
Tanpa di sadari gadis itu telah menabrak dada bidang seseorang di depannya. Lelaki itu langsung menarik Alana untuk bersembunyi di dalam ruangan kosong dan lelaki itu berdiri santai di depan pintu ruangan yang ada Alana di dalamnya.
"Lo liat cewek lari kesini gak, bro?"
"Tuh, dia lari kesana." lelaki itu menunjukan arah dengan dagunya seraya bermain ponsel dengan santai nya.
Setelah para osis itu menghilang dari pandangannya lelaki itu menyuruh Alana untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
"Al, udah aman. Lo boleh keluar sekarang." Ujar Virgan. Ya, lelaki yang menyelamatkan Alana adalah Virgan. Karena Virgan kebetulan sedang di suruh oleh Guru olahraga untuk meminjam raket pada osis yang berada di Aula.
Alana perlahan berjalan keluar, mengendap ngendap memastikan situasi benar benar aman. Setelah di rasa aman, Alana lalu keluar mendekat pada Virgan.
Sebenarnya lelaki itu penasaran apa yang terjadi pada Alana, namun ia urungkan untuk bertanya, karena ia sedang buru buru untuk mengambil raket yang di perintah guru tadi.
"Al, gue duluan ya, buru buru nih."
"Ahh, iyaa... Makasih ya, Virgan." Virga hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Alana.
Alana terdiam di tempat dengan detak jantung yang masih berpacu kencang. Alana baru percaya apa yang di bicarakan Anggi waktu itu, bahwa sekolah bergengsi ini yang isinya anak anak orang kaya ternyata tidak sebagus dan seramah yang di kira.
Alana berjalan menuju kelas, karena mustahil jika harus kembali ke Aula. Gadis itu begitu lelah, Alana menengok jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu istirahat tinggal 5 menit lagi.
Di sisi lain Barra seperti terlihat khawatir, gelisah, gundah, gulana. pemuda itu tidak bisa fokus belajar saat mendengar bahwa Alana dispen untuk membantu osis.
Barra merasa hatinya tidak tenang, bayangan Alana terus menerus berputar di pikirannya.
"Pak, saya izin ke toilet." Ujar Barra seraya mengangkat tangan kanannya. Guru yang berada di depan mengangguk kan kepalanya, kebetulan pelajaran hari ini gurunya di ganti dengan guru magang.
Setelah di perbolehkan, Barra langsung pergi meninggalkan kelas dan mencari Alana. Pemuda itu yakin mereka pasti ada di Aula, begitu pun dengan Alana.
Barra berjalan sedikit cepat, karena rasa khawatirnya tidak mau berkurang sedikit pun.
Saat melewati kantin Barra merasa lega ternyata Alana sedang makan di sana. Barra menghampiri Alana, tanpa di sadari senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Gimana dispen lo?" Ujar Barra dari belakang membuat gadis itu sedikit terkejut dan menengok ke sumber suara.
"Lancar lancar aja. Sini duduk." Ajak Alana dengan menepuk nepuk kursi kosong sebelahnya.
Barra lalu duduk di sebelah Alana. "Cape gak?" Tanya Barra.
"Cape sih cape, kan Alana gadis yang kuat. Jadi capenya gak terasa heheh." Ujar Alana dengan semringah, lalu menyuapkan 1 sendok bakso ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Entah kenapa, setiap Alana tersenyum seperti itu, Barra seperti melihat goresan luka di matanya, seperti ada yang gadis itu sembunyikan darinya.
...ππππππππππ...
"Alana, boleh minta tolong gak?" Ujar Tirisha yang terlihat panik. Tentu saja Alana heran, tumben sekali Tirisha meminta tolong padanya. Gadis itu kan gengnya Vallen.
Alana tidak menjawab, ia masih diam. "Plisss, Al... Gue gak tega liat kucing kecil berdarah di gudang, tadi gue liat dia kejepit tapi gue gak tau cara obatinnya, gue alergi darah." mohon Tirisha, agar Alana percaya padanya.
Jika bersangkutan dengan hewan apalagi kucing, Alana tidak akan pikir panjang untuk menolongnya." Kalo gitu ayo cepet. "
Keduanya kini berjalan cepat menuju gudang, tanpa di sadari ada seseorang yang mengikuti nya di belakang.
