
Mata Alana membulat, tidak mungkin itu Kyra, Kyra tidak berani memegang kepala orang yang lebih tua dari nya. Dengan cepat Alana mengangkat tubuhnya, seketika ia terperanjat melihat Barra yang duduk di hadapannya.
"Ba—Barra, kamu ngapain disini? Sana keluar dari kamar aku." Ujar Alana Ketus.
Barra malah tersenyum melihat Alana yang terkejut. "Yakin nih ngusir? Gak akan jadi ke mall?" Ujar Barra.
Ekspresi Alana seketika berubah menjadi bahagia. "Jadi dong." Ujar Alana antusias.
"Ya udah cepet ganti baju." Setelah berkata seperti itu Barra langsung keluar dari kamar Alana dan menunggu nya di lantai bawah.
Sebelumnya Barra sudah menyogok Kyra dengan 10 batang coklat, agar tidak ikut ke mall bersama. Karena Barra hanya ingin jalan berdua dengan Alana. Dan, dengan cepat gadis itu mengiyakan perkataan Barra tanpa menolak sekali pun. Jika Kyra sudah berurusan dengan coklat, tanpa pikir panjang gadis itu pasti akan cepat luluh.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Alana selesai juga dandan. Seperti biasa, tampilan Alana sederhana dengan riasan yang tipis dan lipstik yang warna tidak mencolok. Namun tetap terlihat cantik dan elegan.
Tanpa berlama lama dan langit pun sudah berubah warna menjadi warna jingga, keduanya langsung berjalan menuju lokasi yang di tentukan oleh Barra. Alana belum tahu pasti tentang kota Jakarta, jadi ia hanya menuruti perkataan Barra saja.
Selama perjalanan Barra hanya fokus menyetir dan Alana fokus membaca novel kegemarannya. Selang beberapa waktu, Alana menyadari bahwa ada yang kurang, namun tidak tahu apa.
Alana berpikir sejenak dan menoleh ke seluruh isi mobil dan baru sadar ternyata Kyra tidak ada di dalam mobil.
"Barra, ko Kyra gak ikut si?" Tanya Alana.
"Ngga, katanya ada tugas yang belum selesai." Bohong Barra.
"Ohh" Alana ber-oh-ria dan melanjutkan membaca novel.
Setelah 15 menit, akhirnya sampai di mall yang mereka tuju. Alana lalu menyimpan novel nya dan dengan antusias gadis itu turun dari mobil.
"Barra, ayo cepet" Alana sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke timezone, karena itu adalah keinginan yang sudah sejak lama. Di mana di dalam sana sangat di penuhi berbagai macam permainan yang seru, apalagi ini kali pertama untuk Alana.
Setelah Barra turun, dengan cepat Alana menggandeng tangan Barra dan menariknya untuk berjalan lebih cepat lagi.
"Al, sabar dong."
__ADS_1
"Gak bisa sabar, aku udah gak sabar, ayok cepet jangan lama jalannya."
"Emang tahu time zone nya di mana?" Setelah mendengar pertanyaan itu, Alana menghentikan langkahnya dan menoleh pada Barra yang sedari tadi pasrah oleh perlakuan Alana.
"Nggak, hehehe" Alana menggelengkan kepalanya dan terkekeh malu.
"Makanya sabar dong, nanti juga nyampe ke tempatnya."
Kini keduanya jalan dengan santai, Alana akhirnya mengalah karena memang benar ia tidak tahu di lantai berapa timezone itu berada.
Dengan perasaan yang gundah dan kesabaran yang mulai habis, Alana terpaksa mengikuti perintah Barra yang ingin makan, karena perutnya sudah keroncongan.
Barra membawa Alana ke restoran terlebih dahulu, pemuda itu terkekeh saat melihat muka dongkol Alana. Sangat terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa gadis itu sudah sangat sangat tidak sabar untuk ke timezone.
Barra langsung memesan makanan dan minuman saat sudah masuk ke dalam restoran dan kembali ke meja yang terdapat Alana disana. Alana terlihat memain mainkan sebuah menu yang ada di meja tersebut.
