PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 62 : RUMAH SAKIT


__ADS_3

Elang berlari sekuat mungkin dengan Barra yang berada di gendongannya.


Barra terkapar tidak berdaya saat Dion berhasil mneikamnya di bagian perut.


Barra tidak sempat menghindari karena gerakan Dion yang sulit dibaca.


Dion langsung melarikan diri setelah berhasil menikam Barra. Pemuda itu langsung meninggalkan gedung kumuh dengan cepat.


"Tolong!" Teriak Elang panik.


Alana di belakang sudah berderai air mata melihat kondisi Barra seperti itu. Gilang merangkul Alana, berusaha untuk menenangkan gadis itu.


Alana terus menerus menangis, ia merasa bersalah pada Barra.


Kini Barra sudah di tangani oleh dokter di dalam sana. Ketiganya kini duduk di depan ruang UGD yang terdapat Barra di dalamnya.


"Al, lo tenang. Gue yakin Barra pasti baik baik aja ko." Ujar Gilang seraya mengelus ngelus punggung Alana.


Alana tidak menyaut percakapan Gilang tadi. Gadis itu terua menunduk dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Kak Alana..." Suara panggilan itu begitu tidak asing di telinganya.


Alana langsung mengangkat kepalanya dan benar saja itu adalah Kyra.


Kyra bergegas menuju rumah sakit saat mendengar kabar buruk mengenai Barra dari Gilang. Sebenarnya Virgan pun memaksa untuk ikut bersama Kyra.

__ADS_1


Namun, gadis itu malah melarang dan memarahi Virgan.


Kyra langsung memeluk Alana dengan erat.


"Kyra... maafin Kakak. Karena Kakak, Barra jadi seperti i—ini."


"Nggak, nggak. Ini bukan salah Kakak, emang seharysnya sudah terjadi seperti ini." Ucap Kyra menenangkan.


Walau tidak bisa di pungkiri, hatinya begitu sakit dan sedih ketika sesuatu yang buruk terjadi pada Abangnya.


Kyra perlahan melepaskan pelukkannya dan mendudukkan Alana di kursi. Gadis itu berkali kali menyeka air matanya.


Walaupun ia sedih, tapi ia yakin Alana lebih sedih dari dirinya.


"Kakak, kakak harus percaya sama Kyra. Kakak kan tahu kalo Abang itu jago bela diri. Kalo dia sampe kalah, berati dia emang udah rencanain itu atau di sengaja ngalah."


"Jadi, ini semua bukan salah Kak Al, kok. Udah ya nangisnya. Kyra yakin, Abang pasti sembuh, kok."


Kyra menahan sekuat mungkin air matanya agar tidak terjatuh. Kyra belum menghubungi orang tuanya, sebelum kondisi Barra dinyatakan baik baik saja. Agar mereka tidak khawatir.


Gilang dan Elang hanya terdiam memperhatikan interaksi kedua gadia yang ada di sampingnya.


Kini Alana mulai sedikit tenang setelah mendengar perkataan Kyra tadi.


Alana mulai berpikir, ucapan Kyra itu ada benarnya. Barra bukanlah lelaki yang lemah dan gampang di kalahkan.

__ADS_1


Jika Barra Kalah, berati itu mengalah.


***


Selaman mereka berjaga di ruangan Barra. Kondisi Barra baik baik saja, namun tusukan itu sedikit lebih dalam. Jadi Barra harus memulihkan dirinya sedikit lebih lama.


Sampai sekarang Barra masih belum sadarkan diri. Pemuda itu masih terbaring lrmah di atas brankar.


Alana dan Kyra dengan setia menjaga Barra di samping kanan kirinya. Kini kedua gadis itu tengah terlelap dengan kepala berada di atas lipatan tangannya.


Sementara Gilang dan Elang berada di rumah sakit lain yang terdapat Virgan disana. Hari ini Virgan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.


Jadi, Virgan berencana untuk langsung menjenguk sahabat. Ia bahkan tidak mau pulang sebelum melihat kondisi Barra dengan mata kepalanya sendiri.


Damar dan Agatha sudah di beri kabar oleh Kyra setelah gadis itu mendengar kabar dari dokter, bahwa Barra baik baik saja. Dan, mereka berencana untuk pulang dari perjalanan bisnis hari ini.


Tiba tiba, Alana merasakan sesuatu yang mengusap ngusap kepalanya. Namun, matanya enggan terbuka, karena ia baru tidur 1 jam yang lalu.


"Aku beruntung banget dapet cewek kayak kamu. Ini adalah hadiah terbesar yang pernah tuhan kasih ke aku. Aku akan selalu bersyukur selama hidupku, karena kamu selalu disampingku."


"Terimakasih telah membuatku menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini, Al."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Happy reading 💜

__ADS_1


__ADS_2