PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 61 : MASA LALU DION


__ADS_3

Dion kecil duduk di pojok samping lemari. Dion menangis tersedu ketika ia tahu dirinya akan di kirim keluar negeri.


Dion menguping percakapan ibu dan Ayahnya saat mereka tengah berada ruang kerja.


"Mau di taruh di mana mukaku? kalau mereka tahu Dion adalah anak kita?!" Bentak Ayah Dion yang terdengar jelas sampai kamarnya.


Dio kecil sangat banyak yang tidak menyukainya, karena kekurangan yang ia miliki. terlebih lagi Dion adalah anak tiri Ayahnya.


Dion menutup mulutnya rapat rapat agar tangisannya tidak di dengar oleh orang tuanya.


Pertengkaran kedua orang tuanya semakin memanas. Dimana Ibu Dion tidak setuju jika Dion di kirim keluar negeri dan Ayahnya tetap ngotot Dion harus pergi jauh dari dirinya.


Karena tangisan yang cukup lama, akhirnya Dion terlelap di tempatnya selama beberapa saat sebelum gebrakan pintu terdengar keras di indra pendengarannya.


Ibu Dion masuk kamarnya dengan raut wajah yang tidak bisa di deskripsikan. Ibu oangsung mengambio koper dan mengemasi barang barang dengan cepat.


Dion langsung menghampiri Ibu. "Bu, kenapa barang barang Dion di masukin? Apa Dion akan pergi?" Tanya Dion polos.


Ibunya menyingkirkan tangan Dion dari lengannya dengan kasar.


"Sudah Ibu bilang dari lama. Kalo belajar yang serius jangan bercanda, biar kamu pintar, biar kamu punya sesuatu untuk di banggakan. Jangan terus nakal seperti ini."


"Sekarang kamu harus belajar hidup mandiri, disana akan ada suster yang mengurus kamu. Ibu gak akan bawa kamu pulang dari sana sebelum kamu berhasil meraih peringkat pertama di sekolah dan jadi siswa yang berprestasi. Kalo kamu masih nakal, ibu tidak akan pernah menjemput kamu kesana." Ujar Ibunya seraya mengemas barang barang Dion.


Setelah mendengar itu, Dion langsung bersimpuh pada Ibunya.


"Ibu... maafin Dion. Dion janji akan belajar dengan serius. Dion janji gak akan nakal lagi. Biarkan Dion tinggal bersama Ibu. Dion mohon." Dion bersimpuh di kaki Ibunya.


Itu hanyalah alasan Ibunya agar Dion pergi ke luar negeri. ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mempertahanoan anak semata wayangnya ini.

__ADS_1


Selama tinggal di luar, Dion menjadi pribadi yang lebih nakal lagi. Karena ia merasa kalau dirinya telah di buang oleh ibunya.


Selama disana hidup Dion penuh dengan kesengsaraan. Dion mempunyai trauma yang cukup berat selama tinggal di negeri orang.


***


Barra frustrasi. Ia tidak bisa berfikir dan tidak bisa berbuat apa apa. Pikirannya di penuhi oleh Alana. Ia tidak ingin wanita kesayangannya terluka.


"Lo tanya gue salah lo apa? lo gak nyadar? GARA GARA LO GUE DI BUANG KE LUAR NEGERI! GUE DI ASINGKAN! LO GAK TAHU HIDUP SENDIRI TANPA KELUARGA TUH KEK GIMANA! MENYEDIHKAN! GUE NGERASA KEK ANAK YANG GAK DI ANGGAP!"


"DAN SEKARANG GUE HARUS NGERASAIN LAGI KEPAHITAN ITU GARA GARA LO, ANJING!"


Nafas Dion memburu, mengeluarkan semua kekesalan yang bersemayam di hatinya.


Tinggal menghitung jam menuju keberangkatannya ke luar negeri. Dion ingin menuntaskan dan membalas dendamnya pada si pembuat onar.


"Singkirin tangan lo yang kotor itu dari wajah gue!" Barra menepis tangan Vallen dengan kasar.


"Ish! Jangan galak galak dong." Rayu Vallen.


Sementara di sisi lain, Elang dan Gilang tampak sudah geram melihat perilaku mereka.


Tampaknya mereka sudah tidak bisa lagi diam dan hanya menonton. Gilang jalan mengendap ngendap menuju orang yang memegang sniper.


Gilang melakukan itu tanpa persetujuan Elang. Pemuda itu memegang erat tongkat kayu yang ada di genggamnya.


*Bugh


Bugh

__ADS_1


Bugh*


Gilang dengan brutal menendang dan memukul pria tersebut dengan keras.


Seketika Barra, Vallen, Alana dan Dion menoleh pada sumber suara.


"Lepasin Alana!" Ucap Gilang dengan suara lantang. Raut wajah Gilang benar benar terlihat sangat marah. Alisnya yang menaut dan tatapan matanya yang sangat tajam.


Gilang melingkarkan tangannya di leher si pemegang sniperdan mengunci tangan si sniper dengan tangan sebelahnya.


Pemegang sniper itu lemas tidak berdaya setelah mendapatkan beberapa pukulan di badan wajahnya.


Elang yang melihat kesempatan pun langsung berlari melepaskan tali yang menggulung di tangan dan kaki Alan secepat mungkin.


Elang langsung membawa Alana ke tempat yang lebih aman.


Barra terkejut ada melihat Gilang disana dan Pemuda menoleh pada tempat Alana di sekap, ternyata Alana sudah ada di tangan Elang.


Sekarang Barra mampu bernafas lega.


"Argh! Lo pengecut, Bar!" Umpat Dion Frustrasi.


Beberapa detik kemudian, pemuda itu mengeluarkan smirk dan tatapan yang tidak biasa.


Lalu meraih sesuatu yang ada di kantung jaketnya sebelah kanan.


Dion membawa pisau kecil yang tajam. "Argghhh!" Dion berlari ke arah Barra dengan posisi pisau yang siap menikam.


"BARRAAAA!"

__ADS_1


__ADS_2