Barra berjalan menghampiri Alana. "Bete banget mukanya." Ujar Barra seraya mendarat kan bokongnya di kursi berwarna hitam itu.
" Yhaaa marah." Ujar Barra dengan nada yang meledek.
"Nggak! Aku gak marah. Liat masih cantik kan?" Tanya Alana yang tetap mempertahankan wajahnya yang di tekuk dan terlihat menggemaskan oleh Barra.
Barra terkekeh melihat Alana seperti itu,, bisa bisanya masih memuji diri sendiri dalam keadaan mood tidak bagus.
Tidak lama makanan yang di pesan Barra pun datang, mata Barra seketika berbinar binar dan kembali perut nya berbunyi. Setelah pelayan itu pergi, Barra mulai menyantap makanan nya. Namun Alana tetap pada posisi dan ekspresi yang sama.
Barra tiba tiba tersenyum licik setelah menemukan ide yang terlintas di kepalanya.
"Ish... Mie disini emang the Best banget si parah." Ujar Barra seraya menyeruput mie nya. Barra melirik Alana dari ujung matanya, namun Alana tetap diam dan menatap ke samping.
Barra lalu meniup kan aroma mie itu ke arah Alana, berharap kali ini berhasil. Barra meniup mie itu 3 kali, namun bukannya Alana yang merespon malah perut Alana duluan yang merespon. Perut Alana terdengar jelas mengeluarkan suara suara demo dari cacing cacing yang berada dalam perut gadis itu.
Alana langsung memegang perutnya dan sedikit menekan agar suara itu berhenti berbunyi, pipi Alana merona karena malu.
__ADS_1
Spontan Barra tergelak tawa mendengar hal itu. " Makan aja, kasian tuh cacing nya pada demo."
Akhirnya Alana memalingkan pandangan pada Barra dan mie yang ada di hadapannya. "Ya udah kalo maksa" Balas Alana singkat.
Gadis itu memasukkan 1 sendok mie ke dalam mulutnya dan beberapa saat merasakan mie nya yang lumer di dalam mulut. Seketika Alana membulatkan matanya, rasa mie ini sangat lezat , baru pertama kali ia merasakan sensasi yang berbeda saat menyantap mie.
"Eeeenaaaakkkk" Ujar Alana kegirangan seraya menutup matanya. Alana mendengar kekehan pemuda di depannya. Gadis itu spontan mengubah kembali ekspresinya ke semula. "Enak!" Ujar Alana sekali lagi, namun dengan nada yang berbeda, nada yang datar dan ekspresi yang datar pula.
Lucu banget si! Batin Barra seraya terkekeh.
Setelah beberapa menit, akhirnya makanan pun habis dan Barra langsung ke kasir untuk membayar pesanannya.
Barra tidak duduk lama atau ngobrol terlebih dahulu. Karena pandangan Alana sedari tadi tidak lepas dari timezone yang ada di serang sana. Pemuda itu tidak tega melihat tatapan memelas Alana saat mengajaknya bergegas untuk pergi ke timezone.
Keduanya kini beranjak keluar dari restoran itu. Dan, Barra terjut akan perubahan ekspresi Alana yang berubah secara drastis.
"Cepet banget ekspresi nya berubah." Ujar Barra.
"Iya dong, kan sekarang mau ke timezone. Ayok." Ujar Alana dengan penuh semangat.
Barra hanya tersenyum melihat Alana seantusias itu. Selama ini pemuda itu tidak pernah melihat Alana sebahagia ini, walaupun Alana tidak pernah menampakkan kesedihan nya, namun Barra mampu melihat kesedihan itu walau hanya dari mata Alana.
Kini keduanya jalan menuju timezone dengan tangan yang saling menggenggam dan di goyang goyangan oleh Alana. Barra sangat terlihat seperti sedang menuntun anak kecil yang senang akan di belikan mainan oleh Ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan di serang karena di gantung lagi :(
Boleh kali minta vote atau bunga atau kopi gitu 🤭
HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE
__ADS_1