kek yupi***
__ADS_1