
Setelah mengerjakan ulangan harian yang mendadak ini, para murid di beri free time 10 menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Mereka semua kompak berkutat dengan ponselnya seraya menelungkupkan di wajahnya malas.
Pasalnya hari ini, hari yang menyebalkan bagi mereka. Jam pelajaran pertama mereka sudah di susguhi oleh ulangan harian fisika dan di jam pelajaran kedua mereka pun di susguhi ulangan harian matematika. Kalau yang mempunyai mata batin, pasti akan terlihat setebal apa kepala mereka berasap.
Nanti pulang sekolah, temenin gue nonton horor di bioskop.
Satu pesan masuk di ponsel Alana, ia terkejut ketika Barra mengajaknya nonton horor di bioskop lagi. Apa jantung nya tidak akan loncat? Alana sangat takut oleh hal hal yang berbau horor dan kegelapan. Gadis itu sangat tidak sanggup dan rasa takutnya sungguh di level yang sangat tinggi, ia hanya taku pingsan di tengah tengah film.
Gak! Aku gak mau nemenin. Itu sama seperti kamu membunuh aku dengan cepat.
Barra tersenyum saat melihat balasan Alana, ia melirik sedikit ke arah Alana. Alana sepertinya merajuk lagi.
Harus mau! Gak ada penolakan!
Alana menghela nafasnya gusar, benar yang di katakan Kyra kemarin. Dia baru merasakannya sekarang, Alana menyesal sudah menerima tantang itu. Lagi lagi Alana menghela nafas, ia pasrah untuk kali ini. Janji adalah janji, tidak bisa di ingkar, janji itu sama seperti hutang.
Tringg... Tring... Tring...
Bel sekolah sudah bunyi, para murid dengan semangat membereskan buku bukunya ke dalam tas dan bergegas keluar kelas untuk pulang. Begitu juga Barra, ia menunggu Alana di parkiran.
"Anggi, aku pulang duluan ya. Bye" Pamit Alana pada Anggi. Anggi membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Kemudian Alana melengos pergi menuju tempat parkir dan Barra sudah menunggunya disana.
Alana berjalan menyusuri lorong sekolah. Tiba tiba terdengar seseorang memanggilnya, ia menoleh pada sumber suara. Ternyata disana ada Elang, Elang berlari kecil menghampiri Alana.
"Iya... Ada apa, Lang?" Tanya Alana saat Elang sudah di depannya.
"Nggak, aku cuma ada yang mau di tanyain aja sama kamu. Kamu lagi sibuk gak, Al?"
__ADS_1
Jantung Alana berdebar tidak karuan, Alana sangat terkejut sekaligus terpesona pada Elang.
Ya tuhan... Kenapa laki laki ini lembut sekali, tidak sama seperti yang lain. Dia sangat terlihat dingin dan kaku, tapi dia bikin jantung aku deg degan.
" Eum— sebenarnya aku udah punya janji sih. Kalau kamu ada yang mau di tanyain, tanyain aja gak papa." Ujar Alana gugup.
"Ohh gitu, nanti aja lagi. Aku gak mau ngeganggu kamu, lain kali aja aku tanyain. Ya udah kalo gitu aku pamit ya." Elang melambaikan tangannya, seraya pergi menjauh dari hadapan Alana.
Sedangkan Alana masih terpaku di tempatnya, ia baru pertama kali melihat sosok lain dari diri Elang. Ternyata sangat tidak baik bagi kesehatan jantung maupun kesehatan hati ya, Bund.
Saat tersadar, Alana dengan cepat berlari menuju parkiran, pasti Barra sudah menunggunya lama. Saat sudah sampai mobil, benar saja dari raut wajah Barra terlihat kesal. Tatapan nya begitu dingin, Alana gugup saat akan memasuki mobil Barra.
"Kenapa lama banget sih lu? Buang waktu gue aja." Ujar Barra dengan suara beratnya yang khas. Baru saja Alana mendarat kan pantatnya di jok, ia sudah di susguhi pertanyaan yang membuatnya kaget.
"Lama lah, waktu itu sangat berharga makanya lo jangan leha leha, gue gak suka. Alana menunduk dan memilin baju bagian bawah. Emang Barra tuh termasuk cowok yang disiplin, tapi bukan disiplin tentang belajar dia. Tapi aku akui dia sangat pintar soal pelajaran, entah terbuat dari apa otaknya.
" Dah ayo kita jalan sekarang, keburu filmnya di mulai." Barra melajukan mobilnya. Sesekali ia melirik pada Alana yang masih saja menunduk. Barra tersenyum tipis.
Kota yang sangat padat penduduk membuat jalanan macet. Matahari begitu terik, menyinari kota yang udara ya sudah di penuhi oleh polusi. Banyak oknum oknum yang masih menggunakan knalpot yang bising dan asapnya yang hitam, menambah ruwet keadaan jalanan Ibu kota.
Ehem...
Barra berdeham memecahkan keheningan di antara keduanya. "Ngapain Elang tadi nyamperin lo?!" Tanya Elang dengan tegas.
Alana mulai mengangkat wajahnya dan menoleh pada Barra. "Gak tahu, katanya ada yang mau dia omongin sama aku. Tapi karena aku udah ada janji sama dia, jadi katanya lain kali aja nanyanya. Aku baru tahu loh, kalo Elang selembut itu sama cewek, aku kira dia bakal kayak kamu dingin." Ujar Alana dengan di serta umpatan di bagian akhirnya.
__ADS_1
" Inget lo udah punya suami. " Satu kalimat Barra yang membuat seketika pipi Alana berubah dan tersenyum pada Barra.
" Jadi kamu selama ini anggap aku seorang istri?! Aaaa aku gak nyangka, kira aku kamu gak anggap aku. Aaaa Barra sosweet banget sih." Alana bergelayut di tangan kiri Barra.
"Diem gue lagi nyetir ah elah. Mau lo gue aduin mama?! Cepetan lepasin ahh." Alana dengan melepaskan tangannya, kemudian bersedekap dada, ia lagi lagi mengerucutkan bibirnya.
"Gak seru mainnya adu aduan." Barra terkekeh melihat tingkah lucu Alana.
Akhirnya mereka sampai di mall yang mereka tuju. Tidak mau menunggu lama, Barra langsung mengajak Alana ke bioskop, karena Barra sudah memesan tiket online sebelum kesini.
"Aku gak mau nonton hantu Barra, kamu mau nyiksa aku? Gimana kalo nanti malem aku gak bisa atau mimpi buruk?" Alana menghentikan langkahnya dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya.
"Udah Ahh ayok, gampang lo tinggal tidur di kamar gue. Lo tidur dalam pelukan gue, langsung mimpi indah. Gak usah di bawa ribet ahh" Barra dengan cepat menarik Alana, mereka berlari karena sebentar lagi film nya akan di mulai.
Ayahhhhhh, tolongin Al. Al gamau nonton hantu, semoga listriknya di cabut PLN, Ya Tuhan. Batin Alana dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alana : Bestie plissss nonton horor jangan di jadiin. Aku takut beneran gak boong.
Barra : Awas aja lu, nonton horornya di cancel. Gue tunggu lu di belokan bestie.
Author : 😐
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
SEPERTI BIASA JANGAN LUPA TINGGAL JEJAK BESTIE 🤎
__ADS_1