
Alana langsung menoleh ke arah Barra dan ia menghambur masuk ke dalam pelukkan pemuda itu.
"Aaa, akhirnya kamu sadar juga." Ujar Alana senang.
Barra membalas pelukkan Alana dan mengusap ngusap punggung Alana.
"Hehe, maafin ya udah bikin kamu khawatir." Ucap Barra lembut.
"Huwek! Gak usah sok romantis gitu. Geli dengernya." Cibir Kyra.
"Huh! Iri aja jomblo." Seketika orang orang yang berada di dalam ruangan itu terkekeh melihat interaksi kakak adik yang lucu itu.
Kyra memalingkan wajahnya dari Barra. "Dah lah, pingsan lagi aja lo." Cibir Kyra kesal seraya mendaratkan bokongnya di sofa samping kanan.
"Hush! Gak boleh ngomong gitu Kyra." Tegur Agatha.
"Lagian dia ngeselin banget, baru sadar juga." Kyra mengerucutkan bibirnya.
Agatha terus menengahi perdebatan kakak adik itu. Yang lainnya hanya bisa terkekeh menyaksikan perdebatan adik kakak yang lucu itu.
Damar kemudian mendekat dan beliau duduk di kursi samping brankar.
"Bar, coba ceritain ke Ayah kejadiannya bagaimana sampai bisa seperti ini?" Ujar Damar.
Barra membenarkan posisi duduknya agar agar lebih nyaman. Ia tahu pertanyaan itu adalah awal dari obrolan panjang dengan Damar.
Ayahnya memang selalu seperti itu. Selalu menanyakan awala kejadi dan motif apa sampai bisa seperti ini.
__ADS_1
Barra mulai menceritakan dari awal kejadian sampai akhir, tidak ada sedikitpun yang ia lewat.
"Tapi Barra ngalah sama Dion, biar dia berhenti, Yah. Orang kayak Dion itu gak mau kalah. Dia pasti terus balas dendam sampai ia merasa puas dan menang. Makanya kemarin Barra diem aja waktu Dion mau nikam, Barra."
Damar mengangguk mengerti setelah mendengarkan penjelasan dari Barra.
Pada akhirnya Damar mengerti dan tidak jadi menuntut Dion atas kejadian ini.
Semuanya menatap kagum pada Barra. Dia benar benar lelaki yang keren.
***
Selama di rumah sakit, Barra selalu di temani oleh Alana. Gadis itu begitu setia menemani Barra.
Kini kedua tengah berkeliling keliling di taman rumah sakit dengan Alana yang mendorong kursi roda milik Barra.
"Al, nanti kalo aku udah sembuh, liburan yuk?" Ajak Barra dengan semangat.
Alana menundukkan kepalanya beralih pandang pada lelaki yang sedang duduk di kursi roda.
"Ayo. Tapi kamu kapan cepet sembuhnya?"
"Makanya harus rajin makan dan minum obat biar cepet sembuh." Ujar Alana dengan lembut.
Barra menghela nafas gusar. "Lagi dan lagi, kamu bahas obat. Udah tahu obat itu pait, gak enak. Nanti juga aku sembuh kok. Tenang aja, aku kan cowok kuat." Ucap Barra seraya memperlihatkan otot lengannya di akhir kalimat.
Alana terkekeh mendengar itu. "Cowok kuat kok nangis waktu di suntik. Hahaha." Alana tertawa terbahak bahak ketika mengingat setiap momen lucu saat Barra hendak di suntik.
__ADS_1
Sungguh, sangat sangat menggemaskan melihat Barra seperti itu. Barra terlihat seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
"Ish! Kok jahat sih ngetawain aku."
"Kecil kecil gitu juga sakit tahu. Coba kamu rasain." Bela Barra dengan tangan yang bersedekap dada.
Alana tidak menjawab, gadis itu hanya terkekeh. Lalu Alana membawa Barra ke taman samping yang banyak bunga disana.
Barra tampak menggemaskan mengenakan piyama rumah sakit.
Alana duduk di kursi taman dengan Barra yang ada di depannya.
Barra sedari tadi tersenyum menatap Alana. Rambut bersurai panjang, mata yang indah, bibir yang mungil, hidung yang mancung. Sifat yang sangat sangat membuat Barra takjub akan Alana.
Wow, untuk Kyra dulu kecelakaan. Kalo nggak, gak mungkin gue nikah sama bidadari kek dia. Batin Barra ngawur.
*plak
plak
plak*
Barra menampar nampar pipinya untuk menyadarkan dirinya dari lamunan yang kurang ajar ini.
*Apasih lo?! Bahagia di atas kebahagiaan orang. Belum tentu Alana sembuh dari rasa sakit karena di tinggalin Ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
__ADS_1
Happy reading 💜