PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 57: KABAR BURUK


__ADS_3

Setelah berhasil menghentikan darah mengalir di kening Alana, Barra langsung menancapkan gas menuju rumah sakit. Pemuda itu benar benar khawatir pada Alana.


Sementara Alana tidak bisa berbuat apa apa, karena syok akan laju mobil yang sangat cepat.


Bahkan rasa takutnya melebihi rasa sakit di keningnya.


“Barra! Pelan pelan! Aku bisa mati karena takut, bukan karena kejedot!” Protes Alana dengan tangan yang berpegang erat pada pegangan mobil.


Barra mulai memelankan pedal gas nya, jika di pikir pikir Alana benar.


“Maaf, aku terlalu panik, Al.”


Alana langsung menoleh pada Barra. “Makanya kalo mau ngelakuin sesuatu tuh di pikir dulu dong! Gimana kalo jantung aku copot!” Alana langsung mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil.


Kini mereka sudah berada di jalan kota, bukan lagi jalan hutan seperti tadi. Jadi, Barra sedikit lega setidaknya disini ramai banyak orang yang berlalu lalang.


***


Kini matahari telah menyapa, menyinari bumi dengan cahaya yang paling terang.


Semalam Alana dan Barra tidak jadi ke rumah sakit. Karena Alana berontak, ia malu jika karena luka kecil harus di bawa ke rumah sakit. Alana tidak selemah itu ya.


Semua penghuni rumah kini sudah berada di ruang makan, mereka menyantap sarapan yang di buat kan oleh Agatha.


Obrolan ringan di pagi hari selalu menjadi bagian favorit bagi mereka, selalu saja ada cerita cerita kecil yang mampu membuat mereka semua tertawa.


Alana menyembunyikan lukanya dengan baik, ia menata rapih rapih poninya hingga perban yang ada di keningnya tertutup sempurna.


Tidak, hari ini tidak ada jadwal untuk pergi ke sekolah. Karena kasus kemarin belum usai di usut, jadi sebagian siswa yang tidak ada namanya dalam daftar diperbolehkan untuk meliburkan diri.


Seusai sarapan tadi, Damar dan Agatha seperti biasa menjalankan aktivitas di kantor masing masing.


Tapi, untuk anak anaknya—mereka malah memilih untuk rebahan di kamar masing masing dan tidak melakukan aktivitas apapun.


Huft! Rasa malas itu memang sudah menjadi sahabat paling dekat dengan raga kita.

__ADS_1


Barra sibuk dengan game onlinenya, Kyra sibuk menyimak gosip hangat di grup chat. Sedangkan Alana, gadis itu sibuk dengan alat perangnya yaitu alat melukis.


Rasa rindu yang menggebug di dalam hatinya, membuat ia menyibukkan diri agar tidak menangis dan memilih mengalihkan pikirannya.


Rindu pada seseorang yang sudah berbeda dimensi memang sangat menyakitkan.


Ayah, Alana baik baik aja disini. Bahkan Alana diperlakukan seperti anak sendiri oleh mereka. Ntahlah, Al, harus merasa beruntung atau tidak? Alana tak paham.


Gadis itu melukis pemandangan yang indah serta gambar seorang anak perempuan dan Ayahnya sedang bermain di halaman rumah.


Tiba tiba Alana melihat Barra yang berlari melewati kamarnya dengan raut wajah yang khawatir.


Karena penasaran apa yang terjadi, gadis itu menyusul.


“Barra, ada apa?” Tanya Alana dengan mencondongkan sedikit tubuh dan melihat ke bawah.


Barra menoleh ke atas ke arah Alana seraya memakai sepatunya dengan terburu buru.


“Virgan kecelakaan, sekarang dia di rawat di rumah sakit!” Ucap Barra yang tidak menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah Alana.


Barra bangkit dari posisinya, lalu memakai kajet dan menyambat kunci mobil yang ada di atas meja.


“Al, aku pergi!” Pamit Barra terburu buru.


Alana mengurungkan niatnya untuk ikut bersama Barra. Raut wajah Barra bisa menjelaskan semuanya.


Barra melajukan mobil dengan kecepatan dia atas rata rata. Pasalnya, Elang mengatakan bahwa pelaku melarikan diri begitu saja setelah menabrak Virgan.


Sepanjang perjalanan. Rasa khawatir dan amarah saling bertabrakan, tangannya mengerat dengan keras pada kemudi mobil.


“Haish sial!” Umpat Barra seraya memukul kemudi mobil.


Setelah beberapa saat dalam perjalan dan sudah memarkirkan mobilnya. Barra lari menuju ruangan yang sudah Elang katakan sebelumnya.


Badan Barra membeku sesaat. Saat melihat Virgan.

__ADS_1


Elang menyadari keberadaan Barra dan langsung menariknya keluar untuk berbicara. Sedangkan Gilang, pemuda itu diam tanpa kata seraya menatap sahabatnya yang terbaring tidak sadarkan diri di atas brankar.


Barra dan Elang mendaratkan bokongnya di kursi depan pintu ruangan Virgan. Elang bingung harus mengatakannya dari mana.


Sungguh, kejadian ini membuatnya sakit. Walaupun ia terlihat cuek dan tidak peduli, namun kesulitan sahabatnya adalah kesulitan paling menyakitkan baginya.


“Apa lo tahu plat mobil yang nabrak Virgan?!” Ujar Barra langsung pada intinya.


Barra tidak ingin tahu apa detail tragedi saat Virgan tertabrak, ia hanya ingin tahu siapa pelakunya.


“Lo gak boleh gegabah, Bar.”


“Ya, tapi apa lo mau diem aja kek gini sampe Virgan sadar. Gue gak bisa, Lang! Gue bakal cari pelakunya sendiri!”


Ahh sial! Keras kepala sekali dia!


Barra berdiri dari tempatnya dan bergegas menuju tempat yang ia tuju. Namun, tangan ditahan oleh Elang.


“B 1234 ac. Itu plat nomornya.” Ucap Elang.


Sebelumnya Elang telah menyelidikinya sendiri, ia berkeliling restoran dan toko sekitar jalan tempat kejadian dan melihat satu persatu cctv yang berada di tempat itu. Dan, ya, berhasil.


Barra membulatkan mata. Terkejut saat mendengar plat yang di sebutkan Elang.


Ntah kebetulan atau memang sengaja. Barra makin mengeratkan genggamannya, sungguh ia harus mencari si pelaku sampai dapat.


Tidak peduli apa yang terjadi.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Barra langsung melengos pergi meninggalkan Elang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf kalau aku udah bikin kalian kecewa, karena up lama. ☹


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE 💜

__ADS_1


__ADS_2