PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 39 : ES KRIM


__ADS_3

Janji adalah hutang. berarti janji itu tidak boleh di ingkar, bukan? Tapi kenapa cowok satu ini susah sekali nepatin janjinya, sungguh bebal!


"Barra! Ayok... Kamu kan udah janji mau traktir es krim, kok sekarang jadi berubah pikiran sih! Ngeselin banget!" Rayu Alana yang terus menggoyangkan tangan kiri pemuda di sampingnya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel.


Pemuda itu terus fokus pada ponselnya, tanpa mendengarkan apa yang Alana bicarakan. Keduanya kini berada di mobil. Entah apa yang Barra tunggu, tapi keduanya sudah dari 10 menit yang lalu berada di dalam mobil.


"Barra! Ayok dong." Barra kemudian mematikan dan menyimpan ponselnya.


"Gue cape, abis basket tadi. Besok aja lah sama Kyra" Ujar Barra, lalu menghidupkan mobilnya.


"Jahat banget si! Baru kali ini aku liat ada orang yang ingkar janji. waktu dulu ayah gak pernah tuh yang namanya ingkar, pasti aja tepatin janjinya. Mau gimana pun kondisi nya tetep nepatin!" Jelas Alana dan langsung memalingkan wajah nya melihat keluar jendela mobil.


"CK! Gak seru ahh banding bandingin" Barra berdecak.


"Ya udah Ayok, kita mall!" 1 kalimat itu mampu merubah mood Alana dengan drastis, gadis itu langsung membalikkan badannya pada Barra.


"Yeee... Es krim" Ujar Alana dengan antusias. Kalau di pikir pikir gadis itu sudah lama sekali tidak makan es krim.


"Apakah kamu senang tuan putri?" Ujar Barra tanpa menoleh sedikit pun pada Alana dan mulai melaju kan mobilnya.


"Seneng dong..." Ujar Alana kegirangan.


Bener bener betina! Bisa secepat itu berubah mood, gak habis pikir gue. Batin Barra.


Selama dalam perjalanan ukiran senyuman di wajah Alana tidak luntur sedikit pun, gadis itu benar benar senang hanya perkara es krim.


Bahagia itu memang sederhana, laki lakinya aja yang gak peka!


Setelah 15 menit dalam perjalanan akhirnya sampai di mall besar ibu kota dan selama itu pun Barra terus keheranan melihat tingkah Alana seperti anak kecil yang akan di belikan balon.


Keduanya pun langsung turun dan masuk ke dalam mall. Seperti biasa suasana mall tidak pernah sepi dan selalu ramai pengunjung.


Barra langsung memboyong Alana menuju tempat es krim favoritnya. Barra menyuruh Alana duduk di bangku dan pemuda itu langsung memesan es krim matcha with chesee.


"Mbak, matcha with chesee nya 2 ya." Pesan Barra pada pelayan.


"Baik, di tunggu sebentar ya, kak." Balas mbak pelayan.


5 menit kemudian es krim itu jadi dan Barra langsung membayarnya. Lalu menghampiri Alana yang sudah menunggu di meja.

__ADS_1


"Nih" Barra menyodorkan es krimnya pada Alana.


"Kok es krim alpuket sih?! Jauh jauh ke mall belinya es krim alpuket, tau gini mending beli es potong aja yang 2000 an di mang keliling" Alana mendengus.


Barra terkekeh mendengar apa yang di ucapkan Alana. "Heh katro! Ini tuh es krim matcha dodol. Warnanya aja sama tapi rasanya beda, cobain dulu pasti lo suka. Jangan asal marah marah gitu."


Dengan ragu Alana mengambil, lalu mencicipinya. Baru 1 sendok es krim yang masuk di mulut Alana, gadis itu langsung membelalak an matanya dan tersenyum." wah... Enak banget." Ujar Alana seraya menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.


" Bener kan yang gue bilang. Makanya jangan asal ucap, mbak katro...." Ledek Barra.


"Biarin katro katro juga yang penting cannntikkkk, anaknya bapak yannnntooooo" Balas Alana dengan bernada.


Barra hanya terkekeh mendengar cakap Alana, lalu melanjutkan menyantap es krim di tangannya. Begitu pun gadis di hadapannya kini.


Selama beberapa menit keduanya fokus menghabiskan es krim, karena terlalu enak sehingga tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari keduanya.


"Gue udah nih nepatin janji gue sama lo dan sekarang bagian lo yang harus nepatin janji. Buat ke depannya lo harus nurut dan terus ada sisi gue jangan pergi sendiri kemana pun, apa lagi di sekolah." Ujar Barra saat es krimnya sudah habis.


"Ish! Kamu mah, masih aja ngeremehin kemampuan aku. Buktinya aku bisa menang lawan 8 orang." Ujar Alana bangga.


