
Sepulang sekolah Gilang, Virgan dan Elang berencana untuk menjenguk Barra ke rumah nya. Rasanya hampa tidak ada si mesin atm berjalan.
Setelah jam sekolah habis. Tanpa lama lama lagi, mereka langsung pergi menuju rumah Barra dan diperjalanan mereka singgah terlebih dahulu untuk membeli parsel buah.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Barra. Gerbang rumah langsung di buka oleh satpam.
"Barra... Barra... Barra... Assalamualaikum." Teriak Gilang dari depan pintu.
Tanpa menunggu di pemilik rumah membukakan pintu, Gilang langsung saja masuk dengan sendirinya tanpa tahu malu.
Di ikuti oleh Virgan dan Elang di belakangnya.
"Barra, liat deh gue bawa apaan." Seru Gilang dengan menenteng parsel di tangan kanannya. Sungguh tidak sopan 1 bujang ini.
Karena tidak ada satu pun yang menyahut, Gilang pergi ke dapur untuk menanyai tentang Barra pada asisten rumah tangga disana.
Setelah mendapat jawabannya, Gilang langsung melenggang ke atas menuju kamar Barra.
Brak!
Dengan tidak santai, Gilang membuka pintu kamar Barra dengan kencang. Pintunya tidak di kunci, sepertinya semesta memang sedang berpigak padanya.
Si pemilik kamar mengerjap terkejut. "KAGET ANJ GILANG!" Pekik Barra seraya mengelus ngelus dadanya.
Barra langsung melempar bantal yang berada di samping pada Gilang. Namun, Gilang dengan sigap menghindar.
"Eits! Gak kena." Ledek Gilang seraya menjulurkan lidahnya.
“Mau apa lo? Ganggu hidup gue yang tentram ini aja.” Sarkas Barra. Pemuda itu sedang asik asiknya bermain game online. Seketika moodnya hancur kedatangan anak dakjal satu ini.
Tanpa raut yang bersalah, Gilang berjalan masuk ke dalam dengan berlenggak lenggok. Seraya menyimpan parsel buah itu di nakas samping kasur Barra.
__ADS_1
“Hai, bestie.” Sapa Gilang seraya tangannya merangkul leher Barra dan mendekat, mendekat, terus mendekat.
Barra otomatis memundurkan kepalanya dan menatap Barra bingung.
“Napa lo?”
“Ehem! Gue punya satu pertanyaan nih. Pertanyaan yang sangat sangat penting dan kek nya bisa buat di jadiin edukasi buat gue.”
Barra menatap Gilang semakin aneh.
“Emm, share dong pengalaman malam pertama lo?”
Barra seketika membulatkan matanya dan mendorong Gilang dengan keras.
“Wahh! Kurang ajar lo!” Ucap Barra kesal.
Virgan dan Elang yang baru sampai di kamar Barra terkejut, baru saja sampai sudah terjadi keributan.
“Aww! Sakit bego!” Pekik Gilang. Bokongnya terasa nyeri akibat terjatuh dengan lumayan keras ke lantai.
Elang yang melihat itu langsung menolong Gilang dan membopongnya naik ke kursi di sebelahnya.
“Baru juga nyampe, udah ribut aja lo berdua.” Sarkas Elang.
“Ada apa sih?!” Tanya Virgan sekali lagi.
“Kurang ajar banget tuh anak. Masa minta pengalaman malam pertama gue.”
“Ya, ga adil dong kalo gue cerita ke dia doang gak ke lu pada juga.” Ujar Barra seraya tertawa.
“WOW! WAKTUNYA BERDONGENG 21+ NIH GUYS.” Ucap Gilang dengan semangat.
__ADS_1
Sebenarnya, Barra dan Alana sampai sekarang belum di perbolehkan untuk satu kamar.
Karena, Damar dan Agatha belum mengizinkannya. Mereka harus fokus pendidikan terlebih dahulu.
Damar dan Agatha, menekankan pada mereka. Kalau mereka harus menganggap statusnya adalah pacaran, bukan suami istri.
Tiba tiba, ada sebuah ide yang melintas di pikiran Barra. Pemuda itu menyeringai.
"Al, Alana. Mau minta tolong dong!" Panggil Barra.
Ketiga sahabatnya menatap Barra dengan curiga. "Mau apa lo?"
Barra tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua alis sekali.
Alana yang mendengar namanya di panggil, gadis itu langsung beranjak dari tempatnya.
"Iya." Sahutnya.
Alana sempat terkejut melihat ketiga lelaki itu. "Ehh ada kalian. Sejak kapan disini?" Tanyanya.
"Baru sampe, Al." Sahut Virgan.
"Alana sini." Suruh Barra.
Alana dengan nurut menghampiri Barra.
"Al, aku mau mimi dong, boleh?" Tanya Barra dengan segala kejahilannya dengan raut wajah yang menyebalkan seraya menatap ketiga sahabatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Happy reading 💜
__ADS_1