PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 66: MANJA


__ADS_3

Selama masa pemulihan kemarin, Barra begitu manja. Entah Alana, Marni atau Kyra.


Barra begitu memanfaatkan waktu ini dengan baik. Jarang jarang dia seperti ini. Sedari kecil, kata 'manja' anti sekali untuk dirinya.


Namun, entah kenapa ini jadi hal yang begitu menyenangkan baginya, bisa meminta apapun dan barang itu sudah bisa di pastikan dalam beberapa menit ada di mejanya.


"Kyra..." Panggil Barra.


Di kamar samping Kyra menghela nafas pelan. "Apa, Bang?" Walaupun enggan, tapi gadis itu tetap menghampiri Barra.


"Mau nyuruh apa lagi lo?" Tanya Kyra dengan sedikit sewot seraya bersedekap dada di pintu.


"Ehh, ko nyolot sih. Gak boleh gitu, kualat hayo."


"Ya, Abang pikir aja sendiri. Hari ini udah satu, dua, tiga, sepuluh, sebelas, lima belas kali, Abang manggil Kyra. Apa gak kesel?" Gerutu Kyra. Gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Kan Abang lagi sakit."


"Aww! Aww! Aww!" Rintih Barra seraya memegang perutnya yang terdapat luka disana.


Kyra yang cemas langsung menghampiri Barra ke kasur.


"Ehh, ehh, kenapa? sakit lagi, Bang?" Tanya Kyra khawatir.


Barra menganggukkan kepalanya seraya menunduk kesakitan.

__ADS_1


"Abang, mau Kyra ambilin apa?" Tawar Kyra. "Cepet, jangan kayak gitu terus dong." Kyra sangat sangat terlihat kahwatir.


"Boleh gak bawain Abang susu sama cemilan? Stok di kamar udah abis, kek nya perut Abang sakit karena gak diisi deh." Ujar Barra.


Dengan cepat Kyra langsung melengos pergi mengambil apa yang Barra pinta tadi.


Setelah Kyra keluar kamarnya dan sudah tidak terlihat. Barra terkekeh dan membenarkan posisinya ke semula.


Sebenarnya luka Barra sudah tidak terasa sakit lagi. Hanya saja, ia tidak rela dengan situasi menyenangkan ini berakhir.


"Emm. Dua? Tiga? Lima? Ahh, nanti aja lah ngakunya. Lagian kapan lagi bisa kek gini? minta apapun pasti di kasih tanpa harus kena omel atau nabung dulu."


"Kesempatan emas kan harus di manfaatkan sebaik mungkin." Gumam Barra.


Lelaki itu terkekeh, bibirnya sedari tadi tidak turun terus saja terangkat. Rasanya seperti surga dunia.


"Ahh, nikmatnya." Ucap Barra seraya menyenderkan punggungnya dan kedua tangannya di taruh di leher belakang. Dan, tersenyum memandang langit langit kamar.


***


"Denger nih, perut gue berisik kan? Makanya ayo ke kantin, sebelum gue mati kelaperan." Paksa Gilang seraya mengelus ngelus perut donatnya.


Virgan dan Elang sama sama memutar bola matanya malas. Sudah hampir lima belas menit, Gilang seperti itu.


Ia tidak akan ke kantin jika tidak bersama teman temannya.

__ADS_1


Virgan dan Elang tidak memedulikan Gilang sama sekali, dua lelaki itu fokus pada game onlinenya.


Tiba tiba seseorang menghampiri mereka. Gadis bersurai panjang yang enggan mereka lirik apalagi melihat wajahnya. Gadis munafik yang bermuka dua.


"So—sorry, gue mau nanya sesuatu ke kalian boleh?" Tanyanya dengan gugup.


Ketiganya kompak memutar bola matanya malas dan tidak merespon.


"Pliss, jawab. Gue cuma mau nanya satu pertanyaan kok." Paksanya.


"Tanya apa?" Balas Gilang dengan dingin dan tidak menoleh sedikit pun.


"Ke—keadaan Barra gimana? Kok udah lama dia gak masuk sekolah?" Tanyanya tanpa tahu malu.


Virgan dan Gilang langsung menoleh secara bersamaan. Sedangkan, Elang, penuda itu tidak menoleh sama sekali.


"Punya urusan apa lo nanya nanya dia?" Tanya Gilang nyolot.


"Cu—cuma mau tahu kabarnya aja?" Vallen menundukkan kepalanya karena tatapan Elang yang mengintimidasi.


"Barra, kek gitu tuh ulah lo! Tolong ya, kalo lo ngga punya attitude, seenggaknya lo tahu malu!" Bentak Gilang tepat di hadapan wajah Vallen.


Gilang kemudian mengajak sahabat sahabatnya keluar dari kelas, karena muak melihat perempuan yang ada di hadapannya ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Happy reading 💜


__ADS_2