"Iyaa, tapi liat tuh tangan lo luka."


Alana menghela nafas dan berfikir, kenapa cowok di hadapannya ini posesif sekali?



"Apa si lo! Nanya gitu mulu. Lo tahu kan, kalo lo sampe kenapa kenapa gue yang di marahin sama nyokap bokap. Makanya lo harus nurut sama gue, biar gak kena amuk emak bapak!" Ujar Barra sedikit kesal.


Lalu menyenderkan punggungnya ke kursi dan bersedekap dada. Pemuda itu heran, kenapa Alana tidak mengerti kalau saat ini nyawanya ada dalam genggaman Alana. Bila Alana terluka, habis Barra.


Barra tidak keberatan mengenai itu. Bila dirinya memang gagal menjaga Alana dan di amuk oleh Damar dan Agatha, ia tidak berkecil hati dan akan menerimanya. Karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan kehilangan orang yang di cintai.


"Ituuuu aja alesannya. Dah ahh ayok, aku ada tugas banyak nih. Kamu jangan buang buang waktu aku!" Ujar Alana, lalu berdiri untuk meninggalkan tempat itu.


"Heh! Gue sama lo tuh sekelas, berarti sama dong gue juga banyak tugas. Jangan sok sibuk deh!" Alana hanya menoleh dan kemudian memalingkan lagi wajahnya dari Barra, meninggalkan Barra yang masih duduk di meja.


Barra hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh. Lalu keduanya meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju mobil untuk pulang.


...📍📍📍📍📍📍📍📍📍 ...

__ADS_1


"Ehh guys, lo pada udah liat belum sih artikel tentang si Alana?" Tanya Gilang seraya mengukaps kacang lalu memakannya.


Kini ketiganya sedang bersantai di markas, karena baru selesai mengerjakan tugas yang bejibun. Akhir akhir semester 1 memang banyak sekali tugas yang datang, karena katanya biar para murid makin rajin belajarnya, ucap guru.


Bukan rajin belajar yang ada otak kita itu beku karena terlalu banyak belajar jadi puyeng karena terlalu banyak memasukkan nutrisi ke dalam otak.


"Emang kenapa?" Tanya Virgan. Elang hanya anteng memakan kacang kulit di kursi malas seraya memperhatikan kedua temannya.


"Emang lo belum tahu? Wahhh parah nih, masa artikel yang membuat seluruh murid tercengang lo gak tahu sih?" Ujar Gilang yang terheran heran.


"Sotoy lo! Gue udah liat, jabingan! Terus apa masalahnya?" Ujar Virgan seraya melempar kulit kacang ke arah Gilang.


"What?! Lo nanya masalahnya di mana?! Hey, s Alana tuh anak buruh ege, gue kira di anak konglomerat atau pejabat. Ternyata eh ternyata cuma seorang anak buruh." Ujar Gilang dengan nada merendahkan.


"Anj! Mulut lu lemes bener, Gil, kek betina aja, Huh" Ujar Virgan.


Elang yang mendengar itu tentu saja tidak terima dan langsung menghampiri Gilang, lalu meremas dan mengangkat kerah seragamnya.


"Omongan lu di jaga ya!" Ujar Elang dengan tegas lalu melepaskan kerah baju nya dan melepaskan Gilang dengan kasar.


Virgan terkejut melihat Elang yang begitu marah saat Gilang merendahkan Alana. "Wait Wait, El, lo sabar dulu brader." Ujar Virgan yang menengahi.


"Awas ya kalo sekali lagi ngerendahin Alana, gue pastiin mulut lo gak bisa berucap kotor lagi selamanya." Ancam Elang, lalu mengambil tas dan melengos keluar markas. Elang terlampau kesal ketika Alana di rendahkan oleh temannya sendiri.


Di sisi lain Virgan dan Gilang keheranan, baru pertama kalinya Elang marah sampe sebegitunya cuma karena wanita. Keduanya berpikir, pasti ada yang beres nih sama Elang.


"Lu sih, pake nada yang kek gitu. Kesannya kan lu ngerendahin banget tuh cewek. Dasar ege!" Ujar Virgan, lalu menoyor kepala Gilang lumayan kencang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai bestie 👋🏻


Othor perhatiin sudah ada beberapa komen yang bilang novel karya othor ini sama dengan novel di sebelah, cuma beda beberapa doang.


Tolong spill dong judulnya, gak enak nih di banding banding in terus :(. Othor gak plagiat kok ✌🏻


Mungkin otak othornya aja kali yang mikirnya klasik atau pasaran xixixi. Tolong maklumin kekurangannya ya bestie.


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE.

__ADS_1




__ADS_2