PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 46 : HANGAT


__ADS_3

Alana masih diam, gadis itu pun tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan konyol yang di layangkan oleh Barra. Menurut Alana, Barra Terlalu freak menanyakan tentang perasaan istri terhadap orang lain, padahal orang yang bertanya itu adalah suaminya sendiri.


Barra masih diam menunggu jawaban dari Alana, namun gadis itu tetap diam dan terus memandangi langit indah yang di penuhi bintang.


"Kok, lo malah diem sih? Gak jawab pertanyaan gue." Tanya Barra frustrasi.


Alana tetap pada posisinya tidak bergerak sama sekali. Gadis itu hanya mengerutkan keningnya, ketika mendengar pertanyaan yang aneh selanjutnya.


"WOODY, coba kamu kasih tahu sama cowok di sebelah ku ini, kalo nanya tuh yang jelas jelas aja, jangan pertanyaan aneh yang bahkan tidak di jawab pun sudah jelas jawabannya apa." Ujar Alana pada bintangnya.


Barra tentu saja mengerutkan alisnya tidak mengerti apa yang di maksud Alana barusan. Makanya pemuda itu bertanya berarti tidak tahu jawabannya, bagaimana bisa mengetahui jawaban tanpa di jawab terlebih dahulu oleh si pemilik pertanyaan itu.


" Maksud lo apa?" Tanya Barra bingung.


Alana mengenal nafas nya gusar, lalu membalikkan posisi duduknya ke samping untuk berhadapan dengan Barra.


"Nih ya dengerin baik baik."


"Kamu itu harus nya udah tahu jawaban dari pertanyaan kamu sendiri. Kamu aneh nanya tentang perasaan ke cewek yang udah jadi istri kamu. Masa iya aku suka cowok lain, orang suami aku sekarang lagi ada di depan aku." Ucapan Alana itu berhasil membungkam Barra. Seketika senyuman tipis terukir di bibir Barra.


"Kamu bisa gak ngomongnya jangan lo-gue lagi, tapi aku-kamu gitu. Soalnya tiap kali aku ngobrol sama Elang, aku selalu berharap kalo kamu bisa selembut dia ngomong sama akunya. Bukan maksud aku banding bandingin ya, tapi itu adalah sejumput harapan aku. Hehehe."


Barra dapat melihat mata Alana yang memancarkan penuh permohonan. Sangat terlihat jelas.


Memang benar Alana sangat mengharapkan sosok yang lembut terhadapnya, namun ia tidak akan pernah mengharapkan sosok itu dari orang lain selain Barra.


"Aku kangen Ayah..." Lirih Alana yang kembali pada posisi dan menatap kembali woody yang berada di atas sana.


"Ayah selalu kasih aku wejangan kalau aku lagi sedih atau lagi punya masalah. Sekarang aku hanya bisa ingat wejangan ayah dulu, tanpa ada 1 wejangan baru yang Ayah beri."


Barra menatap Alana tidak tega, ia dapat melihat dan merasakan rasa lelah yang Alana rasakan. Barra pun tahu dan ingat detail, ketika Alana pindah ke kota dan tinggal bersamanya. Hidup Alana sudah tidak mudah lagi, pasti ada masalah yang terus berdatangan pada Alana.


Barra menghela nafas pelan dan kemudian menatap Alana dengan lekat.


"Mulai sekarang kamu boleh anggap aku sebagai ayah, sahabat, teman, dan suami. Dan, maaf kalo aku belum bisa jadi pengganti ayah kamu." Ujar Barra. Pemuda itu pun bingung, berasal dari mana kata kata itu datang.


Alana menoleh pada Barra. "Kamu ngelakuin itu sebagai dasar tanggung jawab sama Ayah atau emang bener dari hati kamu?" Alana bertanya seperti itu karena ia tidak mau kalau Barra hanya menganggap nya sebagai perempuan yang harus ia jaga bukan perempuan yang harus ia sayangi.

__ADS_1


"Bukan, kali ini bener dari hati aku." 1 kalimat yang sangat di harapkan oleh Alana. 1 kalimat yang sangat berarti bagi dirinya.


Barra melihat genangan air di pelupuk mata Alana. Pemuda itu dengan perlahan menarik Alana masuk ke dalam dekapannya.


Antara senang mendengar kalimat yang di ucapkan Barra atau tentang hati yang sangat merindukan sang Ayah. Entahlah, gadis itu pun tidak tahu apa penyebab air matanya jatuh secara tiba tiba. Yang pasti sekarang Alana merasakan hatinya sangat tenang walaupun ada sedikit goresan di sana.


Pelukkan itu berlangsung beberapa saat, tanpa ada yang berbicara. Keduanya menikmati Pelukkan yang menghangatkan jiwa dan raganya.


