
Ketiganya masih sibuk menjapankan tugas masing masing. Mereka bekerja keras untuk menemukan pelaku.
Walaupun butuh waktu 1 minggu, 1 bulan, bahkan 1 tahun. Barra akan tetap mencari si pelaku.
Tring... Tring... Tring...
Terdengar suara dering ponsel yang berasal dari ponsel Barra.
Pemuda itu mengabaikan ponselnya. Karena Barra tidak tahu nomor siapa itu dan tidak peduli.
Tring... Tring... Tring...
Sekali lagi ponsel itu berdering. Barra menghela nafas nya gusar.
Akhirnya pemuda itu menggeserkan tombol hijau dan mengangkatnya.
“Hallo.”
“Barra! Aku baik baik aja. Kamu gak usah kesini dan kamu gak usah dengerin apa kata mereka!” Teriak Alana.
Seketika Barra beranjak dari tempat duduknya dan matanya membola.
Plak!
“AWW!” Pekik Alana.
“Lo dengerkan? Gue tunggu 1 jam dan gue tunggu lo disini. Lebih dari itu, gue gak bisa jamin keselamatan Alana.”
“Woi, Anj! Lepas—
Sambungan teleponnya mati begitu saja. Jantung Barra berdegup dengan kencang.
Panik. Sangat panik. Barra mengepalkan tangannya kuat.
Tiba tiba ada sebuah pesan masuk. Ternyata itu adalah Alamat yang di kirimkan oleh penculik Alana. Barra langsung bergegas pergi menuju alamat yang di berikan oleh si penculik.
Barra bisa menerka nerka orang yang menculik Alana. Dari suaranya ia sedikit mengenalinya.
Elang dan Gilang yang melihat raut wajah Barra yang aneh, langsung mengikuti lelaki itu. Karena khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Barra.
“Bar, lo kenapa?!” Tanya Gilang seraya mengejar Barra.
Namun tidak ada jawaban dari pemuda itu. Barra langsung menancap pedal mobil dan melajukan kencang mobilnya.
Gilang dan Elang mengikuti Barra di belakang, menggunakan mobil Elang.
Barra benar benar melajukan mobilnya kencang.
__ADS_1
Sungguh, hatinya terasa sakit saat mendengar ringisan Alana tadi.
Barra tidak akan mengampuni orang yang sudah menyakiti Alana. Dapat di pastikan, pelaku akan menyesal telah menyakiti wanitanya.
Tatapan Barra menyisir setiap sudut tempat yang ia datangi.
Tempat ini seperti bangunan setengah jadi yang sudah lama ditinggalkan. Gelap.
Namun, Barra melihat ada satu mobil yang terparkir disana dan ia pun melihat ada cahaya dari atas gedung itu.
Barra keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Alana.
Namun, saat melewati mobil di depannya. Barra semakin membulatkan matanya. Amarah nya kini makin memuncak. Barra menyambar satu tongkat kayu yang ada di depannya dan langsung berlari masuk ke dalam.
***
Sementara di rumah sakit. Kyra dan Virgan terkejut akan kabar yang mereka dapat.
Tadi ia sempat menelpon Barra. Dan mendapatkan kabar buruk.
Kyra menangis dan menyesal. Jika tadi dirinya memaksa untuk ikut bersama Alana keluar, pasti ini tidak akan terjadi.
“Ra, jangan nangis. Alana pasti baik baik aja ko.” Virgan mengusap ngusap punggung Kyra.
Gadis yang berada di sampingnya itu tidak mengangkat kepalanya sedari tadi. Kyra benar benar merasa bersalah.
Virgan berusaha mengangkat kepala Kyra. Ia tidak bisa melihat Kyra menangis seperti ini.
Virgan menatap lekat mata merah Kyra. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kedua ibu jarinya dengan lembut.
“Udah jangan nangis. Lo tahu kan, kalo Alana tuh bukan cewek yang lemah? Lo percaya kan dia bakal baik baik aja? Udah jangan nangis, ini bukan salah lo ko. Kan kita gak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa.” Tutur Virgan dengan hati hati.
