PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 63: SADAR


__ADS_3

Matahari semakin menampakkan dirinya. Pagi yang indah kini akan segera di mulai.


Namun, dua gadis cantik ini masih terlelap di tepi brankar dengan bertumpu pada lengannya.


Di rungan Barra sudah terdapat sahabat sahabat yang menjenguknya. Mereka diam dan hanya berbisik agar tidak membangunkan Alana dan Kyra.


Ketiganya kini hanya sibuk memainkan ponsel yang ada di genggamannya. Entah apa yang merek mainkan, namun terlihat mereka menikmatinya.


"AISH SETAN!" Umpat keras Gilang yang seketika membuat penghuni ruangan itu terkejut secara bersamaan.


Dug!


Virgan melemparkan bantal sofa tepat di wajah Gilang.


"Berisik ego!" Bisik Virgan.


Alana dan Kyra pun seketika terbangun daei tidurnya karena suara bising di telinganya.


Mata keduanya masih setengah terbuka dan keduanya menoleh ke kanan ke kiri untuk memastikan keadaannya aman.


Barra yang sebelumnya sedang asik bermain ponsel juga, tiba tiba ia berbaring dan menutup matanya rapat rapat.


"Ahh, ada suara berisik apa ini? ganggu aja." Cibir Kyra. Kyra kemudian melanjutkan tidurnya kembali.


Alana menoleh pada Barra, gadis itu mengeluarkan senyuman kecil setelah melihat wajah tampan suaminya.


"Kamu masih tidur ternyata. Ya udah aku juga ikutan tidur lagi aja deh. Nanti kita bangun sama sama ya." Ujar Alana setengah sadar.

__ADS_1


Baru kali ini ia merasa sangat mengantuk dan tidak bisa membuka matanya. Rasanya seperti ada lem di matanya.


Alana kemudian menutup kembali matanya dan bersiap untuk melanjutkan mimpi sebelumnya.


Ketiga lelaki yang menyaksikan kejadian gemas tersebut, mereka kompak terkekeh secara bersamaan.


Raut wajah dua gadis itu sangat menggemaskan.


Ketiganya langsung terdiam ketika mendapatkan pelototan dari Barra.


Tiba tiba pintu ruangan terbuka dan terdapat Damar dan Agatha disana. Raut wajah Agatha terlihat cemas, beliau langsung menghampiri Barra.


"Barra." Panggil Agatha dengan lembut.


Mendengar suara tidak asing itu, kedua gadis tadi langsung membuka matanya. Dan, benar saja itu adalah Mama.


"Kyra kangen banget sama, Mama." Kyra memeluk Agatha dengan erat.


Agatha tersenyum seraya mengusap ngusap puncak kepala Kyra. "Mama juga kangen sama Kyra." Keduanya berpelukkan dengan erat.


"Ma, Abang baik baik aja kok. Jangan khawatir ya."


Kyra melepaskan pelukkannya, kini giliran Alana yang memeluk Agatha.


"Ma, maafin Alana ya. Gara gara Alana, Barra jadi terluka seperti ini." Ujar Kyra yang merasa bersalah atas Barra.


Sementara orang sakit, sedari tadi memelek melekkan matanya dan berpura pura tidak sadarkan di brankarnya. Mereka belum ngeuh kalau Barra sudah sadar. Barra memang jago berakting.

__ADS_1


"Ini bukan salah kamu kok. Ini memang sudah jadi takdir, jadi gak usah nyalahin diri kamu sendiri ya. Barra, pasti baik baik aja kok."


Damar yang menyaksikan interaksi mereka, hatinya seketika menghangat. Sungguh tenang rasanya melihat mereka seperti ini.


Kyra tersenyum dan menoleh pada Barra. Ia melihat mata Barra yang tidak berhenti bergerak. Kyra menatap curiga pada Barra.


Hah? Abang udah sadar? Batin Kyra.


Barra tidak sadar bahwa dirinya tengah di perhatikan oleh seseorang. Kyra mendekat perlahan lahan, terus menelisik Barra.


plak!


Kyra memukuk lengan Barra. "Woi, kalo udah sadar ya sadar aja. Gak usah berakting kau."


Barra seketika terkejut dan yang lainnya pun sama ikut terkejut. "Ish! apaan sih lo." Ucap Barra sewot.


Alana langsung menoleh ke arah Barra dan ia menghambur masuk ke dalam pelukkan pemuda itu.


"Aaa, akhirnya kamu sadar juga." Ujar Alana senang.


Barra membalas pelukkan Alana dan mengusap ngusap punggung Alana.


"Hehe, maafin ya udah bikin kamu khawatir." Ucap Barra lembut."


"Huwek! Gak usah sok romantis gitu. Geli dengernya." Cibir Kyra.


"Huh! Iri aja jomblo." Seketika orang orang yang berada di dalam ruangan itu terkekeh melihat interaksi kakak adik yang lucu itu.

__ADS_1


__ADS_2