"Kamu belum mandi ya? Ko bau si?!" Ujar Barra seraya menutup hidungnya.


Dengan cepat Alana melepaskan pelukannya dan memukul manja lengan Barra. "Iya belum mandi emang kenapa?! Aku gak bau ya enak aja." Ujar Alana Ketus seraya menyingkirkan tangan Barra dari hidungnya.


Barra terkekeh melihat tingkah itu, hidung merah dan pipi merah membuat Alana makin menggemaskan.


"Dah awas ahh, aku mau mandi!" Ketus Alana. Gadis itu langsung pergi beranjak dari gazeboo, meninggalkan Barra yang masih terkekeh melihat tingkah nya.


Barra terus melihat punggung Alana hingga punggung itu sampai tidak terlihat oleh netranya.


Maaf, Al. Karena keegoisan gue dan gengsi gue yang tinggi buat lo kesepian. Mulai sekarang gue gak akan biarin lo kesepian lagi,Al.


...📍📍📍📍📍📍📍📍...


Masii pagi sekali Alana sudah memasak sarapan untuk Kyra dan Barra. Karena sekarang jadwal mbak libur, dengan senang hati Alana menggantikan mbak di rumah.


Setelah selesai masak dan menaruh makanan di meja makan, Alana bergegas membangunkan Barra dan Kyra yang masih terlelap. Waktu masih menunjukkan jam 6 pagi, namun Alana bersikeras untuk kedua adik kakak itu untuk bangun, mengawali pagi yang cerah ini dengan semangat.


Terlebih dahulu Alana pergi ke kamar Kyra yang tepat di sebelah kamarnya.


"Kyra... Ayok bangun. Kita sarapan yuk, abis itu olahraga bareng." Alana menggoyangkan badan Kyra, agar gadis itu terbangun dan membuka matanya dengan paksa.


"Ha... masih jam 6 kak, Kyra masih ngantuk banget ini." Ujar Kyra dengan setengah sadar.


"Ish, ayok. Kemarin kan janji mau olahraga bareng." dengan terpaksa Kyra bangun saat mendengar Alana mengucapkan janji yang ia buat sendiri.


"Iya... Iya... Aku mandi dulu, abis tu aku ke bawah." Kyra beranjak ke kamar mandi dengan nyawa yang belum terkumpul dan mata yang masih enggan untuk terbuka.


"Ya udah, kalo gitu kakak bangunin dulu Barra ya. Cepet ya mandi nya, kakak udah laper ini." Ujar Alana. Lalu gadis itu pergi menuju kamar Barra.

__ADS_1


Alana langsung membuka pintu kamar Barra, karena pintunya tidak di kunci.


"Barra... Bangun..." Alana menggoyangkan badan Barra dengan cukup kencang. Karena pemuda itu kalau sudah tidur seperti orang pingsan, susah sekali untuk bangun.


Barra masih belum bergerak sedikit pun, Alana kembali menggoyangkan Barra dan berkata dengan nada yang cukup kencang.


Barra akhirnya menggeliat dan tanpa sadar Barra menarik lengan Alana hingga terbaring di sampingnya, kemudian Barra memeluk Alana seperti guling.


"Barra! lepasin!" Alana memberontak dengan cukup keras.


"Sebentar aja, tetap di posisi ini." Ujar Barra, dengan mata yang masih tertutup.


Alana akhirnya menurut, gadis itu diam di dalam pelukan Barra. Tidak bisa di pungkiri, pelukan Barra begitu hangat dan menenangkan.


Sesi pelukan itu berlangsung cukup lama, Barra tidak kunjung melepaskan pelukannya.


Tiba tiba seseorang masuk ke dalam kamar Barra mengendap ngendap dan langsung loncat ke kasur nyempil masuk ka antara Barra dan Alana.


"Heh! Kebiasaan banget sii aku gak di ajak, jahat!"


Barra dan Alana terkejut ada Kyra disini.


"Ahh ganggu banget sii lu!" Ketus Barra.


Alana terkekeh dan langsung beranjak dari tempat tidur Barra. "Ayok ahh bangun sekarang, keburu makanannya dingin, ntar gak enak."


Alana langsung menarik Barra untuk ke kamar mandi di bantu oleh Kyra.


"Kebo banget sii tidurnya, ampun deh!" Ujar Kyra.


Kini ketiganya sudah berada di meja makan, menyantap masakan Alana. Suasana di meja makan terasa hangat, apalagi di tambah cahaya matahari yang menyorot dari jendela.


Kyra sedari tadi tidak berhenti mengoceh perihal kejadian yang di alami oleh Alana di sekolah dan rencana yang menurutnya keren. Alana tidak sabar untuk memaki Vallen karena sudah mencelakai kakak kesayangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE

__ADS_1



__ADS_2