“T–tapi, kan—
“Sstt!” Virgan menarik Kyra ke dalam pelukannya.
Kini tangisan Kyra mulai mereda. Kyra terus berdoa dalam hatinya agar Tuhan senantiasa menjaga keselamatan Alana dan pulang dengan keadaan baik baik saja.
Kyra belum memberitahu kedua orang tuanya, karena Barra melarangnya.
Kakak adik itu kompak, tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Apalagi mereka baru saja berangkat keluar kota untuk perjalanan bisnis.
***
Elang dan Gilang dengan cepat menyusul Barra. Apa yang membuat Barra mendatangi tempat kumuh seperti ini? Hal penting apa sampai pemuda itu rela mendatangi tempat yang sudah tak layak bahkan menyeramkan ini?
Elang dan Gilang sama sama membeku saat melihat mobil lain terparkir disana.
__ADS_1
Kedua pemuda itu saling menoleh dengan tatap yang tak bisa di artikan. Tanpa pikir panjang mereka berlari masuk kedalam.
Mereka melihat Barra bercakap dengan seorang laki laki disana. Terlihat mereka terlibat percakapan yang sangat amat serius.
Perlahan namun pasti, keduanya mendekat dan mendekat.
“Lang, Lang. Liat itu Alana di sandera!” Bisik Gilang.
Amarahnya semakin memuncak, saat Elang akan menghampiri Barra. Lengannya di tahan oleh Gilang.
“Lo jangan gegabah.”
“Pengecut lo! Kalo lo punya dendam ke gue, jangan pake Alana sebagai pancingan, setan!” Barra sudah naik pitam.
Pemuda itu menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
Namun, pria itu menatap Barra santai seraya memainkan sesuatu yang ada di tangannya.
“Ish! Jangan galak galak napa. kan gue cuma pengen main bareng lo." Ujar pemuda itu santai.
Rahang Barra mengeras. "Jangan banyak bacot lo! Lepasin Alana sekarang!" Ucap Barra dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Uuu... Sayang jangan galak galak dong. Kan masih ada aku disini." Ucap perempuan yang duduk di sana.
Pria lainnya mendekati Alana dan meremas rambut Alana hingga gadis itu mendongak ke atas.
"Sshh!" Ringis Alana. Rambutnya di jambak kuat. Gadis itu memasang wajah yang mengintimidasi lawannya.
Pria yang menjambak rambut Alana menyeringai seraya membelai pipi Alana serta mengusap lembut bibir mungil milik gadis itu.
Barra yang melihat itu langsung menghampiri Alana. Kini kesabarannya sudah habis.
"SATU LANGKAH LAGI LO MAJU. SENAPAN ITU GUE PASTIIN MENDARAT DI TEPAT DI JANTUNG ALANA!"
Barra menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Nafas nya memburu.
"MAKSUD LO NGELAKUIN INI SEMUA KE GUE APA, DION?! LO PUNYA DENDAM APA KE GUE HA?!"
"DAN, LO, VALLEN! LO CEWEK PALING GAK TAHU DIRI YANG PERNAH GUE TEMUIN!"
Teriak Barra membabi buta. Pemuda itu dapat melihat seseorang dengan senapan di tangannya, pria itu duduk mengamati di ujung sebelah kanan.
Barra frustrasi. Ia tidak bisa berfikir dan tidak bisa berbuat apa apa. Pikirannya di penuhi oleh Alana. Ia tidak ingin wanita kesayangannya terluka.
"Lo tanya gue salah lo apa? lo gak nyadar? GARA GARA LO GUE DI BUANG KE LUAR NEGERI! GUE DI ASINGKAN! LO GAK TAHU HIDUP SENDIRI TANPA KELUARGA TUH KEK GIMANA! MENYEDIHKAN! GUE NGERASA KEK ANAK YANG GAK DI ANGGAP!"
"DAN SEKARANG GUE HARUS NGERASAIN LAGI KEPAHITAN ITU GARA GARA LO, ANJING!"
__ADS_1