Tirisha menyeringai, karena berhasil membawa Alana ke tempat yang di perintahkan padanya.
"Ayok cepet, Al, keburu kucingnya mati." kini keduanya lari kepanikkan, lebih tepatnya Alana yang panik.
Tanpa pikir panjang dan mengecek situasi Alana langsung masuk ke dalam gudang tersebut. Tapi setelah di cari cari tidak ada kucing disana, suaranya pun tidak ada.
" Tirisha, kucingnya manaβ
Perkataan Alana terpotong saat melihat Vallen dan Dion di belakangnya dan beberapa orang yang mengepungnya.
" Ohh ini ya upik abu yang sok jagoan itu! " ledek Vallen.
"wiiii bener bener songong ni anak." Ujar Doni.
Suasana di dalam gudang terasa mencekam bagi Alana, apalagi pintu gudang yang sudah di tutup rapat. Alana berusaha bersikap tenang, jika dia terlihat seperti terintimidasi, lawan akan merasa menang.
Seseorang yang mengikuti Alana tadi, dia berlari meninggalkan gudang.
Lebih dari 10 orang yang mengepung Alana di gudang ini. Jika di pikir kalau dia melawan semuanya, Alana bakal kalah telak.
Vallen dan Doni terus melayangkan celaan dan ejekan pada Alana, Alana mencari celah untuk kabur dari sini. Namun tidak ada celah sedikit pun.
"Kenapa? Lo takut ha?" Ujar Dion seraya tertawa.
Perlahan mereka mendekat pada Alana, gadis itu tetap dengan sikapnya yang tenang dan siaga.
*Bugh
Bugh*
__ADS_1
2 pukulan berhasil di tangkis oleh Alana dan Ia membalas lawan hingga tersungkur. "KALO EMANG BENER KALIAN BUKAN PENGECUT SINI MAJU SATU SATU. KALIAN BUKAN LAGI LELAKI, JIKA MENYERANG SATU WANITA BERSAMAAN!!!" Teriak lantang Alana pada Osis yang tadi pagi mengejarnya.
"Nantang banget tuh cewek." Ujar Dion. Dengan gerakan cepat, pemuda itu menyerang Alana.
BRAK!
Seseorang menendang pintu gudang dengan keras dan langsung menendang punggung Dion dengan sekali tendangan yang mampu membuat Dion terpental dan tersungkur ke tanah.
Semua orang yang berada di sana terkejut akan kedatangan Barra.
*Bugh
Bugh
Bugh*
Tanpa pikir panjang Barra memukuli Dion hingga babak belur. Tidak ada perlawanan dari Dion, karena pemuda yang menyerangnya itu terlalu kuat dan matanya sangat terlihat bahwa emosinya sudah memuncak tak tertahan kan.
Barra puas menghajar Dion hingga pemuda itu sudah tidak berdaya. Barra berdiri dan membalikkan badannya menatap para lelaki yang tadi akan mengeroyok Alana.
Alana tentunya terkejut melihat kemampuan berkelahi Barra yang begitu luar biasa. Bukannya ketakutan, Alana justru senang melihat Barra berduel. Pemuda itu sangat terlihat cool dengan keringat yang membasahi pelipis, rambut yang tidak beraturan dan seragam Barra yang kancing atas nya terbuka 2. Alana sangat sangat terpesona.
"Maju lo semua!!!" Ujar Barra dengan tegas namun santai.
Barra menatap satu per satu orang yang ada disana dan sudah beberapa waktu tidak ada juga yang berani maju, mereka hanya diam di tempat dengan kepala yang menunduk.
Karena kesabarannya sudah habis, Barra berjalan mendekat pada 10 orang yang ada di depannya, termasuk Vallen.
*Bugh
Bugh
Bugh*
Barra menonjok wajah satu per satu osis yang sudah kasar pada Alana. Dan yang terakhir Vallen, pemuda itu memandang Vallen dengan tajam, seperti pandangan yang menusuk masuk ke dalam kornea.
"Untung lo cewek, kalo nggak lo habis!" Ujar Barra tepat di telinga Vallen.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO
__ADS_1